Menyingkap Bisnis Esek-esek di Hutan Bakau

Deretan gubuk di tepi Pantai Karang Serang, Kabupaten Tangerang, disinyalir sebagai tempat esek-esek baru. (Wahyu S)

TANGERANG – Seperti pepatah; tak ada rotan, akar pun jadi. Bisnis esek-esek di Tangerang seperti tak kenal lokasi. Tak ada hotel atau losmen, hutan bakau pun jadi tempat melampiaskan hasrat seksual. Istilahnya, ‘hutan bakau bergoyang’. Itu dijumpai di kawasan Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Tangerang. Tepatnya, di Pantai Karang Serang.

Pantai Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, mungkin terdengar tak asing bagi sebagian orang. Puluhan gubuk berderet memanjang di lahan milik PT Sangrila Indah. Siang hari di sana, menyediakan wisata kuliner seafood. Hutan bakau di sekeliling pantai tersebut menjadi surga ikan dan kepiting. Anda akan dimanja dengan sejuknya angin laut dan deburan ombak.

Namun, pada malam hari suasananya berubah drastis. Tempat yang termasuk aman dari kejaran aparat ini, membuat sejumlah pemilik kafe berinovasi membuat warungnya sebagai kamar pelipur syahwat.

Saat Radar Banten berkunjung ke sana, Sabtu (20/8), matahari perlahan mulai tenggelam. Suara azan dari musala Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Sukadiri terdengar sayup-sayup. Suara panggilan ajakan salat itu beradu dengan musik dangdut dari dalam kafe.

Menuju lokasi ‘hutan bakau bergoyang’ tak terlalu sulit. Jaraknya sekira 30 kilometer dari Kota Tangerang. Berada persis di dermaga BP2IP Sukadiri, kalau siang hari menjadikan kawasan ini dipenuhi wisatawan, khususnya para mancing mania.

Gerbang Pantai Karang Serang sudah terlihat persis dari pinggir jalan. Lokasinya berada di antara hutan bakau. Suasana malam Pantai Karang Serang terlihat berbeda dengan siang hari.

Saat memasuki gerbang kawasan pantai, tamu akan berhadapan dengan lima sampai delapan orang penjaga. Kendaraan akan distop, agar membayar jasa parkir. Tarifnya, sepeda motor Rp15 ribu, sementara mobil Rp30 ribu untuk parkir seharian penuh. Tamu juga diajak memilih warung ikan bakar. ”Silakan pilih saja warung Mas, nanti kita ajak-ajak pilih warung ikan bakar yang enak,” ujar salah satu tukang parkir. Itu nada tawaran di siang hari.

Namun jika di malam hari, para tukang parkir yang sudah berganti shift, jumlahnya lebih banyak. Pertanyaan yang dilontarkan bukan lagi warung ikan bakar, melainkan kamar. Ya, ada empat warung disediakan bagi tamu yang sedang dilanda berahi. ”Kita antar ya? Kalau ada ceweknya yang pas bilang ya, Mas!” ujarnya sembari mengawal Radar Banten dari belakang. Pengawalan itu dilakukan mereka agar para tamu merasa nyaman di lokasi.

Kira-kira 20 meter dari gerbang sebuah warung yang berada paling pojok barat menjadi pilihan kami. Suasananya cukup sepi. Hanya ada empat wanita berumur 24 hingga 30-an sedang asyik berbincang. Saat motor kami terparkir, keempat wanita langsung berhenti berbincang dan langsung menarik tangan kami. Senyum genitnya tersungging dan menanyakan tujuan kami. ”Mau ngamar, apa mau ngebir?” tanya salah satu wanita di sana, sembari membawa baki berisi kacang goreng.

Pemilik warung tempat kami bersantai namanya Memed. Dia mengaku warga asli Karang Serang. Dalam mengelola bisnis ini, dia ditemani sang istri. Ya, saat kami datang, seorang wanita gemuk sudah menyambut. Dari gestur tubuhnya mencerminkan sikap kehati-hatian. Matanya mengawasi tajam tamu yang baru pertama berkunjung.

Air laut seperti berada di bawah kaki kami. Deburan ombak seperti menghantam lantai bambu gubuk. Rata-rata gubuk di sana berdinding bilik dengan tiang dari pohon bakau. Warung hanya berukuran 10×10 meter dan diterangi penerangan seadanya. Ada tiga kamar yang disediakan. Sementara di depannya, ada warung yang menyediakan minuman keras mulai dari anggur hingga bir.

Harganya pun cukup fantastis. Harga normal bir seharga Rp50 ribu mereka patok Rp150 per botol. ”Ayo sini dulu ngebir dulu Mas, kalau mas-nya ngebir kami semua ikut,” ujar Siti Kodiah, salah satu PSK di sana.

Menurutnya, ada peraturan tak tertulis, di setiap warung di kawasan tersebut. Bagi setiap tamu yang datang, jika salah satunya memesan bir maka rekan kupu-kupu malam lain juga harus ikut. Bagi mereka tidak etis, jika ada pria hidung belang yang pelit.

Dengan secepat kilat, dua botol bir tersaji di depan. Selagi senggang, tamu dihibur lagu MP3 dari DVD player di dalam. Jangan mencari hiburan karaoke di sini, rata-rata pemilik hanya memberikan servis seadanya.

Tangan Siti Kodiah mulai bergelayut manja. Olesan bodi lotion terasa licin. Tak ada rasa segan meski yang di depannya orang yang baru dia lihat. Matanya yang sipit dipadu dengan lipstik tipis di bibir. Meski lemak bergelambir di perutnya ia tetap percaya diri. Dikatakan dia, rata-rata tarif wanita di sini Rp200 ribu. Terkadang ia harus berbagi rezeki jika melihat rekannya tak ada tamu. ”Itu juga dibagi-bagi Mas. Rp50 ribu untuk kamar, sementara sisanya buat saya termasuk tisu,” jelasnya.

Harga tersebut hanya untuk layanan cepat kilat. Janda dua anak ini mengaku kadang dibawa keluar mulai dari hotel melati di Mauk sampai ke tengah laut. ”Biasanya kalau langganan mancing, saya sering diajak,” katanya.

Dalam gubuk, sang pemilik juga menyediakan kondom. Namun, kebanyakan para pelanggan enggan memakainya. Siti Kodiah mengaku risih kalau harus memakai kondom. ”Kurang terasa nancapnya,” katanya seraya tertawa terkekeh. (Togar Harahap/Radar Banten)