Mertua Sembunyikan Makanan Supaya Tak Dimakan Menantunya yang Pengangguran 

0
527

 Memang sulit menebak kepribadian seseorang. Dilihat dari sikap dan perangai terlihat baik, tapi hati dan perasaan bisa berbeda. Hal seperti inilah yang dialami Cimeng (34) nama samaran terhadap sang mertua.  Saat sebelum menikah ia disambut bagai raja, tapi setelah nikah, rumah terasa seperti neraka. Oalah, kok bisa begitu, Kang?

    “Ya saya juga bingung. Padahal awalnya baik-baik saja, saya main ke rumah juga disambut hangat,” ungkap Cimeng.

    Meski begitu, Cimeng mengaku, cintanya terhadap sang istri, sebut saja Wiwi (31) tak pudar hanya karena masalah ini. Katanya, jangankan dimusuhi mertua, tak disenangi orang sekampung pun kasih sayangnya tak akan pernah sirna. Widih, lebay amat sih Kang.

    Maklumlah, kalau dilihat dari penampilan fisik serta kecocokan, Cimeng dan Wiwi memang bak langit dan bumi. Berkulit hitam dan wajah tak terlalu tampan, Cimeng banyak dibicarakan orang. Dibilang lelaki beruntung dan segala bentuk ledekan lain. Meski begitu, hebatnya, ia tak pernah marah. Menganggap semua ocehan orang sebagai bahan hiburan, ia mensyukuri kenikmatan Tuhan. Widih.

    “Ya saya mah enggak peduli, mau orang ngomong apa pun, yang penting enggak bikin istri sakit hati. Hidup mah dibawa santai saja,” ungkapnya bangga.

    Dari cara mengobrol dan bersenda gurau, tampak jelas Cimeng memang termasuk tipe lelaki humoris. Murah senyum dan tak sungkan berbicara dengan orang baru, ia lelaki yang pandai bergaul. Tak heran, ia memiliki banyak teman. Mudah diterima berbagai kalangan, Cimeng orang yang asyik diajak ngobrol.

    Sedangkan Wiwi, wah, berdasarkan keterang Cimeng, ia wanita spesial. Sewaktu SMA, kebetulan mereka teman satu kelas. Dari sekian banyak wanita, hanya Wiwilah yang jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, meski berpostur kecil, kecantikan wajah berpadu dengan putih kulitnya, membuat siapa pun akan terpesona.

    Tak heran jika dahulu, Wiwi dikejar-kejar banyak pria. Memiliki mantan lebih dari sembilan, bagi Cimeng, itu sesuatu yang sangat mengagumkan. Maka saat itu, ketika Wiwi baru saja putus dengan kekasihnya di kelas tiga, Cimeng tak tinggal diam, ia lekas melakukan pendekatan.

    Tak disangka, sebulan sebelum kelulusan, Cimeng langsung menyampaikan rasa. Ajaibnya, Wiwi juga ternyata memiliki perasaan sama. Jadilah mereka jadian, teman-teman dan sahabat Cimeng awalnya tak percaya. Tapi setelah melihat keduanya saling boncengan motor gede, barulah semua mengakui kisah cinta keduanya. Widih, romantis amat sih Kang.

    “Hehe, iya dong, Kang. Dulu itu kita pacaran sering jalan-jalan naik motor. Pokoknya, masa-masa sekolah tuh masa paling indah,” tuturnya.

    Hingga lulus sekolah, lantaran tak ada biaya, baik Cimeng maupun Wiwi tak melanjutkan kuliah. Mereka yang merupakan warga asli di salah satu kampung di Kota Baja, memilih bekerja di perusahaan ternama menambah ekonomi keluarga. Cimeng dan Wiwi jadi kebanggan orangtua.

    Meski sama-sama saling sibuk bekerja, setiap kali ada waktu luang, keduanya sering main ke rumah orangtua. Baik Cimeng maupun Wiwi, saling mengenal kedua keluarga masing-masing. Bercerita tentang latar belakang keluarga dan kondisi ekonomi, mereka saling menerima apa adanya. Lah ini baik-baik saja, Kang?

    “Ya waktu itu saya sering ke rumah dia pakai motor gede, itu bukan punya saya, tapi punya saudara. Ibu dia juga sebenarnya tahu saudara-saudara saya orang kaya,” katanya.

    Singkat cerita, lantaran banyak teman-teman mengakhiri masa lajang, Cimeng dan Wiwi pun sepakat menuju jenjang pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Ya meski dengan pesta sederhana, hanya menyediakan makan dan hiburan dangdut biasa, mereka tampak bahagia.

    Di awal pernikahan, Cimeng bersikap layaknya suami pada umumnya. Perhatian pada istri dan mertua, setiap tanggal muda, ia mengajak Wiwi dan ibunya makan di luar. Tak hanya itu, bahkan sampai dibelikan baju dan barang mewah lainnya. Hal itu membuat istri dan ibu mertuanya senang.

    Pokoknya, demi kebahagian mereka, Cimeng rela melakukan apa pun. Efeknya, tentu ia bisa tinggal dengan nyaman. Dilayani penuh keistimewaan, Cimeng merasa hidupnya sempurna. Sampai berjalan dua tahun usia pernikahan, hadirlah anak pertama, membuat rumah tangga mereka semakin berwarna.

    Hingga suatu hari, musibah datang tak terduga. Cimeng dipecat dari tempatnya bekerja. Apalah daya, ia pun menganggur dan banyak menghabiskan waktu di rumah. Sementara itu, beruntungnya nasib baik masih menjumpai mereka. Sang istri justru mendapat perpanjangan kontrak kerja. Membuat ekonomi tidak terlalu sulit.

    Mengantar dan menjemput setiap hari, Cimeng merasa bahagia mendapat Wiwi yang mau menggantikan posisi suami. Walau demikian, hal itu tak membuatnya berleha-leha, ia terus berusaha mencari pekerjaan lain. Namun, apalah daya, mungkin memang belum mendapat rezeki, sekian lama mencari lowongan pekerjaan, Cimeng tak mendapat hasil memuaskan.

    Dan di suatu sore, mungkin kesal melihat tingkah Cimeng yang setiap hari ada di rumah, sang ibu mertua menegur serta memberi saran. Katanya, daripada sia-sia jadi suami yang kerjanya cuma ngurus anak gantiin posisi istri, mending datang ke saudara minta uang buat modal usaha.

    Apalah daya, mungkin merasa terhina, ia tak menjawab ucapan sang mertua. Sambil menggendong anaknya, ia lekas menuju kamar. Sejak saat itu, tak ada lagi sapa ramah Cimeng terhadap mertuanya. Mereka saling diam dan menjaga jarak. Waduh, sabar ya Kang.

    “Saya juga tahu waktu itu memang kondisinya lagi susah. Tapi ya harusnya dia enggak usah begitu juga, masa nyuruh saya minta-minta ke saudara. Daripada emosi, ya saya tinggal masuk kamar saja,” curhat Cimeng.

    Parahnya, bagai perang dingin di dalam rumah. Sang ibu mertua melancarkan serangan dengan tidak menyediakan makan. Lantaran sang istri sibuk bekerja, yang masak setiap hari ya ibunya. Sampai suatu siang, sang mertua melancarkan serangan. Sewaktu pagi memasak sampai harum makanan tercium Cimeng, tapi saat siang, ketika Cimeng membuka tangkupan meja makan, tak ada makanan apa pun alias kosong. Parahnya, hal itu terjadi sampai dua minggu lebih.

    Sampai suatu ketika, lantaran keseringan membeli mi instan, ia ditanya terkait masak atau tidaknya sang istri oleh penjaga warung. Mungkin karena kesal, Cimeng keceplosan ngomong kalau makanannya disembunyikan ibu mertua. Apalah daya, hal itu menyebar ke seluruh masyarakat kampung.    

    Dimarahilah Cimeng oleh ibu mertuanya. Sang istri tak berdaya, keributan itu membuat rumah tangga mereka terancam. Soalnya, sang ibu tega menyuruh Cimeng pergi tanpa membawa anak istri. Beruntungnya Cimeng masih bisa meredam emosi. Sampai akhirnya, Cimeng memutuskan mengontrak dan tinggal terpisah dari mertua. Sampai saat ini, hubungannya dengan sang ibu mertua masih renggang.

    Ya ampun, sabar ya Kang Cimeng. Semoga segera baikan dan terus rukun sama ibu mertua serta istri tercinta. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)