Ketua IeSPA, Eddy Lim, mengungkapkan alasan Mobile Legends bisa dipertandingkan di SEA Games 2019. (Bintang Rahmat/JawaPos.com)

KETUA Indonesia e-Sport Association (IeSPA), Eddy Lim mengungkapkan bahwa masuknya games Mobile Legends ke dalam SEA Games 2019 tidak terlepas dari tingkat kepopulerannya di kawasan Asia Tenggara. Padahal jika dibandingkan dengan games sejenis, AOV lebih banyak peminatnya.

Eddy mengungkapkan, terdapat tiga aspek dalam memilih games untuk sebuah kompetisi e-Sport. Di antaranya adalah popularitas, jangka waktu bertahan, dan tingkat kekerasan.

Jika mengacu kepada itu semua, maka tidak heran Mobile Legends tidak diikutsertakan dalam eksibisi Asian Games 2018 kemarin. Sebab games tersebut kalah pamor dari AOV.

“Kalau di dunia itu, AOV yang dipertandingkan. Karena games tersebut lebih banyak peminatnya. Hampir 80 negara memainkannya,” ungkap Eddy di Mall Taman Anggrek, Jakarta, Senin (7/1), dilansir JawaPos.com.

Sebaliknya, untuk tingkat Asia Tenggara, pamor Mobile Legends lebih baik dibandingkan AOV. Hal inilah yang mendasari masuknya games itu dalam SEA Games 2019 nanti.

“Di Asia Tenggara, Mobile Legends dimainkan di empat hingga lima negara. Makanya game tersebut akan dimainkan ke dalam SEA Games 2019,” jelasnya.

Kendati demikian, bukan berarti kehadiran Mobile Legends dalam SEA Games 2019 dapat membuat games tersebut langsung diakui di banyak negara. Bisa saja setelah kompetisi tersebut berlangsung, pamor Mobile Legends justru menjadi menurun.

“Mobile Legends bisa bertahan berapa lama? Ngak ada yang tahu. Dulu Clash of Clan ramai, sekarang sudah turun. Mobile Legends memang masih ramai, tetapi saat ini mulai turun akibat PUBG mobile,” ucapnya.

“Kita akui Mobile Legends sekarang masuk e-Sport. Tapi untuk pengakuan dunia masih harus menunggu. Berbeda dengan games lain, misal Dota. Itu tidak usah menunggu lagi. Tekken juga sama, itu games lama, sudah pasti masuk,” tutupnya. (JPC)