Merasa Dikekang, Lebih Baik Pisah Ranjang

0
1.221 views

Kepada para istri sebaiknya jangan suka mengekang suami kalau tidak ingin rumah tangganya berujung seperti Sakim (37) nama samaran. Merasa dikekang oleh istri, sebut saja Marni (37), dan tertekan oleh sikap mertua, Sakim akhirnya memilih untuk pisah ranjang dan sudah berjalan selama dua tahun lamanya. Bagaimana kisahnya, kita simak yuk!

Awalnya rumah tangga Sakim dan Marni baik-baik saja. Meski Marni orangnya manja, apa-apa harus dituruti, Sakim tak pernah berontak dan selalu sabar menghadapi sikap sang istri. Benar saja, saat ditemui di Kecamatan Kragilan, Sakim menyambut Radar Banten dengan ramah. Dia sedang duduk di warung makan tak jauh dari gerbang perusahaan tempatnya bekerja. Pas diajak berbincang ternyata orangnya baik dan terbuka. Ia pun tak sungkan untuk menceritakan kisah pahit rumah tangga yang pernah dialaminya. Diceritakan Sakim, istrinya termasuk orang yang manja dan kekanak-kanakan. “Jujur saja, saya suka sama dia karena sikap manjanya itu, imut dan bikin gemes,” akunya. Nyari yang salehah Kang bukannya yang manja, bahaya.

Perjumpaannya dengan Marni bermula saat keduanya mengikuti kegiatan di kantor kecamatan. Marni yang mengenakan gamis berkerudung hijau waktu itu terlihat cantik dan menarik sehingga cukup membius perhatian Sakim. Setelah kegiatan selesai, Sakim mulai mengeluarkan jurus modusnya kepada Marni, mulai dari bertanya-tanya hingga berkenalan yang diakhiri dengan meminta nomor ponsel. Sejak saat itu keduanya semakin intens berkomunikasi. Marni yang tadinya bersikap cuek, mulai akrab dan terbuka dengan Sakim dan sering jalan berdua. “Pedekatenya dulu paling ngajak ngebakso,” kenang Sakim cengengesan.

Singkat cerita mereka jadian. Saat itu Sakim masih berstatus pengangguran. Bahkan, untuk apel malam Minggu saja sering mengutang kepada temannya. “Ya, waktu itu lagi melarat-melaratnya,” ujarnya. Enggak gitu juga kali.

Berkat kedekatan orangtua dengan salah satu atasan di pabrik, Sakim akhirnya diterima bekerja di perusahaan. Sejak itu, Sakim punya penghasilan sendiri dan siap melamar sang pujaan hati. Perjalanan lamaran Sakim terhadap Marni sempat menuai hambatan. Hal itu lantaran orangtua Marni meminta mahar cukup fantastis, mencapai Rp40 juta. “Waktu itu saya sempat ngaku enggak sanggup, orang cuma pegang Rp10 juta,” katanya. Ngutang aja lagi.

Setelah terjadi tawar-menawar, akhirnya keluarga Marni menyepakati mahar dari Sakim hanya Rp20 juta. Hari bersejarah antara Sakim dan Marni pun tiba. Mereka pun duduk di pelaminan mengikat janji sehidup semati dan resmi menjadi pasangan suami istri. Mengawali bahtera rumah tangga, mereka sementara tinggal di rumah keluarga istri. Selama di rumah mertua, Marni justru bersikap manja dan selalu ingin dituruti kemauannya. Setiap Sakim pulang kerja, ada saja permintaan Marni. Namun, Sakim tetap bersabar dan selalu memenuhi permintaan istri. “Waktu itu kita harmonis saja, dan enggak ada keributan sama sekali,” katanya. Bagus dong saling pengertian itu namanya.

Setahun usia pernikahan, Marni melahirkan anak pertama yang membuat hubungan mereka semakin harmonis. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap Marni yang manja kembali kambuh. Bahkan sampai banyak mengatur dan mengekang suami. Mulai meminta Sakim tak boleh telat pulang kerja, tak boleh pergi tanpa seizinnya. “Over protektiflah pokoknya. Itu yang bikin kesal. Saya jadi bahan ledekan teman-teman saya. Pada bilang suami takut istrilah, suami enggak punya wibawalah,” kesalnya. Sabar Kang.

Akhirnya, Sakim berontak dan tak lagi mau diatur-atur sang istri. Sakim jadi sering pulang malam dan tak lagi menuruti kemauan Marni. “Yang penting kan enggak selingkuh,” kilahnya. Ah masa sih!

Sejak itu hubungan keduanya merenggang. Sakim dan Marni tak lagi bertegur sapa. “Kita sama-sama egois,” akunya. Ngalah salah satu dong.

Hingga suatu hari saat Sakim pulang kerja sang ibu mertua memarahinya berkat aduan sang istri yang melebih-lebihkan masalah rumah tangga mereka. Kondisi itu membuat Sakim semakin emosi. Peristiwa pengaduan istrinya itu pun dilakukan berkali-kali. Hampir setiap bulan selalu ada saja keributan antara Sakim dan ibu mertuanya. Dari mulai gara-gara masalah tak menuruti kemauan istri sampai sikap curiga istri yang sering melihat Sakim suka mengobrol dengan ibu-ibu tetangga. “Hidup saya enggak bebas. Pulang ke rumah tuh bawaannya emosi mulu,” curhatnya. Tahan emosinya Kang.

Akhirnya, Sakim memilih pergi dan mengontrak rumah. Namun, istri enggan untuk mengikuti suami hingga akhirnya mereka pisah ranjang. “Sudah dua tahun kita pisah ranjang. Enggak tahu mau gimana,” keluhnya. Mudah-mudahan, keluarga Akang kembali seperti semula dan langgeng. Amin. (mg06/zai/ags)