Mental Pencaker Kota Serang Lemah

Pembuat Kartu Kuning Meningkat

KARTU KUNING: Puluhan warga mengantre untuk membuat kartu kuning di Disnakertrans Kota Serang, Jumat (12/5). FOTO: QODRAT/RADAR BANTEN

SERANG – Mental atau daya tahan pencari kerja (pencaker) di Kota Serang dinilai lemah. Kondisi tesebut disebabkan oleh minimnya tenaga kerja asal Kota Serang yang bertahan di luar daerah.

Kasi Penempatan Ketenagakerjaan Disnakertrans Kota Serang Ruswiyanti mengakui bahwa salah satu masalah penempatan pencaker adalah mental yang lemah. Kondisi itu, kata dia, mengakibatkan angka pengangguran di Kota Serang relatif sukar diurai. “Masalah utamanya, mental pencaker. Lowongannya ada cuma pencaker kurang respons,” ujar perempuan yang akrab disapa Wiwi ini saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (15/5).

Ia mengaku, pada beberapa kejadian seperti terjadi di salah satu perusahaan minuman di wilayah Tangerang. Pihaknya memfasilitasi warga untuk mendaftarkan kerja di sana. Dari yang mendaftar sebanyak 35 orang kemudian diseleksi, masuk delapan orang. Namun, dari delapan yang diterima hanya tersisa dua orang. “Yang tersisa hanya dua orang. Alasannya, di Tangerang kejauhan dan berat kerjanya,” katanya. “Kami juga tak jarang menerima keluhan dari perusahaan. Ini ada masalah dengan daya saing. Kan seharusnya ini menjadi tantangan karena memang tidak ada yang langsung kerja enak,” sambung Wiwi.

Sementara itu, di tahun ini pasca pengumuman kelulusan tingkat SMA/SMK di Kota Serang, pembuat kartu kuning atau tanda bukti pencari kerja di Disnakertrans mengalami peningkatan drastis. Dijelaskan Wiwi, berdasarkan data kemarin, pembuat kartu kuning mencapai 1.099 orang. Sementara pada Januari sebanyak 671 orang, Februari sebanyak 541 orang, Maret sebanyak 694 orang, dan April sebanyak 619 orang. “Biasa lulusan (SMK/SMA-red) baru, bulan Mei-Juni selalu ada kenaikan terutama SMK. Penyokong terbesar SMK,” katanya.

Ia menjelaskan, dilihat dari potensi lapangan kerja yang ada di Kota Serang dengan jumlah perusahaan wajib lapor sebanyak 415, ada tiga peluang yang saat ini ada. Yaitu jenis pekerjaan sales, layanan jasa, dan finance. “Karena memang di Kota Serang fokus usahanya di pelayanan jasa, berbeda dengan daerah lain yang memiliki industri,” katanya.

Kepala Disnakertrans Kota Serang Heri Hadi mengatakan, untuk mengurai angka pengangguran pihaknya saat ini menyiapkan pencaker yang belum terfasilitasi untuk menambah kompetensi. Selain itu, bekerja sama dengan bagian perizinan agar memasukkan syarat pemberdayaan masyarakat setempat pada saat proses pembangunan dilakukan. “Kami menitipkan pesan agar masyarakat termanfaatkan dan diberdayakan. Bukan diproteksi (membatasi masyarakat luar-red), tapi ini sebagai langkah memberikan peluang kerja bagi masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Heri mengaku, banyaknya permintaan pembuatan kartu kuning tidak bisa dikorelasikan dengan jumlah peluang kerja di Kota Serang. Ia berdalih, pembuatan kartu kuning dilakukan bukan hanya menjadi prasyarat bagi warga yang akan melamar kerja, tapi menjadi prasyarat bagi calon siswa sekolah kedinasan. “Kalau melihat di kita, industri dan perdagangan tidak ada perusahaan baru. Tapi, kami saat ini mempersiapkan bagaimana perusahaan yang akan membangun dan tidak memerlukan tenaga kerja skills khusus sehingga warga bisa dipekerjakan,” katanya.

Salah seorang pembuatan kartu kuning Abdul Muis, warga Kelurahan Kemanisan, Kecamatan Curug, mengaku rela mengantre satu hingga dua jam untuk membuat kartu kuning, yang diperuntukkan melamar ke perusahaan ritel. “Karena di sini kebanyakan ritel atau mal, ya paling untuk melamar kerja ke sana. Tahu saja ada lowongan. Kan bentar lagi mau Lebaran,” kata pria yang mengaku lulusan SMKN 1 PGRI Serang ini. (Fauzan Dardiri/Radar Banten)