Meski Sombong, Cinta Tak Bisa Bohong

Mulutmu harimaumu, begitulah yang dialami Mumun (46) nama samaran. Setelah banyak berkoar kepada tetangga kalau suaminya, sebut saja Doplek (48), mau membeli mobil, ia mulai tak disukai orang dan dianggap sombong. Apesnya, Doplek tak jadi beli mobil karena gagal panen. Mumun mengamuk, rumah tangga mereka jadi hinaan tetangga. Mumun dan Doplek emosi sampai harus pisah ranjang. Astaga.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Baros, Mumun dan kedua anaknya tampak berkeringat setelah memakan bakso. Penampilannya yang glamor dengan gelang emas dan kalung, membuat Mumun jadi pusat perhatian. Saat diajak mengobrol, ternyata ia sempat jadi janda sepuluh tahun lalu.

Perjumpaannya dengan Doplek bermula saat Mumun diajak ayahnya berkeliling melihat sawah. Waktu itu Doplek baru selesai panen. Ia dipuji-puji ayah Mumun karena sikap kerja keras dan mau membantu orangtua di sawah. Sejak itu Mumun diceritakan ayahnya tentang Doplek. Mungkin sudah jodoh, keesokannya Doplek bertamu menemui orangtua Mumun dan mengaku ingin menikah dengan Mumun. Wih, jantan amat nih Kang Doplek.

“Ya kalau orang dulu mah memang begitu, Kang” katanya.

Maklumlah, Mumun dianugerahi wajah cantik, kulit putih dan tubuh aduhai. Ditambah lagi ayahnya termasuk orang terhormat di kampung karena dulu sempat menjabat sebagai kepala desa, membuat Mumun disukai banyak pria.

Doplek punya sawah milik orangtua yang dijanjikan bakal diwariskan untuknya karena Doplek anak satu-satunya. Kalau dilihat dari penampilan sih wajahnya pas-pasan. Tapi kalau untuk urusan ekonomi, Doplek bisa menjamin kehidupan sejahtera untuk Mumun.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, hubungan Mumun dan Doplek direstui kedua orangtua. Sejak itu mereka sering main ke rumah masing-masing, bahkan Mumun mulai membawakan makan ke sawah. Wih, so sweet juga nih Teh Mumun.

Enam bulan kemudian Doplek melamar Mumun. Mereka pun menikah seminggu setelahnya. Doplek langsung memboyong Mumun tinggal di rumah keluarganya. Mereka hidup bahagia meski saat itu Doplek belum punya sawah sendiri.

Mengawali rumah tangga, Mumun memberi kesan bahagia pada Doplek. Soalnya, selain penurut dan perhatian pada suami, Mumun juga jago masak. Kehadirannya menjadi warna baru di keluarga Doplek. Setahun kemudian mereka dikaruniai anak pertama membuat rumah tangga semakin mesra.

Tak lama setelah kehadiran sang buah hati, ayah Doplek yang sudah lanjut usia sering jatuh sakit. Meski sudah diobati dan sempat dirawat di rumah sakit, tetapi kondisinya tak kunjung membaik. Sang ayah pun wafat dan mewariskan sawah kepada Doplek.

Sejak itu Doplek mulai berjuang sendiri mencari nafkah untuk anak istri dan ibunya. Kegagalan panen bahkan sempat tak makan seharian sering dialaminya. Hingga berutang beras kepada pemilik warung juga pernah Doplek lakukan.

“Sedih lihat perjuangan suami demi kasih makan anak istri,” Mumun terharu.

Setelah beberapa kali mengalami kegagalan, Doplek pun belajar dari kesalahan. Di musim panen ketiga setelah kematian ayahnya, Doplek mulai mendulang keuntungan dari jerih payahnya. Utang terlunasi, kebutuhan rumah terpenuhi. Sejak itu hasil panennya selalu bagus. Sawah warisan yang awalnya hanya setengah hektare, perlahan diperluas menjadi dua hektare. Rumah tangga Doplek dan Mumun menjadi lebih bahagia.

Namun, hal itu justru membuat Mumun lupa diri. Sering tinggi hati dan mengolok-olok tetangganya yang kurang mampu, ia banyak tak disukai orang. Apalagi kalau sudah memamerkan barang elektronik yang dibelikan suaminya, Mumun tak malu pamer-pamer setiap pagi saat membeli sayur.

“Ya waktu itu saya cuma pengin nunjukin ke orang kalau keluarga saya juga bisa beli barang mahal,” katanya.

Meski sempat dinasihati Doplek, Mumun tak mau mendengarkan suaminya. Doplek waktu itu masih bersabar, sampai suatu hari, datang tamu dari kampung sebelah yang hendak meminjam uang. Mumun malah mencaci-maki. Tindakannya itu membuat Doplek geram. Lagi-lagi keributan terjadi.

Lantaran pertaniannya tengah mengalami peningkatan, Doplek berencana membeli dua mobil tahun depan. Satu pikup dan satu mobil pribadi. Namun, Dolpek lebih memprioritaskan mobil pikup untuk kepentingan usahanya. Tak disangka, rencananya itu malah membuat Mumun semakin berkoar kepada orang-orang.

Hari demi hari berlalu, musim panen pun tinggal menghitung hari. Tapi, sialnya, Doplek mengalami gagal panen. Sawahnya habis dimakan wereng, hal itu juga dialami petani lainnya. Alhasil, Doplek hanya mampu membeli mobil pikup bekas yang kondisinya tak bagus.

Hal itu menjadi olok-olok tetangga dan orang kampung kepada Mumun. Mumun tak terima, ia mengadu ke suami, tapi tak digubris oleh Doplek. Mumun mengamuk. Lantaran kesal pusing memikirkan panennya, Doplek pun membentak Mumun. Malam itu juga Mumun pulang ke rumah orangtua alias pisah ranjang.

Mumun dan Doplek bercerai. Keduanya sama-sama merasa benar dan tak mau meminta maaf. Tapi, tiga bulan kemudian, Doplek yang tak kuat menanggung kesepian akhirnya datang ke rumah Mumun dan mengajak rujuk kembali. Mereka pun bersama lagi dan hidup bahagia sampai hari ini.

“Alhamdulillah, setelah saya minta maaf ke tetangga, sekarang sudah kebeli mobil tiga dan rumah,” akunya bangga.

Alhamdulillah, semoga langgeng terus dan bahagia ya Teh. Amin. (mg06/zee/ira)