Mengunjungi Kampung Wisata Bonsai Kelapa di Pamarayan

0
734 views
Ketua RT 019 Sampir (kiri) memegang pot bonsai kelapa yang seksi menawan dan Kang Dadan memegang prasasti peresmian Kampung Wisata Bonsai Kelapa oleh Bupati Serang.

Berkat LKBA, Kebiasaan Warga Berubah Total

Kampung ini sederhana. Tapi istimewa. Masyarakatnya kompak dan ramah. Tradisi gotong royong masih melekat erat. Semua itu tak lepas dari Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) Kabupaten Serang 2019. Berikut laporannya.

WIDODO – PAMARAYAN

Itulah Kampung Beusi Lebak, Desa Sangiang, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang. Letaknya di sisi kanan Jalan Raya Pasar Pamarayan – Lebak. Tidak sulit menemukan. Ada gapura sebagai penanda kampung.

Begitu memasuki gapura, pagar dari bambu berkelir warna-warni berjejer rapi di kanan kiri jalan. Tanaman beraneka macam bunga di setiap halaman rumah warga, makin menambah keasrian dan keindahan kampung. Kalau diperhatikan lebih jeli lagi, ternyata hampir di setiap rumah terdapat puluhan pot-pot bonsai kelapa yang indah menawan.

Ya. LKBA boleh dikatakan telah merubah kebiasaan dan perilaku warga setempat. Dulu, kampung ini kumuh, kotor dan jarang ditemui pot-pot bunga di setiap rumah. Kini berubah 180 derajat. Warga saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.  Hasilnya, kampung ini menjadi bersih. Jarang ditemui sampah. Dan, kini di setiap rumah bertabur puluhan hingga ratusan pot bunga yang indah dan rapi.

Keberadaan bonsai kelapa ini tak lepas dari peran tokoh pemuda setempat, Dadan. Pada pertengahan 2019, di kampung ini hanya ada dua perajin bonsai kelapa, Dadan dan kakaknya. Acara LKBA yang dihelat Pemkab Serang, Polda Banten, Korem 064/MY dan Radar Banten, rupanya telah membuka cakrawala berpikir Dadan, Ketua RT dan warga setempat.

Dadan diberi tanggung jawab oleh Ketua RT 019 Sampir, untuk memoles kampung. Dan, bonsai kelapa menjadi primadona hiasan. Dan, hasilnya, kampung ini menyabet tiga kategori. Tahu bahwa bonsai menjadi daya tarik dan bernilai ekonomi tinggi, Dadan pun langsung membina pemuda setempat menjadi perajin bonsai kelapa. “Tepatnya setelah Kampung Beusi Lebak mendapat tiga penghargaan LKBA. Yaitu akhir tahun 2019,” ujar Dadan di kediaman Ketua RT 019 Sampir, Kamis (20/8).

Setelah berjalan delapan bulan, kini di kampungnya terdapat 26 pemuda perajin bonsai kelapa. Setiap pemuda sudah memproduksi puluhan hingga ratusan bonsai. Jika ada bonsai hasil kreasi pemuda, yang sudah jadi dan bagus, Dadan pun langsung menawarkan di Facebook. Bonsai kelapa nan eksotis ini, harganya dibanderol cukup murah. Di kisaran Rp150 ribu hingga Rp1 juta.  Selama ini, lanjut Dadan, ada saja tamu yang datang untuk membeli bonsai.

Selama ini pemesan datang dari Bali, Jogja, Semarang, Bandung, Padang dan lainnya. “Yang dekat dulu. Belum berani terima order dari Kalimantan dan Sulawesi. Khawatir sampai alamat bonsainya mati,” lanjut Dadan, yang juga Ketua Komunitas Bonsai Kelapa Kabupaten Serang ini.

Dadan dan Ketua RT 019 Sampir serta warga setempat langsung berinisiatif menjadikan Kampung Beusi Lebak sebagai Kampung Wisata Bonsai Kelapa. Dan, keinginan itu terwujud. Saat acara Sosialisasi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), 4 Agustus lalu, di Kampung Beusi Lebak, Bupati Serang Hj Ratu Tatu Chasanah berkenan meresmikan dan menandatangani prasasti. Bisa jadi ini adalah satu-satunya Kampung Wisata Bonsai Kelapa di Indonesia.

Setelah Beusi Lebak dikukuhkan sebagai Kampung Wisata Bonsai Kelapa, Dadan punya keinginan. Setiap kantor/dinas/instansi di jajaran Pemkab Serang dihias lima pot bonsai kelapa. Tentu saja, bonsainya didapat dengan membeli di kampungnya. “Tujuannya untuk menyemangati pemuda perajin bonsai. Agar mereka bersemangat,” harap Dadan. (*)