Motor Kreditan Biang Keributan

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

1. Rebutan Motor Warisan

Joko (31) dan Wati (25), keduanya nama samaran, bertengkar di depan rumah kontrakan Joko. Pasangan yang kini tengah dalam proses perceraian itu, saling mencaci-maki dengan suara lantang. Mereka tidak lagi peduli akan kehadiran warga sekitar yang menyaksikan pertengkaran mereka. Bahkan ketika ada yang mencoba melerai, Joko dan Wati terus saja saling melempar cacian.

Mereka tengah mempersoalkan pembagian harta gono-gini. Paling pelik terkait siapa yang berhak memiliki satu unit motor bebek. Baik Joko dan Wati mengklaim jika motor itu milik mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. “Motor itu memang milik saya. Bukan milik Mas Joko,” ujar Wati.

Menurut Wati bukan tentang motor yang ia persoalkan, melainkan kenangan pada motor itu. Katanya, motor kreditan alias masih dicicil ini merupakan peninggalan ayahnya yang telah meninggal. “Itu hadiah dari ayah saya, meskipun berupa uang untuk DP kredit motor. Karenanya itu adalah peninggalan penting dari ayah, tidak akan saya berikan kepada Mas Joko,” kata Wati.

Meskipun cicilan motor selama ini dibayar oleh sang suami, namun Wati tetap memandang motor tersebut adalah miliknya. Persoalan rebutan motor ini belum selesai hingga saat ini. “Mas Joko tidak punya malu, dia tidak mau menyerahkan motor itu kepada saya. Padahal motor itu memiliki nilai kenangan, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang,” terang Wati.

Joko dan Wati bukan pasangan sejahtera. Saat berumah tangga, hidup mereka memang selalu susah. Joko bekerja sebagai office boy (OB) di sebuah perusahaan, sementara Wati ibu rumah tangga murni. Karenanya, penghasilan mereka sangat pas-pasan. “Mas Joko itu cuma bawahan, OB. Gajinya juga di bawah standar, cuma bisa belikan saya uduk setiap hari. Selebihnya enggak bisa beli apa-apa,” tutur Wati.

Seiring waktu, Wati ingin membantu ekonomi Joko. Karenanya dia bekerja di sebuah warung kelontongan di salah satu ruko di Kota Serang. Jaraknya memang dekat dari rumah kontrakan mereka. Namun cukup jauh bila dijangkau hanya dengan berjalan kaki. “Saya jalan kaki untuk sampai di tempat kerja. Itu guna menghemat pengeluaran, sebab uang yang ada hanya cukup untuk membiaya ongkos Mas Joko naik angkot ke tempat kerja,” jelasnya.

Kondisi Wati yang sering bolak-balik jalan kaki dari rumah ke tempat kerja, membuat orangtuanya sedih. Lantaran itu, orangtua Wati memberikan uang untuk DP mengkredit motor. “DP-nya besar, lebih dari setengah harga motor. Ayah sengaja berikan DP besar, uang cicilan kecil,” tuturnya.

Awalnya, sang ayah meminta cicilan motor menggunakan sebagian dari gaji Wati. Namun nyatanya, orang yang membayar cicilan adalah Joko. “Waktu itu Mas Joko yang menawarkan diri. Katanya, gaji saya biar fokus untuk keperluan dapur dan anak. Sementara motor biar Mas Joko yang bayar,” terangnya.

Uang cicilan motor meskipun kecil, namun masih berat untuk ukuran pasangan Joko dan Wati. Joko menawarkan diri lantaran gaji dia lebih besar dibandingkan Wati. “Secara hitung-hitungan, memang idealnya uang cicilan dari gaji Mas Joko,” tuturnya.

Namun yang menjadi persoalan, cicilan motor membuat keuangan mereka semakin jatuh. Gara-gara harus bayar cicilan per bulan, uang makan dan jajan keluarga Joko berkurang drastis. Minimnya pemasukan memicu api pada rumah tangga Joko. Hasilnya, Joko dan Wati jadi sering bertengkar. “Gara-gara semakin miskin, kami sama-sama jadi sensitif. Mengeluh sedikit, pasti jadi pemicu pertengkaran,” katanya.

2. Bertengkar Hebat

Pertengkaran Joko dan Wati bukan pertengkaran biasa. Keduanya bisa sampai berkelahi sampai babak belur. Untuk diketahui, Wati bukan perempuan sembarangan. Saat kecil hingga remaja, dia digembleng ilmu bela diri oleh sang ayah. “Saya ini anak kesayangan ayah, sejak kecil sudah diajari silat. Ayah saya kan guru silat,” tuturnya.

Bisa terbayang kan? betapa ricuh rumah kontrakan Joko setiap kali bertengkar dengan Wati. Joko yang tidak bisa silat kerap dibuat babak belur oleh Wati. Hanya harga diri seorang lelaki yang membuatnya terus bertahan. Harga diri inilah yang membuat pertarungan Joko dan Wati terlihat seimbang.

Ketua RT setempat kerap dibuat sibuk setiap kali pasangan ini bertengkar. Namun kisah pertengkaran ini berakhir dikala Joko mengusir Wati dari rumah kontrakan itu. “Mas Joko buang semua baju saya di luar rumah kontrakan. Dia mengusir saya,” jelasnya.

Merasa diusir, Wati pergi dari rumah kontrakan itu sambil membawa anak. Ia lalu menyewa sebuah rumah kontrakan untuk bernaung dirinya dengan sang anak. Keesokan harinya, Wati mendatangi Pengadilan Agama untuk melayangkan gugatan cerai. Gugatan itu disetujui Joko, kesepakatan ini membuat hakim Pengadilan Agama mantap untuk membuat keputusan.

Namun sayangnya, proses perceraian mereka terhambat oleh persoalan motor kreditan. Terkait hal itu, Joko mengaku lebih berhak lantaran dirinya yang membayar motor tersebut. “Itu motor tinggal dua kali bayar lagi. Masa ketika hampir lunas, mau diambil sama Wati. Enak saja,” katanya.

Meskipun uang DP motor berasal dari mertua, namun cicilan pembayaran motor berasal dari kantongnya. Karena itu Joko merasa lebih berhak atas motor tersebut. “DP memang dari ayahnya Wati. Tapi kan yang bayar cicilan saya. Berarti yang paling berhak saya dong,” klaim Joko.

Waduuuh, jadi siapa ya yang paling berhak, Joko atau Wati? (RB/quy/zee)