Minim Kemacetan, Waspada Ngebut di Tol Lurus

Jalan bebas hambatan kadang membuat pengendara ingin mengebut. Untuk menghindari kecelakaan pengendara diminta untuk waspada.

JAKARTA – Natal dan Tahun Baru (Nataru) diprediksi berbeda daripada biasanya. Kemacetan kendaraan diprediksi bakal berkurang, tetapi yang dikhawatirkan justru pengemudi yang melebihi batas kecepatan akibat Tol Surabaya-Jakarta yang telah tersambung. Hal tersebut merupakan hasil dari survei tol oleh Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri.

Kabagops Korlantas Polri Kombespol Benyamin mengatakan, saat ini Korlantas sedang melakukan survei tol dari Jakarta hingga Surabaya. Saat ini survei baru sampai ke Pemalang, Jawa Tengah. “Hasil sementara, titik kemacetan memang ada,” jelasnya saat dihubungi, Senin (17/12).

Untuk titik kemacetan di tol, ada di Tol Cikampek dari KM 5 hingga KM 47. Titik yang diprediksi macet ini karena adanya proyek pembangunan jalan. “Walau proyeknya akan dihentikan saat mulai arus mudik,” paparnya.

Rest area juga diprediksi menjadi titik macet. Namun, kemungkinan tingkat kemacetannya kecil. “Bisa dibilang hanya tersendat saja untuk titik rest area karena kapasitasnya rest area sudah baik,” paparnya.

Namun, yang lebih diwaspadai adalah prilaku pengemudi dalam berkendara akibat dari tol yang kondisinya telah mulus dan tersambung dari Surabaya-Jakarta. Kata dia, saat ini memang masih ada tol fungsional seperti tol ruas Pemalang-Semarang, tol ruas Wilangan-Nganjuk-Jombang, dan Pandaan-Malang. “Namun, kondisi tol fungsional ini sudah bagus, hampir semuanya telah beraspal,” ujarnya.

Dampaknya, bisa jadi pengemudi terlena dengan kondisi jalan yang baik dan akhirnya kecepatan kendaraan tidak terkendali. Lantaran itu, potensi terjadinya kecelakaan menjadi lebih tinggi. “Ada beberapa ruas tol yang potensial terjadi kecelakaan karena hal tersebut,” paparnya.

Setidaknya dari hitungan Korlantas ada dua ruas tol yang potensial melenakan pengemudi, yakni Tol Cipali dan tol ruas Solo-Surabaya. Kedua tol tersebut memiliki jalur lurus yang panjang. “Jalan lurus ini membuat orang ingin memacu kendaraannya,” tuturnya.

Berbeda dengan kondisi tol ruas Semarang-Salatiga, dia menjelaskan bahwa ruas tol tersebut cukup banyak belokan yang membuat pengemudi harus menurunkan kecepatannya. “Maka, perlu trik untuk mencegah kecelakaan akibat kecepatan yang melebihi batas,” urainya.

Caranya, dengan membatasi kecepatan kendaraan dan keluarga yang ikut dalam kendaraan harus saling mengingatkan. Perlu juga mengajak pengemudi untuk berbincang-bincang agar tidak mengantuk. “Persiapan lainnya perlu pengemudi cadangan, yang terus bergantian selama perjalanan. Tiga jam ganti pengemudi, ini agar terus fit,” ungkapnya.

Sementara itu, Kakorlantas Polri Irjen Refdi Andri menjelaskan bahwa kemungkinan puncak arus mudik Natal 2018 terjadi pada 21 Desember dan 22 Desember dan untuk puncak arus balik kemungkinan 26 Desember atau 27 Desember. “Tapi, kami masih evaluasi tiap minggunya,” jelasnya.

Adapun prediksi jumlah kendaraan yang akan mudik mencapai 90 ribu kendaraan. Dia menuturkan bahwa tahun lalu jumlah kendaraan yang mudik Nataru mencapai 85 ribu mobil. “Tahun ini diprediksi naik sedikit,” tuturnya.

Langkah yang dilakukan bila terjadi kemacetan, yakni contraflow. Kendaraan dialihkan arusnya untuk keluar tol. “Bisa contraflow ini tidak diperlukan, kalau tidak macet,” paparnya. (JPG/RBG)