Minimalisasi Dampak Bencana Kebakaran

Sejumlah warga Kampung Pangasih Kopi, Desa Sukaraja, Kecamatan Warunggunung, membersihkan puing-puing bangunan yang ludes terbakar.

RANGKASBITUNG – Kalangan anggota DPRD Lebak prihatin dengan meningkatnya kasus kebakaran selama musim kemarau tahun ini. Mereka mendesak agar dampak dari bencana itu dapat diminimalisasi.

Diketahui, hingga 19 Agustus lalu, bencana kebakaran di Lebak tercatat telah terjadi 16 kali kasus. “Kasus kebakaran di bulan Agustus ini cukup tinggi. Karena itu, saya berharap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dapat optimal menanganinya,” kata anggota Fraksi Demokrat DPRD Lebak Ucuy Masyhuri, kemarin.

Menurutnya, sebagian banyak kasus kebakaran yang terjadi di Lebak tidak tertangani. Akibatnya, bangunan rumah atau pesantren habis dilalap si jago merah, karena petugas terlambat datang. “Kita akui masih memiliki keterbatasan peralatan dan mobil damkar. Ke depan, kita akan tambah perlengkapan untuk pemadam kebakaran, sehingga petugas damkar bisa optimal dalam menjalankan tugasnya,” kata Ucuy.

Wakil Ketua DPRD Lebak Mas Yogi Rochmat menyatakan, seharusnya Dinas Satpol PP Lebak telah meningkatkan pelayanan penanganan kebakaran kepada masyarakat. Oleh karena, sejak awal tahun lalu telah dibentuk wilayah manajemen kebakaran (WMK) di Lebak selatan. “Kita tahun ini, telah menyetujui pengadaan satu unit mobil damkar. Dengan demikian Lebak kini memiliki tiga unit mobil damkar,” katanya.

Politikus Partai Golkar ini meminta kepada masyarakat untuk lebih hati-hati dan waspada terhadap ancaman kebakaran. Oleh karena, kata Yogi, sebagian besar penyebab kebakaran akibat korsleting listrik. “Saya sudah komunikasikan dengan Dinas Satpol PP untuk penanganan kebakaran. Kalau bisa ke depan aparatur desa dan kecamatan ikut dilatih agar dapat melakukan pemadaman kebakaran,” katanya. (tur/zis)