Meningkatkan Imunitas di Masa Pandemi dengan Probiotik Komunitas

0
3159

Komisariat ITB-97 kembali menyelenggarakan diskusi virtual dengan mengambil topik-topik hangat di masyarakat. Seperti  Jumat (9/7) lalu menyelenggarakan diskusi bertema “Meningkatkan Imunitas di Masa Pandemi dengan Probiotik Komunitas” melalui platform ZOOM Meeting dan streaming di akun Youtube Syner 97 ITB. Jumlah tayang topik ini di Youtube telah mencapai hampir 5.000 views.

Webinar Series #03 kali ini dimoderatori Sidrotun Naim  (BI97) dan menghadirkan  Farid Lusno (dosen FKM Unair),  Sulfahr (dosen Mikrobiologi FMIPA Unhas dan dosen S2 FK Unhas), dan Basuki Rokhmad selaku Owner dan Founder PT BIOS Pro Siklus dan Produsen Biosyafa.

Andhy Widodo (TI97), Ketua Komisariat ITB97,  menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang sudah bersedia menyampaikan pemikiran dan penjelasan mengenai produk karya anak negeri yang diharapkan bermanfaat di tengah pandemi Covid-19 saat ini.


Pada sesi pertama, diawali dengan kisah perjuangan Basuki Rokhmad dalam mencapai kesembuhan akibat penyakit ensefalopati,  dalam hal ini probiotik komunitas sangat berperan dalam membantu proses kesembuhannya. Kemudian dilanjutkan tentang kisah perjuangan  membangun brand Biosyafa dengan menjalin kerja sama dengan berbagi lembaga pendidikan tinggi untuk mengembangkan penelitian berkelanjutan terkait Probiotik Komunitas.

Basuki Rokhmad memaparkan,  jumlah  strain bakteri dalam tubuh manusia lebih dari 19 juta strain bakteri. Orang sehat atau merasa sehat jika dihitung ternyata hanya memiliki sekitar 60%-80% strain bakteri dari jumlah total tersebut. “Seandainya mikrobioma tubuh bisa mencapai jumlah 19 juta strain tersebut maka orang itu akan sehat tanpa harus minum obat,” ungkap Basuki.

Ketika membicarakan probiotik, lanjut dia, jika yang diminum itu hanya terdiri atas satu strain saja maka akan menimbulkan ketidakseimbangan mikrobioma. Begitu pula jika minum probiotik dengan sekian banyak strain tapi tidak memenuhi standar mikrobioma tubuh juga akan menimbulkan berbagai penyakit ikutan.  Di sinilah peran probiotik komunitas mengambil posisi dalam usaha memperbaiki keseimbangan mikrobioma tubuh manusia. Di dalam probiotik komunitas terdapat lebih dari seribu strain bakteri dengan sekian banyak senyawa aktif yang dihasilkan serta dikombinasikan dengan berbagai herbal asli Indonesia yang mana senyawa aktif yang dikandung herbal tersebut dinanokan oleh bakteri komunitas sehingga hasilnya tidak hanya berupa sinbiotik (gabungan probiotik dan prebiotik) akan tetapi berupa metabiotik.

Sementara  Farid Lusno yang membawakan meteri tentang  Bakteri dan Kehidupan,  memulai dengan memaparkan fakta-fakta unik terkait bakteri.  Fakta unik yang pertama  tentang obat antibiotik. Ternyata jenis antibiotik yang paling banyak selama ini adalah jenis antibiotik yang dihasilkan oleh bakteri. Sedangkan antibiotik itu sendiri adalah obat untuk membunuh bakteri.

“Kekurangan bakteri tertentu juga diketahui telah memicu beberapa penyakit. Seperti penyakit diabetes. Dalam kasus penyakit diabetes diketahui bahwa kekurangan bakteri e coli ternyata erat berkaitan dengan berkurangnya volume insulin yang dihasilkan.  Aktivitas bakteri juga erat kaitannya dengan antibodi. Walaupun antibodi itu protein, ternyata antibodi dihasilkan oleh simbiosis tubuh kita dengan bakteri. Karena kehadiran bakteri, sel-sel tubuh kita terangsang untuk mengeluarkan hormon-hormon tertentu,” ungap Farid.

Sebenarnya, lanjut dia, dalam praktik agama Islam sudah banyak dilakukan ibadah yang ternyata berkaitan erat dengan usaha untuk menstimulus munculnya antibodi dengan menggunakan bakteri. Seperti prebiotik kurma yang digunakan dalam proses tahnik yang melibatkan bakteri dari mukosa ayah atau kakek untuk merangsang antibody bayi. Selain itu Rosul juga mensunahkan merendam kurma kering untuk merangsang munculnya bakteri dalam air nabees (infuse water) guna memperkaya keragaman mikrobioma.

Sedangkan untuk terapi kesehatan yang menggunakan mikrobioma ini sudah juga ada di Indonesia yaitu yang dinamakan fecal microbiota therapy yang dilakukan dengan cara mengambil feses orang sehat dipindahkan ke orang sakit atau bahasa sederhananya transplantasi feses yang mahal dan rumit.  Selain dengan cara itu, mikrobioma dalam feses juga sudah ada diperjualbelikan dalam bentuk tablet.  Tetapi dengan adanya probiotik komunitas ini akhirnya didapatkan solusi sederhana dimana hanya dengan minum probiotik komunitas sudah mampu untuk memperkaya mikrobioma tubuh kita.

Terakhir, materi disampaikan Sulfahri yang membahas lebih dalam terkait imunitas. Dalam pemaparannya Sulfahri menyampaikan jika ada banyak faktor yang dapat menentukan imunitas, salah satunya adalah makanan dan juga pola hidup.  Makanan di sini penting karena sebagai sumber nutrisi.  Sedangakan pola hidup termasuk di dalamnya pola makan (apa yang dikonsumsi, kapan itu dikonsumsi dan berapa jumlah makanan yang dikonsumsi), pola olah raga dan juga pola tidur.  “Sesuai dengan hasil penelitian, salah satu makanan yang berpengaruh nyata untuk meningkatkan imunitas adalah madu dan herbal, makanan organik dan non GMO, juga probiotik,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam probiotik komunitas ketiga makanan tersebut dijadikan satu kesatuan dan dilakukan suatu proses fermentasi dalam waktu yang cukup lama dengan menggunakan teknologi yang canggih.  Sumber senyawa aktif yang dikandung madu dan herbal akan dipecah menjadi lebih kecil oleh bakteri menjadi ukuran partikel nano sehingga lebih mudah diserap tubuh.  “Sehingga bisa dikatakan jika kita mengkonsumsi probiotik komunitas kita memakan sanyawa aktif yang sudah dinanokan dan memakan bakteri hidup dalam jumlah yang melimpah,” katanya

Kenapa tubuh membutuhkan banyak bakteri? Lanjut dia, karena dalam tubuh ada sekitar 100 T bakteri dan 30 sd 40 T sel tubuh. Sehingga bakteri disebut juga sebagai organ keenam.  Di samping itu, bakteri dalam tubuh dianggap penting karena merupakan penghasil senyawa aktif,  penghasil enzim pencernaan, penghasil protein, serta penghasil vitamin dan mineral.

“Salah satu vitamin yang sedang viral terkait dengan Covid ini adalah vitamin D. Anjuran untuk mengkonsumsi vitamin D dosis tinggi tidak akan efektif jika bakteri dalam tubuh kurang karena bakteri berperan dalam metabolisme vitamin D. Jadi sebanyak apa pun vitamin D yang diminum dan selama apapun berjemur jika bakteri dalam perut kurang makan bioavailabilitynya juga rendah,” ungkapnya.

Dia memaparkan, bakteri dalam probiotik komunitas mampu menghasilkan berbagai senyawa metabolit, di antaranya adalah Dibutyl phthalate, 4-Methoxycinnamic acid, Cyclo(phenylalanyl-prolyl), Linolenic acid ethyl ester, Bis(2-ethylhexyl) phthalate, Eicosapentaenoic acid, dan Sedanolide. Senyawa metabolit tersebut dapat menjadi kandidat terapi SARS-CoV2 berdasarkan uji molecular docking.  Senyawa aktif alami tersebut bekerja dengan dua cara dalam melawan virus SARS-CoV2.  Cara yang pertama adalah dengan menghambat protein SARS-CoV2 menempel pada reseptor ACE-2 pada tubuh manusia, di mana resptor ini banyak terdapata di paru-paru dan perut serta sedikit di dalam mulut.  Sedangkan cara kedua adalah dengan menghambat replikasi virus SARS-CoV2.  Sehingga jika ada virus yang terlanjur menempel akan dihambat penyebarannya dengan cara kedua.

Binding affinity dari senyawa aktif yang dikandung oleh herbal dan yang dihasilkan oleh probiotik komunitas tersebut bahkan lebih baik dari antivirus redemsivir dan cloroquinon. Senyawa-senyawa tersebut berkerja sama dari berbagai sisi sehingga mampu menetralisir virus Covid-19 dalam hitungan hari bahkan hitungan jam karena bioavailability nya yang bagus tersebut. Bahkan berat molekul senyawa aktif tersebut juga lebih ringan jika dibandingkan dengan berat molekul obat kimia redemsivir dan cloroquinon.  Karena jika terlalu berat molekul suatu senyawa maka darah pun akan terlalu berat mengangkutnya sehingga butuh kerja keras yang menyebabkan kita akan oleng jika minum obat kimia tersebut.

Karena probotik komunitas  berasal dari herbal yang difermentasi itu lulus uji toksisitas sehingga efek ke tubuh juga tidak toxic atau aman untuk dikonsumsi.  Jika virus Covid-19 menyerang tubuh, maka ada dua kemungkinan yang terjadi pada sistem imun tergantung pada kondisi tubuh, yaitu respons imun yang kurang reaktif (tubuh akan memberikan respon anti infamsi) dan respons imun yang over reaktif (tubuh akan memberikan respons pro inflamasi).

Salah satu penyebab pasien meninggal karena Covid-19 itu sebenarnya adalah karena respons imun yang terlalu reaktif yang menimbulkan badai sitokin yang menyebabkan paru-paru kaku sehingga tidak bisa mengambil udara. Bakteri dalam probiotik komunitas ini mampu menyeimbangkan respon imun sehingga sitokin dihasilkan dalam jumlah yang wajar.

Kesimpulan akhir ditutup dengan pernyataan bahwa agar tubuh tetap sehat maka mikrobioma di dalam tubuh juga harus dijaga supaya tetap beragam dan seimbang, salah satu caranya adalah dengan mengkonsumsi probiotik komunitas dan mengkonsumsi makanan yang beragam serta selalu menjaga pola hidup yang sehat. (aas)