Menyiksa Diri, Empat Istri di Empat Daerah

Kisah rumah tangga Jumron (52) nama samaran, sungguh sangat menggelikan. Ia mengaku tersiksa setelah memiliki banyak istri. Tidak tanggung-tanggung, Jumron punya empat istri di empat daerah berbeda sebelum akhirnya kembali ke pangkuan istri pertama. Yaelah buaya.

Jumron merupakan warga Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Saat ditemui Radar Banten, Jumron tampak asyik mengisap sebatang rokok di bawah pohon rindang tak jauh dari kediamannya. Penampilannya bak peramal. Setelan kemeja hitam dan celana jeans lengkap dengan cincin batu akik yang menghiasi seluruh jemarinya. Ada lah karismanya mendekati Ariel Noah dikit.

Bercerita kepada Radar Banten, Jumron mengaku memiliki keturunan keluarga doyan kawin alias poligami. Diawali dari kakeknya yang memiliki 30 istri. Termasuk ayahnya punya sembilan istri sampai adiknya ikut-ikutan punya lebih dari satu istri. Yassalam. Jumron tak mau kalah, dia ikut-ikutan mengoleksi mahkota rumah tangga dengan menikahi empat wanita. “Rumah tangga dengan banyak istri keluarga besar saya itu, ada yang langgeng, ada yang cerai juga,” ungkapnya. Sakarepmulah Mas.

Lantaran itu, Jumron termotivasi memiliki banyak istri. Yang menarik, tidak ada satu pun istrinya dari yang pertama protes dengan kelakuan sang Don Juan. “Itu sih rahasia keluarga. Yang penting mah kuncinya satu, uang,” tegas Jumron. Wih pedenya. Berarti bukan karena muka ya Mas!

Jumron mulai mengawali cerita dengan pencarian istri pertama pada masa mudanya. Nasib baik ada pada Jumron yang terlahir dari keluarga berada. Warisannya juga di mana-mana, tidak akan habis tujuh turunan dan delapan tanjakan. Kendati begitu, Jumron termasuk orang yang supel, tidak sombong, dan mudah bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Termasuk kedekatannya dengan gadis pujaannya, sebut saja Juleha (51) yang kini menjadi istri pertama Jumron. “Dulunya kita teman SD,” Aku Jumron. Pasti gara-gara reunian nih, suka cinta lokasi alias cinlok.

Bagaimana Jumron tidak kesemsem melihat Juleha yang memiliki paras ayu, kulit putih mulus bersih dan memesona bak Cinderela yang kehilangan sepatu kacanya. Juleha di kampungnya dulu memang jadi idaman semua pria. Jumron pun mulai mengeluarkan jurusnya untuk mendapatkan hati Juleha pascalulus SD. Hampir setiap hari Jumron mendatangi rumah Juleha berpura-pura mengajak main, jalan-jalan sampai nonton kebakaran bersama rekan-rekannya yang lain. Dengan status anak orang kaya, ditambah penampilan dan wajah Jumron yang lumayan tampan, tentu makin percaya diri dong, pedenya level enam kali. Tak perlu lama untuk Jumron memainkan aksinya untuk mendapatkan hati Juleha. “Ya zaman dulu nyari cewek tuh gampang. Juleha aja langsung klepek-klepek. Kalau mau saya bisa punya istri sepuluh,” angkuhnya. Beuh, sekalian aja sebelas jadi satu tim sepak bola tuh, Mas jadi wasitnya.

Apalagi, Jumron orangnya royal. Setiap apel pacaran malam Minggu, pasti selalu bawa barang dan makanan untuk Juleha dan keluarganya. “Ya kalau enggak makanan, bisa baju, kadang juga ngasih kerudung,” kenang Jumron. Leh, kirain mobil sport atau berlian!.

Singkat cerita, Jumron dan Juleha sepakat menjalin hubungan lebih serius di usia setingkat SMP dan berlanjut ke pelaminan mengikat janji sehidup semati. Pesta pernikahan keduanya cukup meriah. Sudah pasti ada hiburan dangdutnya dong lengkap dengan biduan lokal. Mengawali rumah tangga, sementara tinggal di rumah keluarga Jumron. Setelah lahir anak pertama, barulah Jumron dapat hadiah dari orangtuanya sebuah rumah. Semua itu  tidak gratis, melainkan imbalan buat Jumron yang sudah kerja keras membantu orangtuanya bisnis jual beli tanah. “Alhamdulillah, dulu hidup saya serba-enak. Mau apa-apa juga tinggal bilang,” akunya. Bukan enak itu namanya, tapi manja Mas.

Suka duka dilewati keduanya selama tiga tahun menjalani rumah tangga. Hingga suatu hari, Jumron berkunjung ke rumah salah satu pelanggan yang hendak membeli tanah. Penampilan Jumron yang parlente dengan rambut klimisnya cukup menyita perhatian gadis-gadis desa di kampung pelanggannya di wilayah Pandeglang. Jumron tak hentinya tebar pesona, sampai hasratnya tidak tertahan lagi ketika melihat gadis desa nan jelita, sebut saja Iyem. Mata Jumron langsung keluar lebar-lebar, lidahnya menjulur dan berliur, persis komodo yang sedang mengejar mangsa. Jumron langsung jatuh hati pada sosok Iyem. Tanpa banyak kata, sang pejantan tangguh to the point mengajak nikah sang bidadari turun dari sawah itu. “Ya waktu aku bilang ke dia, mau enggak jadi istri kedua saya. Eh ternyata dia mau, ya sudah,” ujarnya bangga. Widih, bagi-bagi dong ilmunya Mas.

Jumron pun menyampaikan niatnya untuk menikah lagi kepada Juleha sang istri tua. Awalnya Juleha tak terima dan sempat berselisih, tiga hari kemudian tiba-tiba Juleha merelakan niat Jumron untuk poligami. Tentunya Jumron gercep (gerak cepat) dong. Sepekan kemudian Jumron melamar Iyem. Kok bisa? “Enggak diapa-apain kok. Cuma sedikit dibisikin sesuatu doang Julehanya,” tukas Jumron mesem-mesem. Dasar hidung belang.

Akhrinya Jumron pun resmi berpoligami. Sesuai persyaratan yang diajukan Juleha, istri kedua tinggal di Pandeglang di kediaman keluarganya. Setahun kemudian, istri kedua Jumron melahirkan anak pertama. Belum sebulan sang jabang bayi lahir dari istri kedua, Jumron kembali berulah menemukan cinta baru di wilayah Lebak dan langsung menikahinya. Astaga. “Yang istri ketiga janda. Kasihan enggak ada yang ngurus,” kelit Jumron. Bisa aja ngelesnya.

Namun, Juleha begitu pun istri kedua tabah menerima kenyataan kalau suaminya memang punya perilaku rada menyimpang. Petualangan Jumron tak sampai di situ, enam tahun kemudian Jumron kembali tak bisa menahan hasratnya untuk menggaet wanita lain. Jumron akhirnya bertemu dengan wanita asal Malingping dan dengan mudah langsung menikahinya. Oalah. Kondisi rumah tangga Jumron dengan empat istri pun bak selebritis, menjadi bahan perbincangan tetangga di kampung istri pertamanya. Seiring berjalannya waktu, Jumron menemui apesnya. Juleha memutuskan pindah ke Tangerang dengan alasan orangtuanya sakit. Sejak itu, Jumron tinggal sendiri di Serang. Jumron mulai merasa kesepian tanpa istri pertamanya yang cukup dewasa dan pengertian. Sepuluh tahun kemudian, kondisi fisik Jumron melemah dan tak bisa lagi menemui keempat istrinya yang tersebar di empat wilayah berbeda. “Saya suruh tinggal di Serang, mereka (istri kedua sampai ketiga-red) enggak ada yang mau,” keluhnya. Rasain lo.            

Sampai akhirnya, merasa punya suami sudah tidak berdaya dan tuntutannya tidak dipenuhi lagi oleh Jumron. Ketiga istrinya mulai gerah dan menjauh. Ada yang nekat nikah lagi dengan lelaki lain yang lebih perkasa, ada yang selingkuh, satu lagi bawel nuntut dikirimi nafkah. Situasi itu pun membuat Jumron stres dan tersiksa. Sampai akhirnya ia menceraikan ketiga istrinya dan kembali ke pangkuan Juleha. “Benar kata orang, istri pertama tak tergantikan,” pujinya. Yaelah. Udah enak aja baru deh ingat istri tua. Dasar kadal. Yassalam. (Haidaroh/RBG)