Modernisasi Pesantren KH. A. Matin Djawahir

0
1.284 views

oleh Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si. (Sekjen FSPP Provinsi Banten)

KH. A. Matin Djawahir lahir di Serang pada tanggal 10 Juni 1968. Beliau wafat pada hari Jumat pagi jam 05.00 WIB di Serang pada tanggal 12 Juni 2020 pada usia 52 tahun. Dua hari setelah hari ulang tahunnya. Semoga Allah merahmati beliau pada hari kelahirannya, wafatnya, dan kebangkitannya kelak.

Ahmad Matin dibesarkan di keluarga santri. Ayah beliau KH. Djawahir Abu Bakar mendirikan Pondok Pesantren Al-Falah pada tahun 1973 di Ciloang, RT 01/09 Kelurahan Sumur Pecung, Kec. Serang, Kota Serang, Prov. Banten. Nama Al-Falah merupakan pemberian dari guru beliau KH. Suja’i dari Cianjur dan Habib Alwi Al-Attas dari Jakarta. Nama tersebut merupakan tabarrukan dan tafa’ulan dari nama madrasah yang sudah maju di Makkah. Harapannya Pondok Pesantren Al-Falah tumbuh berkembang dan maju sebagaimana madrasah di Mekkah tersebut.

Ahmad Matin sejak kecil belajar agama dari lingkungan keluarga Pesantren Salafiyah. Kemudian melanjutkan ke Madrasah Al Jauharatunnaqiyah Cibeber Cilegon sambil mondok di Pelamunan Kramatwatu Serang. Setelah lulus dari Cibeber mengikuti jejak ayahnya belajar di Cianjur, Sukabumi, Caringin, dan lainnnya.

Setelah putera nya dianggap cakap menimpin, pada tahun 1994 KH. Djawahir Abu Bakar menyerahkan kepemimpinan Pesantren kepada putranya Ahmad Matin. Dibawah kepemimpinan Ahmad Matin nama Pesantren berganti menjadi Pondok Pesantren Daarul Falah. Penambahan kata Daarul diambil dari nama sebuah pondok pesantren tempat KH. Ahmad Matin menimba ilmu yaitu Pondok Pesantren Daarul Hikam di Sukabumi, Daarul Ulum di Cianjur, dan Daarul Ibtida di Caringin. Dengan semangat kepeloporan dan kepemimpinan Pemuda Ahmad Matin menyasar mahasiswa IAIN dan UNTIRTA Serang sebagai santri Pesantren Daarul Falah. Atas dasar itu dirumuskan visi PONDOK PESANTREN DAARUL FALAH sebagai “pusat pembentukan generasi ulul albab yang berwawasan pesantren, berakhlaqul karimah dan leduli terhadap pemberdayaan masyarakat”.

Untuk mewujudkan visi tersebut, KH. A. Matin Djawahir merumuskan misi PONDOK PESANTREN DAARUL FALAH sebagai berikut:

  1. Mengantarkan para santri memiliki kemantapan aqidah, kedalaman spiritual, dan keluhuran akhlaq.
  2. Mendorong para santri agar memiliki keahlian dalam bidang pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan (adab al-diin wa al-dunya).
  3. Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan kesenian yang Islami melalui pengkajian dan penelitian ilmiyah.
  4. Memberikan keteladanan dalam kehidupan atas dasar nilai-nilai Islam ahl al-sunnah wa al-jamaah dan budaya luhur bangsa Indonesia.
  5. Mendidik berpikir dan bersikap mandiri, kritis, dan terampil, peduli terhadap lingkungan sosial dan lingkungan alam serta berpikir global.
  6. Memberikan pelayanan dan bimbingan kepada masyarakat.

Generasi ulul albab adalah intelektual muslim yang memadukan dzikir dan pikir dalam memahami ayat-ayat Allah. Baik ayat yang tertulis dalam Al Qur’an maupun yang terbentang luas pada jagad raya dan diri manusia. Sedangkan wawasan Pesantren merupakan bentuk advokasi KH. Matin Djawahir terhadap nilai-nilai Ahlussunah wal jamaah dan kesetiaannya terhadap jam’iyah Nahdhatul ulama. Bagi KH. Matin Djawahir kepemimpinan umat di masa depan harus dikendalikan oleh pemuda yang memiliki akar kuat dengan tradisi kitab kuning dan mampu mengartikulasikan nilai-nilai Islam itu untuk merespon modernitas dan tantangan global yang berwarna warni. Maka sarjana lulusan IAIN, UNTIRTA atau lainnya yang mondok di Daarul Falah harus proaktif melayani dan memimpin umat khususnya melalui jaringan Nahdhatul ulama.

Sukses mengantarkan Pesantren Daarul Falah sebagai pusat belajar mahasiswa yang sebagian besar kuliah di IAIN Serang, KH. A Matin Djawahir melanjutkan proses modernisasi Pesantren dengan mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Daarul Falah Ciloang pada tahun 2003. Yayasan Pesantren menjadi payung hukum dalam upaya melaksanakan misi pelayanan dan bimbingan kepada masyarakat. Di bawah bendera Yayasan ini berdirilah berbagai lembaga pendidikan, mulai Madrasah Diniyah, Majelis Taklim, SMP Islam, Madrasah Aliyah, Kopontren, dan Panti Sosial Anak Yatim Piatu.

Kesaksian tentang inspirasi KH. A. Matin Djawahir misalnya disampaikan oleh adik saya Ahmad Fajrul Islami yang sekarang kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bahwa almarhum KH. Ahmad Matin bin Djawahir merupakan sosok kyai, guru sekaligus bapak yang inspiratif. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu tapi juga kehidupan dan spiritual. Beliau menanamkan keyakinan untuk bangga menjadi seorang santri; menjaga martabat santri, guru dan almamater. Setelah lulus Madrasah Aliyah Daarul Falah beliau juga menasihati saya “kamu boleh menjadi apapun siapapun dimanapun tapi selalu ingat orangtuamu, gurumu, almamatermu dan kesantrianmu”.

KH. A. Matin Djawahir telah meletakkan pondasi modernisasi Pondok Pesantren dengan prinsip: merawat tradisi baik Pesantren dan mengambil modernitas yang membawa kemajuan masyarakat santri. Modernisasi harus tetap berpijak pada ajaran Islam berhaluan Ahlussunah wal jamaah; memperkuat tradisi kitab kuning; dan menjadikan Nahdhatul ulama sebagai tempat berkidmat kepada umat.

Kehadirannya selalu dirindukan para santri dan alumni serta masyarakat. Meskipun demikian takdir telah menentukan. Semoga Allah memberikan maghfirah dan Rahmat-Nya serta menerima seluruh amal perbuatannya sebagai jariyah di jalan Allah. (*)