Mortir Diduga Bekas Perang Dunia II Tertanam di Bawah Pohon Kelapa

Anggota Jibom Satbrimob Polda Banten mengevakuasi mortir aktif yang ditemukan warga, di Lingkungan Kaloran Pena, Kelurahan Lontar Baru, Kota Serang, Selasa (16/6). Mortir tersebut diduga peninggalan Belanda.

SERANG – Sebuah mortir ditemukan tertanam di bawah pohon kelapa di Lingkungan Kaloran Pena, Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Selasa (16/6). Mortir aktif tersebut diduga bekas peninggalan perang dunia kedua.

Mortir tersebut pertama kali ditemukan oleh Nano (54) sekira pukul 07.30 WIB. Saat itu, Nano membuang sampah di kebun dan melihat besi yang tertanam di bawah pohon kelapa. “Ditemuin tadi pagi saat buang sampah. Saya lihat ada besi,” ujar Nano.

Nano yang tidak menyangka temuannya tersebut adalah mortir lantas mencoba mencabutnya. Namun, karena tertancap cukup dalam tenaga Nano tidak kuat menariknya. Nano pun meminta warga lain untuk menarik besi tersebut. “Beratnya sekitar 5 kilo (kilogram-red),” kata Nano.

Besi berkarat tersebut yang ujungnya tertutup tanah tersebut kemudian dibawa Nano ke sebuah rumah kosong yang tidak jauh dari lokasi. Nano meminta Didi, tetangganya untuk membersihkan besi tersebut. “Setelah diangkat dibersihkan,” ujar Nano.

Namun, Didi yang membersihkan mortir tersebut kaget. Ada pelatuk di bagian ujung besi. Yakin besi tersebut adalah bahan peledak, ia panik dan melaporkannya kepada warga lain. “ Saya gak bersihin setelah tahu itu mortir, takut meledak,” kata Didi.

Temuan itu dilaporkan kepada aparat kepolisian. Tim penjinak bom dari Satbrimob Polda Banten dikerahkan ke lokasi untuk mengamankan mortir tersebut. “Melihat dari fisiknya, panjang mortil berkisar 25-30 centimeter. Diduga mortir tersebut peninggalan perang karena kondisinya sudah berlumut dan berkarat. Jika dilihat, 99 persen masih aktif,” kata Kanit I Densat Brimob Polda Banten Inspektur Polisi Satu (Iptu) Wachijan.

Alat peledak itu dievakuasi ke Mako Brimobda Banten untuk dimusnahkan. “Kalau ada yang menemukan bahan peledak seperti ini tolong jangan disimpan. Lebih baik segera laporkan kepada pihak yang berwajib,” tutur Wachijan. (mg05/nda)