Menghidupkan Malam Ramadan di Masjid saat Covid-19

Oleh Wari Syadeli

Seruan tarawih di rumah jangan dimaknai terhentinya aktivitas malam Ramadan di masjid. Suara mengaji teruskan saja, tinggal diatur agar tidak terjadi “kerumunan berjarak dekat.” Misalnya hanya satu orang, berdua atau bertiga di dalam masjid menggunakan protokol Covid-19.

Benar bahwa kegiatan keagamaan dibatasi dalam aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dibatasi bukan berarti dilarang. Dibatasi maknanya diatur agar tidak terjadi potensi penularan. Diatur artinya menerapkan protokol Covid-19. Kalaupun terpaksa salat tarawih ditiadakan bukan berarti terhentinya aktivitas. Segera lakukan pengetesan pada petugas masjid baik rapid test atau PCR Test secara berkala. Kalau mereka masih sehat, berikan tugas pada mereka tetap memakmurkan masjid.

Kegiatan memakmurkan masjid seperti azan, salat berjamaah juga tadarus yang bahasa serangnya disebut “memikran” jangan dihentikan. Teruskan saja yang penting pintu masjid tertutup sehingga menutup akses orang lain untuk berkerumun. Bagi orang yang ada di dalam masjid gunakan protokol Covid-19 dengan jumlah orang terbatas. Lantai dan media yang dipakai aktivitas “memikran” langsung dipel.

Dalam menghadapi masalah, kita perlu melihat objek masalahnya lebih detail agar strategi penyelesaiannya tepat sasaran. Jangan digeneralisir seolah semua tempat diperlakukan sama sehingga syiar Ramadan redup. Perlu pendekatan manajemen krisis yang tepat. Semoga tidak terjadi penghentian aktivitas masjid yang membabi buta tetapi proporsional dan bijaksana juga tetap menjaga syiar Ramadan.

Pengurus DKM yang tetap melakukan kegiatan memakmurkan masjid dengan melakukan pinsip- prinsip protokol Covid-19 yakni physical distancing, cuci tangan, memakai masker serta pengecekan suhu saat masuk masjid. Mereka itu jangan lantas dituduh melawan pemerintah. Bisa jadi daerahnya masih steril belum ditemukan kasus, kalaupun ada maka pemakmuran masjid dilakukan oleh petugas masjid yang dalam kondisi sehat.

Penguatan aktivitas masjid harus didorong untuk ditingkatkan skalanya ke arah kesalehan sosial. Masjid sebagai “crisis center” skala lokal berfungsi mendeteksi dan menjadi solusi bagi masyarakat lemah dengan daya beli rendah karena tak berpenghasilan disebabkan tertutupnya sumber penghasilan untuk mendapatkan beras gratis.

Gerakan amal umat dalam bentuk simpan beras di masjid untuk warga yang tak mampu adalah bentuk nyata peran masyarakat dalam membantu pemerintah. Menjadikan masjid basis logistik, di mana orang kaya menyumbangkan berasnya di masjid diperkuat narasi agama tentang “amal soleh dalam bentuk kepedulian sosial” baik dalam bentuk video, pesan berantai, kisah inspiratif insya Allah akan menyadarkan mereka. Ini adalah rahmat bagi umat Islam karena akan lahir orang hebat kaum “anshar” pasca corona. Budaya saling berbagi menjadi kekuatan sipil bentuk “bela negara” yang konkret bukan lipsing semata.

Setelah dihadapkan ancaman kesehatan, sosial, ekonomi ada ancaman serius yang harus siap dihadapi pemerintah dan masyarakat yakni “disabilitas mental.” Meningkatnya kegelisahan memicu stres, gangguan pencernaan dan depresi massal. Memang menakutkan. Namun jawaban masalah itu bagi kita umat Islam dapat teratasi lewat masjid dan hadirnya Ramadan. Syiar Ramadan untuk penguatan mental dan menjadikan masjid sebagai klinik mental umat dapat dilakukan melalui petugas masjid yang berkepribadian tinggi, berjiwa besar dapat menjadi saluran komunikasi atas beban yang mereka hadapi, meskipun tidak menyelesaikan pokok persoalannya disebabkan keterbatasan sumber daya. Ini menjadi alat deteksi dini, dan melalui pendekatan spiritual lewat lantunan ayat Alquran dapat mengurangi halusinasi warga yang mengalami depresi massal. Artinya OPD terkait yakni dinas sosial, dinas kesehatan, dinas perdagangan, diskominfo, camat, lurah bisa menjadikan masjid sebagai mitra gugus tugas penanganan Covid19.

Masjid bisa berkontribusi dalam menangani wabah Covid-19 bila kita mau menjadikannya pusat ibadah, pusat ekonomi, dan pusat kesalehan sosial Musibah corona menyadarkan kita untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat kendali persoalan umat (ipolesosbudhankam). Wallahua’lam bisshawab. (*)

Penulis adalah Anggota Gugus Covid-19 MUI Banten dan Pemerhati Masjid.