Cerita ini menjadi bukti, kalau kata-kata adalah senjata lelaki untuk menaklukan wanita pujaan hati. Digombali tanpa henti, Minul (29) tak menyadari kalau lelaki yang mendekati, sebut saja Juki (32) sudah punya anak istri. Termakan rayuan gombal, ia hanya merutuki diri setelah dicaci maki. Oalah.

“Kalau saja saya tahu dia sudah berumah tangga, ya enggak bakal saya terima. Ih, kesel, malah jadi saya yang dituduh wanita perebut suami orang,” tukas Minul saat diwawancara Radar Banten.

Memiliki tubuh seksi dengan kulit putih, Minul memang mudah memikat hati lelaki. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia tumbuh menjadi wanita mandiri dan tak malu bekerja menjaga warung kopi milik orangtua. Mendapat jatah jaga warung saat malam, ia sering melayani para karyawan yang baru pulang bekerja.

Salah satunya adalah Juki. Pandai berbicara dengan gaya anak muda, ia memiliki banyak teman. Kalau sudah tiba waktu gajian, lelaki asli Serang ini sering nongkrong di warung kopi sampai pagi. Saking bebasnya Juki, orang-orang juga menyangka ia masih perjaka.

Minul bercerita, semua berawal dari senyuman manis Juki ketika dilayani saat memesan kopi. Seolah diberi kode-kode untuk mendekati, Minul yang waktu itu memang tengah menikmati status sendiri, siap membuka hati untuk Juki. Padahal, ayahnya sudah berjanji akan mengenalkan dengan seorang lelaki.

Waduh, katanya sendiri?

“Iya, waktu itu saya memang sedang enggak punya pacar, Kang. Kan bapak juga masih ngomong mau ngenalin doang, saya enggak tahu siapa orangnya,” terang Minul.

Oh begitu.

Meski hatinya bersiap menyambut Juki, namun bukan Minul namanya kalau langsung menunjukkan sikap ramah. Seperti yang ia lakukan pada setiap lelaki yang meliriknya, Minul menjaga sikap dan cenderung tidak peduli. Diperlakukan seperti itu, justru membuat Juki semakin bersemangat.

Bagai remaja yang baru merasakan cinta, keesokannya Juki mulai berani menggoda. Walau masih mendapat perlakuan cuek dari sang wanita, Juki tak patah semangat. Ia malah mendekati orangtua Minul. Bukannya mendapat sambutan hangat, Juki malah didamprat.

Wah, maksudnya gimana tuh Teh?

“Iya dia memang lelaki yang berani, enggak bisa akrabin saya, dia nyoba akrabin bapak. Eh bapak malah bilang kalau saya sudah mau dijodohin,” tutur Minul.

Tersentuh akan perjuangan Juki, Minul akhirnya mau menerima dan membuka diri untuk mengobrol. Ia menjelaskan tentang perjodohannya dengan seorang lelaki yang tak dikenal. Seolah mendapat lampu hijau, Juki mulai menyampaikan rayuan gombal.

Wuih, ngegombalinnya kayak gimana sih Teh?

“Beuh, kang, saya tuh dibikin melayang setiap hari. Pokoknya kalau dia sudah ngomong, pasti muji-muji saya terus, cantiklah, baiklah segala macem, bahkan dia bilang saya bidadari tak bersayap,” ungkap Minul.

Wah romantis juga ya Kang Juki, Hehe.

Tak hanya itu, seolah mengerti isi hati Minul, Juki mengaku siap melindungi dan berjuang sampai mati kalau sang ayah tetap akan menjodohkan.

Diperlakukan demikian, Minul tersanjung dan merasa ada yang melindungi. Ya, kayak perasaan Milea ke Dilan gitulah ceritanya.

Hingga suatu hari, dikenalkanlah Minul dengan lelaki pilihan ayahnya. Lantaran sudah kecantol dengan bayang-bayang Juki, ia menolak keinginan sang ayah menikah dengan lelaki itu. Jadilah Minul menjomblo lagi. Bagai ksatria yang menyelamatkan putri raja, keesokannya Juki berjanji akan menikahi.

Parahnya, Minul malah langsung mempercayai. Tanpa mengoreksi terlebih dahulu bagaimana latar belakang Juki, ia bersedia dan terlihat bahagia. Bagai bermimpi kejatuhan duren montong, Juki jelas senang luar biasa. Hanya bermodal rayuan gombal dan kata-kata, ia bakal punya istri dua.

Oalah.

Singkat cerita, dengan modal seadanya, Juki melamar Minul. Menemui kedua orangtua, ia menyatakan ingin menikahi sang wanita. Semua turut bahagia. Tak menunggu waktu lama, dua minggu pasca lamaran, Juki dan Minul menggelar pesta pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, kedua resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, Juki menjadi suami yang penuh perhatian. Melayani Minul sepenuh hati, ia menuruti semua kemauan sang istri. Hal serupa dilakukan Minul, seolah ingin menunjukkan ketulusan cinta, Minul patuh pada apa yang diperintah suaminya.
Layaknya pasangan baru pada umumnya, mereka saling menjaga perasaan satu sama lain. Namun sebulan kemudian, Juki jarang pulang ke rumah. Beralasan sibuk pekerjaan, ia pulang seminggu sekali. Hebatnya, Minul tidak curiga. Hingga setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan keduanya semakin mesra.

Dan seperti dikatakan pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti menyentuh tanah, sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai pasti tercium baunya, rahasia Juki yang tersimpan sekian lama, mulai terkuak ke permukaan. Sang istri pertama mulai curiga.

Mengangkat panggilan telepon malam hari, Minul habis dicaci maki. Tak sadar akan apa yang terjadi, ia mengira itu orang yang salah sambung. Anehnya, ia merasakan tak enak hati, apalagi sang suami sedang tidak ada di rumah. Jadilah ia tidak bisa tidur semalaman.

Dan apa yang ditakutkan menjadi kenyataan. Keesokan harinya, saat tengah mengasuh sang buah hati, Minul kaget dengan suara ribut-ribut di depan rumah. Penasaran dengan apa yang terjadi, ia pun menghampiri. Belum sempat menyapa sang suami, ia sudah dicaci maki. Saat itulah Minul baru tahu kalau Juki lelaki yang sudah memiliki anak dan istri. Weleh-weleh. Katanya masih sendiri, ternyata punya anak istri. Itu sih statusnya bujangan bohongan dong alias bujang abal-abal.

“Saya enggak kepikiran kalau dia sudah berkeluarga, soalnya gayanya memang kayak anak muda, apalagi kalau sudah merayu, ya memang bikin baper orangnya, Kang!” kata Minul.

Habis dicaci maki bahkan hampir terjadi tindak kekerasan, Minul tak bisa mengontrol diri, ia ikut terbawa emosi. Sampai pihak keamanan dan kedua keluarga datang melerai, Minul pun memutuskan melepas Juki. Ia kini hidup sendiri. Sedangkan Juki kabarnya bercerai dengan istri pertamanya. Waduh, gara-gara rayuan gombal rumah tangga jadi berantakan.

Sabar ya Teh Minul. Semoga selalu diberi rezeki dan dipertemukan dengan jodohnya lagi. AMin. (daru-zetizen/zee/RBG)