Lionel Messi. Foto: FIFA.com

Oleh: Ken Supriyono, Jurnalis Radar Banten/Pegiat Komunitas BantenFuture

ARGENTINA kembali tak berdaya. Leonel Messi cs dibuat malu. Juara dunia dua kali ini, ditekuk lutut skuat Kroasia, pada lanjutan pertandingan fase grup D Piala Dunia 2018, Rusia.

Bertanding di Nizhny Novgorod Stadium, Jumat 22 Juni 2018, Kroasia bermain meyakinkan. Tiga gol diceploskan ke gawang Albiceleste tanpa balas. The Blazers menang.

Menurunkan lima pemain tengah – Rakitic, Brozovic, Rebic, Modric, Perisic -, Kroasia bermain efektik di paruh babak pertama. Tak ada gol tercipta, tapi itu menyulitkan pergerakan Messi.

La Puga terisolasi. Tidak bisa ada suplai bola ke Kun Aguero. Ujung tombak sekaligus juru gedor lini depan pun mandul. Dua punggawa ini, tercatat sebagai pemain terburuk sepanjang 45 menit pertama. Messi, hanya mencatatkan 20 sentuhan bola. Ia hanya lebih baik dari Aguero dengan tujuh sentuhan bola.

Petaka bagi tim Tanggo datang pada menit 52. Kiper Willy Caballero, blunder konyol. Back pass pemain belakang tak bisa dikontrol sempurna. Ante Rebic yang berdiri di depannya menyambut. Menyeploskan menjadi gol pembuka.

Kroasia tak mengendurkan serangan. Sebaliknya, pemain Albicestele yang mulai panik. Alih-alih mengejar gol, Luca Modric menggandakan skor. Captain Kroasia menyeploskan bola kali ke dua, jala gawang yang dikawal Caballero. Gelandang kreatif Real Madrid ini pun, didaulat sebagai man of the macth pertandingan itu.

Messi semakin tertunduk lesu. Upaya Jorge Sampoeli merutasi pemain, tak membawakan hasil. Tragis. Legenda hidup, Diego Maradona sampai tak kuasa meneteskan air mata. Apalagi, Rakitic yang juga rekan sejawan Messi di Barcelona melengkapi kekalahan Argentina di injuritime.

Kemenangan sempurna (3-0) bagi Kroasia. The Blazer memastikan tiket ke babak 16 besar. Namun, tidak bagi pemilik 14 tropi copa Amerika itu. Bisa jadi, pintu bandara Zhukovsk, tempat kali pertama rombongan tim Argentina mendarat di Rusia, sudah terbuka lebar. Nasib Argentina di ujung gerbang airport.

Langkah Messi ke fase berikutnya memang terasa berat. Terlebih, di pertandingan sebelumnya, mereka ditahan imbang tim debutan Islandia. Mereka tinggal menunggu nasib peruntunganya di negeri Tirai Besi.

Hasil pertandingan Islandia melawan Nigeria ikut menentukan. Andai Islandia menang, Argentina butuh banyak gol di pertandingan akhir melawan Nigeria. Nasib mereka diadu lewat selisih gol. Itu pun, jika Islandia dikalahkan Kroasia. Sebaliknya, jika sebaliknya Nigeria yang menang atas Islandia, Argentina juga harus menang melawan Nigeria. Dengan tetap menanti pertandingan Islandia melawan Kroasia.

Tapi rasanya, tim sekaliber Argentina yang dihuni pemain terbaik seperti Messi, Dybala, Higuain, Aguero, dan Maserano, tak layak mengantungkan diri pada tim lain. Kita tunggu saja!

Situasi yang sulit. Dan mungkin, seperti pesan singkat salah satu kawan, “Messi butuh kantong ajaib Doraemon”. Robot masa depan dalam rekaan Fujiko F Fujio. Fiksi ilmiah yang kali pertama terbit dalam bentuk komik pada 1969.

Fiksi ilmiah, yang dirilis dalam bentuk film di Indonesia pada 1988 ini sangat familiar. Saben akhir pekan, menemani masa kecil kita mengisi waktu libur. Dan, seperti Nobita yang selalu merengek ke Doraemon, bocah itu selalu mengantungkan nasibnya pada permintaan yang keluar dari kantong ajaib Doraemon.

Entah masuk akal atau tidak, Doraemon akan selalu menuruti Nobita. Tapi, ujungnya tetap juga, tercapai tidaknya keinginan (kesuksesan) Nobita, ditentukan dari kegigihan dan kerja kerasnya.

Ini sebagaimana akhir kisah film, yang disutradarai Tsutomu Shibayama. Nobita yang masa kecilnya dikenal bodoh dan pemalas, akhirnya sukses menjadi ilmuan besar. Rusaknya Doraemon menjadikan ia mawas diri. Tekadnya memperbaiki Doraemon, menjadikannya seorang yang gigih. Bahkan, dialah profesor yang memperbaiki Doraemon. Nobita juga kesampaian menikahi gadis idamannya semasa kecil, Shisuza Minamoto.

Demikian, nasib tim Argentina. Pengalamannya dua kali juara dunia, dan 14 juara copa Amerika, adalah gen juara yang menyertainya. Itu bisa jadi pelecut. Syaratnya, Argentina tak mengantungkan pada satu pemain. Karena sepakbola (juara), adalah fiksi yang diimajinasikan lewat kerja keras, pantang menyerah, kesabaran berproses, dan kerjasama sebagai satu kesatuan tim.

Kita tunggu kejutannya. Seraya mengaharap, tim garuda berlaga pada kemegahan Piala Dunia 2022 di Qatar, atau 2026 di Amerika Utara. Semoga, kejutan itu tiba!