Mengunjungi Pameran Batik Langka Nusantara di Alam Sutera

Kolektor yang juga penulis buku Nusawastra Silang Budaya Quoriena Ginting (kiri) bersama Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Pramono Anung melihat pembukaan pameran di Apartemen Saumata, Alam Sutera, Sabtu (4/11) lalu.

Kain songket dan batik salah satu karya seni yang memadukan fungsi dan keindahan. Selain menyampaikan pesan, motif yang dibuat juga menceritakan kondisi pada zamannya. Tentu saja dengan memerhatikan unsur estetika.

Sangat mengasyikkan. Kesan itu akan didapat saat mengunjungi pameran bernama Nusawastra at Saumata di lobi utama Apartemen Saumata, Alam Sutera, Kota Tangerang. Pameran ini menyuguhkan beragam kain koleksi batik, songket dan tenun nusantara milik Quoriena Ginting. Semua bisa dilihat hingga Minggu (19/11) mendatang.

Suasana Indonesia yang sarat dengan sejarah tergambar betul saat kaki melangkah masuk ke dalam pameran. Sejumlah bahan wastra, ragam teknik, dan motif bisa ditemukan di pameran yang dibuka oleh Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Pramono Anung pada Sabtu (4/11) lalu.

Pengunjung juga bisa bertanya langsung dengan sang kolektor yang juga penulis buku Nusawastra Silang Budaya. Ginting dengan senang hati bersedia bercerita banyak mengenai sejarah kain-kain yang didapatnya itu. Dia mengungkapkan, wastra atau kain adalah tenunan memori atas peradaban. Sedangkan batik, songket dan tenun merupakan bagian dari jejak simbol yang kini dibaca sebagai keindahan dan manfaat sebagai busana, aksesori maupun produk interior.

”Saya menjadikan dua khasanah ini tetap ada, dan ini merupakan aset yang tak ternilai. Baik itu aset berupa produk, maupun yang lebih dari itu sebagai jejak sejarah dan ilmu yang bisa dibaca dari generasi ke generasi. Semoga pameran ini bisa menginspirasi untuk terus mencintai kain nusantara,” kata Ginting, Selasa (7/11).

Di pameran tersebut juga terselip batik Tuban yang tampilannya beda sendiri. Bahkan tak ditemui di pusat-pusat pembatikan lain di Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Magetan, Ponorogo, Kediri, Tulungagung, Probolinggo, Banyuwangi, hingga Madura. Tak hanya batik Tuban, ada juga batik gedog, yaitu kain batik dengan hasil mori, alat tenun bukan mesin (ATBM).

”Kain morinya berasal dari benang tenun yang dipintal sendiri dan dengan kapas yang juga ditanam sendiri. Itu sebab permukaan mori batik gedog agak kasar dan di atas mori yang kasar inilah diberi motif dengan proses batik. Motif yang terkenal dan kuno antara lain ceplek, kerompol tutul, kembang waluh, ganggeng, serta kenongo uleren. Dari segi ukuran dikenal tapeh (panjang dua meter) dan juga selendang,” jelasnya.

Selain batik, songket dan tenun juga bisa pengunjung temukan di sini dengan karya seni yang dibuat lewat memadukan fungsi dan keindahan. Salah satu kain songket koleksi Ginting yang dipamerkan berasal dari Lampung. Bernama kain kapal yang memiliki panjang lebih dari 2,5 meter dengan lebar rata-rata 60 sentimeter bermotif utama kapal dalam sejarahnya merupakan kain ritual yang digunakan dalam perayaan siklus hidup.

Bentuk kapal bisa bermacam-macam, dari kapal bersahaja, kapal jung Tiongkok yang besar dan berbentuk naga, kapal Asia Tenggara berukuran raksasa dan bertingkat-tingkat, sampai kapal Belanda.

”Kain kapal termasuk langka, sebagian besar sirna bersama letusan Gunung Krakatau pada 1883 lalu, dan sejak seabad lampau tak ada lagi perajin yang membuatnya. Dan salah satu koleksinya saya punya,” ujar Ginting.

Dia juga ingin mengajak masyarakat lebih mengenal wastra Nusantara sebagai salah satu seni kriya yang harapannya, tak hanya mengenal keindahannya tetapi juga pesan-pesan yang disampaikan dari masa lalu dan masa kini.

”Pameran ini akan mengungkapkan keindahan dan keunikan yang terkandung pada setiap helai kain, dan semoga melalui pameran ini memberikan kesempatan untuk mengenali keindahan ragam kain Nusantara, menghargai kegigihan pembuatannya serta sekaligus mendorong melestarikan keberadaannya,” tutupnya. (Ade Maulana/RBG)