Menyikapi Pandemi Menurut Ibn Qayyim Al-Jawziyyah

Wari Syadeli

Oleh : Wari Syadeli

Sudah empat bulan sejak diumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia (outbreak) wabah belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Demikian juga di negara lain kasus masih terjadi. Di negara yang diklaim telah menyatakan diri menang melawan Covid-19 masih dibayang-bayangi ketakutan gelombang kedua. Meski demikian pada negara-negara dengan angka kasus masih cukup tinggi termasuk Indonesia melakukan langkah strategis pengaktifan aktivitas sosial kehidupan masyarakat guna menyelamatkan ekonomi.

Di tengah masyarakat kini muncul berbagai sikap yang beragam terhadap wabah corona bergantung pada pemahamannya. Lalu, bagaimana pandangan seorang ulama terdahulu yang hidup tujuh ratus tahun yang lalu yakni Ibn Qayyim Al-Jawziyyah?

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Zadul Ma‘ad menyebutkan sembilan langkah yang perlu dilakukan untuk menanggulangi wabah yaitu, pertama menghindari dan menjauhi apa pun yang bisa membuat kita terinfeksi wabah tersebut. Segala faktor risiko masuknya virus hendaknya dihindari (tajannub al-asbab al-mu’dhiyahwal bu’du minha)

Kedua, menjaga kesehatan karena itu aset modal hidup di dunia dan akhirat. Para tenaga medis saat ini menganjurkan memperkuat imunitas tubuh baik dengan makanan sehat dan vitamin juga berolahraga teratur secara rutin serta perilaku hidup bersih dan sehat. Ketiga, jangan menghirup udara yang sudah tercemar dan membawa kuman penyakit (an la yastansyiqul hawa’ alladzi qad ‘afina wa fasada). Saat ini pencegahaannya diterapkan dalam bentuk memakai masker saat keluar rumah.

Keempat, jangan mendekat atau berdekatan dengan orang yang sudah terkena penyakit itu (anla yujawiru al-mardha) dalam istilah saat ini dikenal physical distancing. Kelima, buang pikiran atau prasangka buruk, perasaan-perasaan negatif, dan tetaplah optimistis (himyatun nufus ‘an at-thirahwal ‘adwa). Berpikir positif langkah baik menghindari stres, karena stres berpengaruh pada tubuh, napas dan detak jantung bergerak cepat, otot menjadi kaku, tekanan darah meningkat juga menurunkan daya tahan tubuh.

Keenam, menggabungkan usaha aktif dengan iman dan tawakal kepada Allah: tidak fatalistik dan tidak pula bersikap angkuh. Ketujuh, ambillah keputusan dan pilihan yang rasional dengan mempertimbangkan maslahat dan mudarat. Kedelapan, tetaplah berhati-hati (hadzr) lakukan penjagaan dan pencegahan (himyah), dan berlakukan larangan (nahy) memaparkandiri kepada risiko infeksi yang membinasakan. Dan kesembilan, melakukan edukasi (ta‘lim) dan menerapkan sanksi (ta’dib) bagi yang melanggar aturan.

Untuk yang menunjukkan gejala sakit hendaknya segera berobat agar mendapatkan penanganan sejak dini untuk dilakukan intervensi atas gejala yang muncul. Pernah suatu ketika datang sekelompok orang bertanya kepada Nabi SAW, apakah perlu berobat, dan Beliau menjawab tegas: “Wahai hamba Allah, berobatlah kalian! Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali diturunkan pula penyembuhnya.” (HR Ahmad).

Bila gejala yang muncul masih ringan dapat diatasi dengan istirahat dan pemberian asupan nutrisi yang baik sebagaimana diungkap oleh Ibn Qayyim al-Jawziyah (mata amkanat tadawi bil ghidza’ la ya‘dulu ilad dawa’). Allah telah memberikan dokter terbaik dalam sistem tubuh kita yakni “antibodi” yang memiliki fungsi penting sebagai benteng pertahanan terhadap antigen seperti virus, bakteri, zat beracun yang menjadi penyebab penyakit, namun kita harus bijak bilamana gejalanya tidak dapat diatasi dengan istirahat cukup serta asupan nutrisi maka perlu dilakukan intervensi medis dengan mendatangi layanan kesehatan yang ada.

Dalam menghadapi wabah ini para ulama menganjurkan kita untuk berdoa sesuai ajaran Nabi SAW. Pada mazhab Hanafi dan Syafi’i dengan membaca qunut nazilah ataupun shalat khusus menolak wabah penyakit. Dalam mazhab Maliki, Rasulullah SAW pun berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, penyakit jiwa, penyakit kusta, dan segala penyakit ganas.” (HR AbuDawud).

Dr Syamsudin Arif dalam tulisannya “Perspektif Islam tentang Pandemi” menjelaskan beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari wabah corona ini. “Allah menciptakan bermacam-macam makhluk yang kita ketahui ataupun yang kita tidak ketahui:wayakhluqu ma la ta‘lamun (QS an-Nahl 8). Yang masih misteri di alam semesta ini jauh lebih banyak daripada yang kita ketahui, dan manusia diciptakan sebagai makhluk yang lemah: wa khuliqal insanudha‘ifa (QS an-Nisa’ 28)”.

Wabah corona yang terjadi menunjukkan kebesaran Allah. Dahsyatnya pandemi ini membuat negara juga semua orang terdampak cukup hebat oleh makhluk mikroskopis bernama “corona” ini baik di aspek kesehatan, sosial, ekonomi juga politik. Semoga manusia bisa sadar diri dari segala ketamakan dan kerakusannya sehingga melahirkan keadaan yang lebih baik di mana keadaan menuntut kita untuk berbagi, peduli dan saling tolong menolong. Wallahua’lambisshowab. (*)

Penulis adalah Kepala Departemen Litbang FSPP Banten dan anggota Satgas Covid-19 Provinsi MUI Banten.