Modal BUMD Agrobisnis Dicicil

0
365 views

SERANG – Penyertaan modal untuk BUMD Agrobisnis dicicil. APBD Perubahan Provinsi Banten tahun ini, penyertaan modal BUMD tersebut dialokasikan Rp10 miliar. Kebijakan umum anggaran dan prioritas plafon anggaran sementara (KUA PPAS) tahun 2021, penyertaan modal dianggarkan hanya Rp20 miliar.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten Muhtarom mengatakan, pada Raperda tentang Penyertaan Modal kepada BUMD Agrobisnis, tercantum Rp300 miliar. “Tapi di Perubahan APBD tahun ini baru Rp10 miliar,” ujar Muhtarom, kemarin.

Dia mengatakan, eksekutif berniat untuk menuntaskan penyertaan modal kepada BUMD tahun depan. Namun, berdasarkan kesepakatan dengan legislatif, yang teranggarkan baru Rp20 miliar.

Pria yang juga menjabat sebagai Komisaris di BUMD Agrobisnis ini mengaku, dengan modal Rp30 miliar, perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan. Apalagi, lingkup bisnis BUMD Agrobisnis adalah pertanian. “Tertuang dalam (Rancangan-red) Perda, BUMD diberikan ruang yang luas,” terangnya.

Kata dia, nanti, BUMD Agrobisnis melakukan fungsi produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Selama ini, produksi padi di Banten sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, hasil pertanian itu biasanya langsung ke tengkulak atau BUMD di luar Banten. Untuk itu, kehadiran BUMD Agrobisnis ini merupakan suatu hal yang dinantikan. “Karena selama ini pemerintah tidak bisa langsung membeli, maka melalui BUMD ini lah pemerintah hadir,” tuturnya.

Untuk itu, lanjut Muhtarom, modal sangat diperlukan. Apabila tidak, hasil pertanian bisa dibeli oleh pihak lain. Apalagi, dalam kondisi saat ini, hasil pertanian Banten sangat diperlukan untuk ketahanan pangan.

Selain penyertaan modal berupa dana segar, mantan Asda II Pemkot Tangerang ini mengungkapkan, Pemprov juga menyiapkan Pusat Distribusi Banten yang akan mulai dibangun tahun depan. Untuk pembangunannya, anggaran yang digelontorkan sekira Rp60 miliar di atas lahan seluas 10 hektare. “Semua produk dari Banten masuk ke situ (pusat distribusi-red). Di dalamnya ada gudang dan kios-kios,” ujarnya.

Kata dia, hal itu memang perlu penanganan dan kerja keras yang luar biasa lantaran memindahkan pasar ke pusat distribusi. “Dimana orang biasanya belanja ke pasar induk, kini ke pusat distribusi,” tutur Muhtarom.

Terpisah, Direktur Operasional BUMD Agrobisnis Ilham Mustofa memang berharap penyertaan modal yang digelontorkan Pemprov tidak dicicil melainkan sekaligus. Apalagi, sebagai perusahaan yang baru berdiri, pihaknya membutuhkan banyak belanja modal seperti untuk pembuatan pabrik penggilingan beras modern dan peternakan. Namun, apabila tidak memungkinkan, maka pihaknya akan menerapkan sistem bermain puzzle. “Tentu saja, perkembangannya akan lambat. Seharusnya lima tahun sudah bisa seperti BUMD Darmajaya di Jakarta, tentu agak lambat apabila penyertaan modalnya juga belum kuat,” tuturnya.

Kata dia, dalam Raperda disebutkan penyertaan modal untuk BUMD Agrobisnis mencapai Rp300 miliar, tapi itu berbentuk uang atau aset tetap yang disertakan. Kemungkinan akan lebih banyak aset tetap, misalnya Pusat Distribusi Agrobisnis yang saat ini sedang disiapkan. “Padahal sebagai perusahaan baru, saat start, lebih butuh dalam bentuk dana. Itu seseuai pengalaman kami,” ujar pria yang juga merupakan penggiat usaha di bidang peternakan ini.

Kata dia, salah satu persyaratan perusahaan terbatas yakni penempatan 25 persen modal atau apabila dinominalkan yakni Rp75 miliar yang harus disetorkan. Untuk itu, pihaknya akan mempresentasikan hal itu di depan panitia khusus DPRD Provinsi Banten agar penyertaan modal dapat ditambah.

Ilham menerangkan, modal itu dibutuhkan karena BUMD Agrobisnis akan melakukan tiga hal yakni makanan karena itu menjadi sesuatu yang krusial. “Gabah petani Banten banyak yang keluar daerah. Sedangkan beras balik lagi dengan berbagai brand. Maka, kami akan coba membuat pabrik penggilingan beras modern untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat Banten,” terangnya. Kemudian, peternakan, karena pihaknya akan membangun peternakan susu dan kambing sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Terakhir, pemasaran. “Nah ini pasar agro (pusat distribusi agrobisnis-red). Ini perencanaan bisnis panjang,” ujar Ilham. (nna/nda)