Mengungsi, Khawatir Tertimpa Bangunan Rumah

0
1238
RUSAK: Rumah warga Jampang, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, rusak akibat bencana pergerakan tanah, kemarin.(FOTO: MASTUR/RADAR BANTEN)

Korban Pergerakan Tanah di Kampung Jampang, Kecamatan Cimarga

Kampung Jampang, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, diterjang bencana pergerakan tanah. Empat rumah rusak berat dan 37 rumah rusak ringan.

MASTUR – Lebak

Kampung Jampang di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, merupakan daerah rawan pergerakan tanah. Lokasi perkampungan yang berada dekat dengan Sungai Cisimeut diduga menjadi penyebab tanah menjadi labil.

Pada awal 2019, bencana pergerakan tanah di Jampang terjadi dan mengakibatkan 72 unit rumah rusak berat. Korban bencana kemudian mendapatkan bantuan stimulan dari pemerintah daerah sebesar Rp15 juta.

Uang tersebut digunakan untuk membangun rumah di lokasi baru yang lebih aman. Untuk itu, masyarakat yang telah pindah dari Kampung Jampang sudah hidup tenang, karena mereka tidak lagi khawatir rumahnya rusak atau ambruk akibat pergerakan tanah.

Setelah dua tahun berlalu, masyarakat di Kampung Jampang yang dulu (2019) tidak terdampak bencana pergerakan tanah kini dihantui rasa was-was setiap hari. Sejak awal Januari 2021, rumah warga mengalami kerusakan. Dinding dan lantai rumah warga Jampang retak-retak. Sebagian lagi tidak bisa ditempati, karena kondisinya cukup memprihatinkan.

Lisna, korban pergerakan tanah menyatakan, tiap hari selalu was-was dengan kondisi rumahnya yang rusak. Dia dan keluarga khawatir, rumah tiba-tiba ambruk dan menimpa orang di dalamnya. Untuk itu, jika turun hujan di malam hari, Lisna bersama anggota keluarganya harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

“Saya memilih untuk keluar rumah mencari tempat pengungsian yang aman jika hujan deras mengguyur di malam hari,” kata Lisna kepada Radar Banten, Selasa (2/2).

Dijelaskan, awalnya dinding rumahnya hanya retak-retak kecil. Namun, lama kelamaan retakan dinding dan lantai rumah melebar. Kondisi tersebut mulai terjadi sejak awal Januari 2021 dan terus mengalami pergeseran hingga sekarang. Masyarakat Jampang kemudian melaporkan peristiwa itu kepada pemerintah desa, kecamatan, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak.

Karena itu, relawan BPBD langsung datang ke Jampang untuk melakukan pendataan terhadap rumah warga yang mengalami kerusakan. Harapannya, BPBD membangun posko darurat bencana dan dapur umum di Jampang seperti tahun 2019. Jika hujan mengguyur, mereka bisa mengungsi ke posko bencana yang didirikan BPBD Lebak.

“Kami takut rumah ambruk ketika hujan turun. Karena, pergerakan tanah kerap terjadi setelah hujan mengguyur wilayah Jampang dan sekitarnya. Diduga, air yang masuk ke lapisan tanah membuat kontur tanah menjadi labil,” jelasnya.

Ke depan, Lisna dan masyarakat ingin ada solusi terbaik dari pemerintah daerah agar mereka tidak hidup dalam bayang-bayang bencana pergerakan tanah. Ada beberapa opsi yang bisa dilakukan pemerintah daerah yakni relokasi pemukiman penduduk ke lokasi yang aman dan memberikan bantuan stimulan untuk pembangunan rumah korban bencana. Dua opsi diyakini akan melegakan masyarakat yang kini hidup dalam ancaman.

“Kalau kebijakannya relokasi, kita minta lokasinya enggak terlalu jauh dari sini. Karena kami sudah puluhan tahun tinggal di sini dan sulit meninggalkan kampung halaman,” katanya.

Ketua RT/RW 01/12 Kampung Jampang, Ubay menambahkan, pergerakan tanah di Kampung Jampang bukanlah hal baru bagi masyarakat. Dua tahun lalu, sebagian warga Jampang harus meninggalkan rumah yang rusak berat akibat bencana alam. Kini, giliran warga Jampang lainnya yang terkena dampak bencana pergerakan tanah. Untuk itu, Ubay telah melaporkan masalah ini kepada BPBD Kabupaten Lebak.

“Iya, ada empat rumah yang rusak berat dan 37 unit rumah rusak ringan. Tapi sekarang, pergerakan tanah masih terus terjadi sehingga data rumah yang rusak berat dipastikan akan terus mengalami perubahan,” terangnya.

ZONA MERAH

Yang paling memprihatinkan, lanjutnya, masyarakat harus mengungsi ketika hujan mengguyur di malam hari. Mereka harus pergi ke rumah kerabat, karena takut rumahnya ambruk dan membahayakan keselamatan keluarga. Untuk itu, dia meminta kepada BPBD Kabupaten Lebak segera membangun posko bencana untuk menampung para pengungsi korban pergerakan tanah.

“Sekarang, sudah ada tiga keluarga yang mengungsi di rumah kerabatnya dan sebagian lagi masih bertahan di rumahnya masing-masing,” katanya.

Pada 2019, BPBD Kabupaten Lebak telah menerjunkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari Bandung untuk meneliti kontur tanah di Jampang. Hasil penelitian dari PVMBG, kontur tanah di Jampang labil dan ditetapkan sebagai zona merah pergerakan tanah. Untuk itu, ke depan harus ada solusi dari pemerintah bagi masyarakat.

“Kondisi cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga bulan depan. Kondisi tersebut jelas akan membahayakan masyarakat jika masih menempati rumahnya yang rusak atau terancam ambruk,” paparnya.

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizki Pratama mengatakan, pekan ini BPBD akan membangun posko bencana di Kampung Jampang. Posko didirikan untuk mendekatkan pelayanan terhadap masyarakat yang menjadi korban bencana tanah bergerak. Termasuk memonitor kondisi rumah warga secara berkala. Sehingga ketika terjadi pergeseran dan berpotensi membahayakan keselamatan penghuni maka keluarga tersebut diungsikan ke posko bencana.

“Iya, kita terus pantau kondisi di lapangan dan dalam waktu dekat kita dirikan posko bencana seperti tahun 2019,” tukasnya.(*)