Miris! Janda Tua di Desa Tamiang Huni Gubuk Reyot Sebatang Kara

0
198
Sodah di gubuknya yang kumuh dan reyot di Kampung Jambu, Desa Tamiang, Kecamatan Gunungsari, Rabu (1/11). FOTO: ROZAK/RADAR BANTEN

Memasuki usia senja, sepatutnya tinggal menikmati masa tuanya. Namun, lain dengan yang dialami Sodah, janda tua itu hanya bisa meratapi nasib hidup di bawah garis kemiskinan serta tak ada keluarga yang bisa dijadikan sandaran.

———————————

ABDUL ROZAK- GUNUNGSARI

———————————

Rabu (1/11), Radar Banten berkesempatan mendatangi rumah Sodah di Kampung Jambu, Desa Tamiang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang. Tempat tinggal Sodah berada di wilayah perbukitan di tengah perkampungan. Jaraknya sekira 15 kilometer dari pusat kota. Rumah Sodah terhimpit satu rumah milik warga lain dan pondok pesantren salafi. Kondisi rumah yang ditempati Sodah sungguh memprihatinkan. Tak laik jadi tempat tinggal manusia.

Rumah Sodah berupa gubuk kumuh yang dibagi dua sekat, lebih mirip kandang ayam. Rumah pun terlihat reyot. Dinding rumah hanya berlapiskan bilik yang sudah pada bolong, lantai beralasakan tanah, kayu penahan gubuk lapuk, atap rumah juga ditutupi genting rapuh dan usang.

Di tengah rumah, amben menjadi alas tidur. Terdapat bangku kayu terbuat dari papan yang sudah lapuk disimpan di pojok dapur. Perabotan rumah juga seadanya dan tidak memiliki ruang untuk mandi cuci kakus (MCK). Tampak sejumlah ayam asyik mematuk pakan di depan halaman rumah, serta beberapa kucing lalu lalang di sudut lain rumah Sodah.

Ditemui di kediamannya, tatapan Sodah seperti orang kebingungan. Meski tidak cakap berbahasa Indonesia ketika diajak berbincang, Sodah berkenan menceritakan kisah hidupnya kepada wartawan dengan bahasa Jawa Serang. Sodah mengaku tidak ingat sudah berapa lama tinggal di Kampung Jambu sebelum pindah dari kampung sebelah setelah rumah lamanya dijual untuk bertahan hidup.

Berdasarkan pengakuan Sodah, sudah lebih dari sepuluh tahun ia tinggal sebatang kara. Suami dan anak satu-satunya sudah lama meninggal dunia. Sejak itu, Sodah bertahan hidup sendiri, kadang-kadang mendapat bantuan dari tetangga. Setiap hari Sodah makan seadanya. Terkadang dipasok makanan oleh tetangga. Ada juga bantuan dari pemerintah.

Wis lawas, puluhan tahunan teng (sudah lama, sekitar puluhan tahun nak-red),” ucap Sodah dengan logat Jasengnya kepada Radar Banten.

Janda ditinggal mati itu mengaku, tidak memiliki satu pun saudara di desa itu. Sehari-hari, Sodah mencari nafkah dengan memungut melinjo yang jatuh di kebun orang untuk dijual guna memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Nenek kelahiran 1961 itu mengaku, sering didata pemerintah desa untuk diajukan sebagai penerima rehab rumah tidak layak huni (RTLH). Namun sampai saat ini, bantuan belum juga datang. Beruntung, Sodah kerap dibantu tetangganya bergotong royong ketika ada kerusakan di gubuknya. Tak jarang Sodah tidur tidak nyaman ketika hujan karena atap rumah yang bocor. Untuk mandi, Sodah memanfaatkan air di rumah tetangga, terkadang pergi ke sumur umum di tengah-tengah kebun.

Jarake nana sekilomah (jaraknya ada satu sekitar satu kilometer-red),” terang Sodah.

Kasi Pemerintahan Desa Tamiang Titin Bayinah yang ditemui di kantor desa mengaku, sudah mengajukan perbaikan untuk rumah Sodah kepada Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Tata Bangunan (DPKPTB) bersama 66 RTLH lainnya. “Sudah kita ajukan dari tahun kemarin,” ungkapnya.

Informasi yang diterima Titin, berkas yang diajukannya sudah mendapatkan alokasi dana dari pemerintah, hanya tidak sampai kepada masyarakat. “Pemerintah desa sebelumnya bermasalah. Tapi, kita terus mengajukan rehab sampai benar-benar dibangun,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinsos Kabupaten Serang Saefudin mengatakan, rencana perbaikan rumah Sodah sempat terkendala. Di antaranya soal kepemilikan lahan. Rumah Sodah berdiri di atas tanah orang lain. Bahkan, pihaknya pernah menawarkan untuk membangunkan rumah Sodah di lahan lain. Namun, Sodah menolak karena sudah bertahun-tahun hidup di tempat itu. Bahkan, Sodah juga pernah ditawarkan tinggal di panti jompo. “Tapi, tetap enggak mau karena ketakutan,” ujarnya.

Saefudin mengaku, sudah berkoordinasi dengan Camat Gunungsari dan Kades Tamiang terkait nasib Sodah. Hasilnya, pihak pemilik lahan akan memberikan hak guna untuk Sodah. “Saya juga sudah koordinasi dengan Dandim (menyebut Dandim 0602/Serang Letkol Czi Harry Praptomo-red). Tinggal nanti dibuatkan saja proposalnya. Nanti pembangunannya menggunakan dana CSR atau dari Baznas,” pungkasnya. (*)