Mertua Tega Mencampakkan Menantunya yang Di-PHK

Ini memang kisah yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi, cinta yang menyelimuti peristiwa di dalamnya, membuat setiap orang pasti menitikkan air mata. Seperti halnya Romeo dan Juliet yang dipertemukan tapi kemudian terpisahkan, asmara antara Jaka (35) dan Puah (34), keduanya nama samaran, mengalami hal serupa.

Jaka memang bukanlah orang kaya, ia juga tidak terlahir dari keluarga terhormat. Hidupnya sederhana, makan sehari-hari pun ala kadarnya. Tapi memang bukan itu yang menjadi tujuan hidupnya. Dengan taat beribadah dan menunjukkan sikap baik di mata orang kampung, ia menjadi pemuda panutan warga.

Saat ditanya, Jaka tak mau banyak bicara tentang hidupnya. Seolah menghindari sikap berbangga diri, ia lebih banyak diam dan menjawab seadanya. Tutur kata nan halus dengan senyum yang selalu terlukis indah, akhirnya Jaka bersedia curhat tentang rumah tangganya.

“Saya senang ada yang mendengarkan curhat, kalau mau ditulis juga silakan saja. Yang penting bisa memberi manfaat untuk orang banyak,” katanya kepada Radar Banten.

Semua bermula ketika Jaka jatuh cinta. Layaknya pemuda pada umumnya, ketika virus asmara menyerang, pasti lupa segalanya. Yang ada di kepala hanyalah sang wanita pujaan hati. Meski ada rasa yang mengganjal ketika mantap menentukan rasa, Jaka bisa mengatasinya.

Dari pandangan pertama saat berjumpa, keyakinan itu muncul bak anak panah yang menembus relung jiwa. Apalagi, sesungging senyum yang ia lemparkan, dibalas mesra sambil tetap menjaga mata. Mereka bagai merpati muda yang ditakdirkan untuk bersama Duh, so sweet banget sih Kang.

“Ya, baru kali itu saya merasa bahagia melihat wanita. Jadi, hati ini sih langsung yakin kalau dia memang jodoh saya,” tutur Jaka.

Anehnya, entah karena kebetulan atau takdir Tuhan, mereka bertemu ketiga kalinya di tempat berbeda. Lagi-lagi, Jaka tak bisa menutupi kebahagiaan saat mendapat senyum balasan. Hingga datang suatu kesempatan, mulailah ia memberanikan diri berkenalan.

“Orangnya baik, suaranya juga indah. Waktu itu saya langsung minta nomor teleponnya. Malamnya pas saya telepon, dia angkat dan cepat akrab,” curhat Jaka berseri-seri.

Seiring berjalannya waktu, kenyamanan itu tumbuh di antara keduanya. Meski tak bisa bertatap muka lantaran keseharian Puah yang diatur kedua orangtua, mereka tetap bahagia menjalani hubungan. Sampai akhirnya, Jaka pun menyatakan perasaan. Bahkan, Jaka langsung berjanji siap lahir batin menuju jenjang pernikahan. Dengan terbata-bata tak kuat menahan bahagia, Puah menerima. Ia yang selama ini menutup diri, malam itu isaknya terdengar membuat Jaka semakin cinta.

Tiga bulan menjalin hubungan, Jaka memberanikan diri datang ke rumah Puah. Tak tanggung-tanggung, ia nekat membawa serta orangtua dan saudara. Meski tampak terkejut, Puah pun tak bisa mengelak akan keseriusan sang kekasih yang belum sekalipun bertemu dengan orangtuanya. Widih, nekat amat sih, Kang?

“Di pikiran saya waktu itu, kalau dia yakin ya saya juga yakin. Ini lagi niatnya kan baik mau meminang,” katanya.

Namun, apa mau dikata, harapan memang terkadang tidak sesuai kenyataan. Saat ditanya apa pekerjaan Jaka dan dijawab masih mencari, ayah Puah berdiri dan pergi tanpa permisi. Sontak Jaka dan keluarga pun merasa terhina. Tiga puluh menit menunggu, mereka pamit dengan raut wajah kecewa.

Jaka pun habis dimarahi orangtua. Sejak saat itu hubungannya dengan Puah terancam sirna. Lantaran masalah ekonomi belaka, mereka tak berkutik menghadapi keegoisan orangtua. Hingga suatu hari Jaka bekerja di salah satu perusahaan ternama di Kota Serang.

Merasa sudah memiliki penghasilan, ia memberanikan diri datang ke rumah sang kekasih. Dengan membawa bingkisan makanan, Jaka disambut hangat keluarga. Anehnya, seolah pekerjaan menjadi ukuran kualitas seseorang, malam itu ayah Puah meminta maaf dan bersedia menerima lamaran Jaka.

Singkat cerita meski tampak syok dan takut mengalami hal menyakitkan lagi, orangtua dan saudara Jaka datang ke rumah Puah. Kedua keluarga pun saling bercengkerama, keputusan menuju jenjang pernikahan menjadi puncak dari perbincangan. Jaka dan Puah berbahagia.

Di awal pernikahan, Jaka dan Puah memutuskan tinggal bersama keluarga. Setiap pagi berangkat mencari rezeki, Jaka dipandang lebih oleh keluarga sang istri. Ia menjadi menantu idaman yang sering dimanjakan. Pokoknya, apa yang dibutuhkan Jaka, pasti diberi oleh keluarga.

Hingga dua tahun usia pernikahan, mereka dikaruniai anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Sikap keluarga pun semakin baik dan menghargai keberadaan Jaka. Pokoknya, mereka pasangan suami istri yang bahagia.

Dan musibah itu pun terjadi, Jaka terkena PHK di tempatnya bekerja. Apalah daya, lantaran tak memiliki kemampuan khusus, ia menganggur sambil terus berusaha menyebarkan surat lamaran pekerjaan. Tak terasa meski awalnya selalu mendapat dukungan dari keluarga Puah, setahun tak juga mendapatkan hasil, sikap sang mertua perlahan berubah. Aih, masa sih, Kang?

“Saya juga bingung, memang susah kalau sudah berumah tangga, apalagi punya anak, terus enggak punya kerjaan. Pasti jadi beban!” tukasnya.

Di suatu malam, ketika Jaka pulang seharian mencari pekerjaan, diketuknya pintu rumah tapi tak ada jawaban. Anehnya, semua lampu menyala dan beberapa kali terdengar suara orang yang sedang mengobrol. Satu jam lebih menunggu, sampai tengah malam dan lampu dimatikan, ia tak dibukakan pintu.

Itu terjadi berulang berkali, Jaka mulai merasa diasingkan. Lantaran tak tahan, ia mengamuk memarahi keluarga Puah. Apa mau dikata, lantaran tak berdaya, diusirlah Jaka dari rumah. Puah yang sedang menyusui anaknya hanya mampu menangis berurai air mata. Astaga.

Hingga akhirnya Jaka dan Puah berpisah. Namun, hingga saat ini mereka masih sama-sama sendiri. Jika rindu, keduanya diam-diam masih bisa bertemu.

Ya ampun, sabar ya Kang Jaka dan Teh Puah, semoga kalian disatukan kembali dan menjadi keluarga bahagia selamanya. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)