Mengutip pepatah lama “mulutmu harimaumu”, apa yang dialami pasangan muda ini menarik untuk ditelusuri. Bagaimana tidak, lantaran tak mau dianggap remeh oleh keluarga sang istri, sikap dan ucapan suami sombongnya selangit. Ini dia kisah pasangan yang sempat  berstatus suami istri, sebut saja Jebod (37) dan Enye (35), keduanya nama samaran. Mereka tinggal di salah satu kampung di Kabupaten Serang.

Apalah daya, pesta yang awalnya digadang-gadang akan menjadi perayaan pernikahan terbesar di Kampung Semriwing Apung, sebut saja begitu nama daerahnya, hanya menjadi kenangan penuh luka. Baik keluarga pihak wanita maupun mempelai pria, sama-sama tidak bisa berlapang dada. Oalah, kok bisa begitu ya, memangnya kenapa sih, Teh?

“Hem… saya kalau ingat kejadian itu suka sedih, Kang. Ya, semoga hal yang saya alami enggak terjadi ke calon pengantin di mana pun. Perih rasanya!” keluh Enye kepada Radar Banten.

Meski tidak sampai menitikkan air mata, dari raut wajahnya, Enye memang tampak tak bergairah menceritakan kisah masa lalunya. Namun, mungkin ingin berbagi pengalaman atas apa yang dialami, ia pun rela menyempatkan waktu luangnya untuk bercerita panjang lebar kepada wartawan.

Semua berawal ketika Enye lulus SMA. Bagai bidadari turun dari kayangan, Enye yang sedari kecil tidak begitu menarik perhatian lelaki lantaran berpenampilan ala kadarnya dan belum bisa dandan, tiba-tiba saja hadir dengan penampilan baru. Ia lebih modis dan tampak dewasa.

Berbekal motivasi tinggi ingin menjadi wanita paling cantik di antara teman-temannya, Enye tak peduli jika harus mengeluarkan banyak biaya. Seperti untuk pergi ke salon dan membeli baju-baju baru. Maklumlah, meski tarlihat sederhana, sebenarnya ia termasuk wanita yang terlahir dari keluarga kaya.

Sang ayah yang memiliki sawah di mana-mana, sejak muda memang tak pernah menghambur-hamburkan uang untuk kepuasan sementara. Menerapkan pola hidup sederhana dan apa adanya, mereka keluarga yang bersahaja. Katanya sih, ayah Enyeh memang sengaja seperti itu untuk bekal hidup anak-anaknya di masa depan. Widih, keren amat nih orangtuanya Teh Enyeh!

“Ya, bapak mah memang begitu, Kang. Pelit sih enggak, cuma kadang suka marah kalau beli barang-barang yang tidak penting,” curhatnya. Lah, terus itu beli baju dan ke salon, memang penting Teh?

“Atuh pentinglah. Ini kan demi anak perempuan yang memang sudah saatnya dandan. Bisa-bisa ngamuk saya kalau waktu itu enggak dibeliin sama bapak,” tutur Enye.

Setelah ditelusuri, wajar saja, ternyata Enye anak ketiga dari empat bersaudara dan wanita satu-satunya. Apa yang diminta, pasti dituruti kedua orangtua. Sampai Enye meminta kendaraan pribadi sekalipun, ayahnya membelikan motor untuk sang buah hati tercinta.

Hingga suatu hari, apa yang dilakukan Enye tidak sia-sia. Dengan penampilan baru yang lebih menggoda, banyak lelaki datang mendekat. Mulai dari teman seusia sampai yang jauh lebih tua, berlomba-lomba mendapatkan cintanya. Berbagai usaha pun dilakukan, ada yang diam-diam meminta nomor telepon, mengirim surat, bahkan ada juga yang nekat datang ke rumah. Widih, keren amat.

Saking bahagianya memiliki hidup baru penuh warna, Enye tidak menyia-nyiakan masa muda sebagai wanita cantik yang dikejar banyak pria. Seolah tak peduli perasaan lelaki, ia waktu itu memacari tiga lelaki sekaligus. Hebatnya, ketiga-tiganya pun tahu kalau mereka bukanlah satu-satunya kekasih Enye. Astaga, masa sih Teh?

“Oh, jadi Kakang enggak percaya? Kalau saja saya masih muda, pasti situ juga bakal suka. Sekarang saja saya sudah tua alias emak-emak,” tukas Enye. Iya-iya Teh percaya kok.

Singkat cerita, dari sekian banyak lelaki yang berlomba mendapatkan hati Enye, akhirnya seperti apa yang dialami banyak wanita pada umumnya, Enye memilih satu lelaki pujaan hati yang menurutnya paling baik di antara yang terbaik. Ia adalah Jebod. Berpenampilan keren dengan gaya ala-ala orang kaya, ia sukses merebut Enye dari pacar-pacarnya.

Seperti diceritakan Enye, sewaktu awal ia tidak begitu tahu lebih dalam tentang bagaimana kondisi ekonomi Jebod. Setiap kali menanyakan atau meminta untuk main ke rumah, sang kekasih selalu menolak dan mengalihkan topik pembicaraan. Dengan penampilan dan sikapnya yang royal, membuat Enye tak begitu khawatir soal ekonomi. Apalagi kalau sudah bisa bikin ketawa dan bahagia, yang namanya anak muda, soal harta mah tak jadi masalah.

Seiring bertambahnya usia, banyak teman-teman Enye mengakhiri masa lajang. Setiap kali kondangan berdua, selalu saja ada yang menanyakan kapan menyusul? Mungkin karena hal itulah, Enye dan Jebod ngebet ingin segara menuju pelaminan. Padahal, waktu itu usia mereka masih terbilang cukup muda.

Apa mau dikata, lagi-lagi, sambil merengek di hadapan sang ayah, Enye meminta segera dinikahkan. Meski awalnya tidak disetujui, yang namanya naluri ibu, pasti tak tega melihat buah hati tersiksa. Keluarga besar pun mengabulkan permintaan Enye.

Tak lama kemudian, datanglah Jebod beserta keluarga besar melamar sang kekasih hati. Enye yang malam itu mengenakan kebaya putih dengan kain batik, membuat siapa pun terkagum-kagum melihatnya. Apalagi, ketika bersanding dengan Jebod yang berkemeja dengan celana bahannya, mereka tampak serasi bak raja dan ratu.

Selesai acara lamaran, kedua keluarga saling berunding untuk menentukan tanggal pernikahan. Saat itu mulailah muncul benih-benih keretakan yang dirasakan keluarga Enye terhadap sosok Jebod dan keluarga. Lah, baru selesai lamaran kok sudah timbul keretakan, ini bagaimana ceritanya Teh?

“Waktu itu Kang Jebod ngomongnya tinggi terus, Kang. Dia bilang, pokoknya keluarga Enye enggak usah khawatir, pesta pernikahan nanti biar saya yang bayar. Mau ngundang tamu seluruh kampung atau kampung sebelah juga silahkan, menunya juga harus enak. Soal uang, enggak usah pusing,” kata Enye meniru ucapan Jebod.

Dua minggu setelah malam lamaran, pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Enye dan Jebod resmi menjadi sepasang suami istri. Mengundang tamu undangan dari berbagai kalangan, semua orang dipuaskan dengan mewahnya tenda hajatan dan menu hidangan istimewa. Pokoknya, hari itu semua terlihat bahagia.

Hingga tiga hari pasca pernikahan, keluarga Enye dikagetkan dengan datangnya beberapa orang menagih uang. Ketika ditanya, mereka adalah pemilik tenda hajatan, katering menu makanan, dan beberapa orang yang mengaku belum dibayar atas jasanya membantu acara pernikahan kemarin.

Padahal, sebelum nikahan sudah terjadi kesepakatan, semua biaya pesta ditanggung oleh Jebod, ia sendiri yang mengatakannya. Akhirnya, lantaran tak ingin menanggung malu, ayah Enye pun mengeluarkan uang dan melunasi semua tagihan. Setelah orang-orang itu pulang, seolah tak mampu menyembunyikan kekesalan, ia berkata tegas, “Segera minta cerai!”

Lantaran merasa bersalah, Enye pun menuruti kemauan ayahnya. Sebulan kemudian, Enye dan Jebod resmi berpisah untuk selama-lamanya. Saat ini Enye hidup bahagia dengan suami baru serta dikaruniai dua anak.

Oalah, semoga ini jadi pejaran berharga buat Teh Enye dan kita semua. Sehat selalu dan bahagia ya Teh. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)