Minat Warga jadi TKI Tinggi, Diduga Akibat Minimnya Lapangan Pekerjaan

0
103
Ilustrasi

PANDEGLANG – Minat warga Kabupaten Pandeglang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri (TKI-LN), saat ini masih sangat tinggi. Pada tahun 2015, warga yang menjadi TKI sebanyak 395 orang, 2016 sebanyak 475 orang, 2017 sebanyak 378 orang, dan sejak Januari-April tahun ini sudah mencapai 129 orang. Tingginya minat warga bekerja di luar itu, diduga akibat minimnya lapangan pekerjaan khususnya yang ada di Kabupaten Pandeglang.

Ditemui di kantornya, Kepala Seksi (Kasi) Penempatan Tenaga Kerja pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Pandeglang Ayu Ela Badriah mengakui minat warga Kabupaten Pandeglang bekerja di luar negeri, khususnya untuk warga di wilayah selatan Pandeglang, masih sangat tinggi. “Penyebab masalah itu terjadi sepenuhnya karena lapangan pekerjaan yang minim. Seperti tidak ada industri dan kebijakan UMR (upah minimum regional) yang sangat kecil,” kata Ayu kepada Radar Banten, Rabu (18/4).

Ayu mengatakan belum lama ini pihaknya telah menerima laporan dari petugas Kementerian Tenaga Kerja, ada tiga orang TKI ilegal asal Kecamatan Pagelaran, Patia, dan Angsana. Mereka diketahui pada saat akan berangkat. “Rencananya mereka (tiga orang TKI ilegal-red) itu akan berangkat ke Saudi Arabia. Padahal untuk negara Timur Tengah sudah ditutup. Ketiga orang itu juga yang menyerahkan ke pihak keluarganya dari Kementerian Tenaga Kerja,” ungkapnya.

Ayu berharap, ke depan jumlah warga yang TKI-LN menurun. Oleh karena, kondisi itu memperihatinkan jika melihat dampaknya seperti beberapa kasus kekerasan yang sudah terjadi sebelumnya. “Saya sih berharap ke depannya jumlah TKI itu menurun, kasihan,” katanya.

Untuk meminimalisasi minat warga menjadi TKI, Ayu menjelaskan beberapa program yang dilakukan instansinya. Di antaranya, kegiatan pelatihan keterampilan bagi para mantan TKI agar mereka tidak kembali lagi ke luar negeri. “Selain itu, kami juga melakukan pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja lulusan SMA dan sederajatnya. Per tahun rata-rata tak kurang dari 600 orang,” katanya.

Ayu menjelaskan, ratusan calon tenaga kerja yang diberikan keterampilan dipastikan bekerja di sejumlah perusahaan di dalam negeri. “Setelah dilatih, mereka langsung bekerja di sejumlah perusahaan. Dengan sejumlah perusahaan yang mayoritas di Tangerang,” katanya.

Sementara itu, mantan TKI Saudi Arabia Pojok mengaku terpaksa memilih bekerja sebagai TKI pada 2015 lalu lantaran berat menghidupi empat anak seorang diri. “Ya karena terpaksa saja A. Bagaimana kami bisa memiliki rumah dan memberi makan empat anak, belum biaya sekolah, dan membelikan pakaian yang layak. Dari mana kalau saya enggak kerja ke luar negeri,” katanya.

Janda setengah baya itu juga mengaku, bersyukur mendapatkan majikan yang baik saat bekerja di Saudi Arabia, berbeda dengan teman temannya yang selalu mengeluh akibat kurangnya perhatian dari majikan. “Tetapi, tetap saja namanya kerja di negeri orang, kita jauh dengan keluarga. Ada perasaan rindu ke pada keluarga dan tanah kelahiran. Namun, sekarang anak-anak sudah pada besar, sedikit sedikit bisa mencari uang sendiri. Meski saat ini saya tetap harus bekerja menjadi pembantu rumah tangga di daerah Serang,” kata warga Kecamatan Patia itu. (Herman/RBG)