Muhammad Subekti menunjukkan aplikasi Simor bikinannya. Foto: Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Fasilitas reaktor nuklir perlu diawasi secara terus-menerus selama beroperasi. Pengawasan oleh manusia tidak luput dari potensi kealpaan. Melalui aplikasi Sistem Monitoring Reaktor Nuklir Online (Simor), Muhammad Subekti berupaya menghadirkan sistem pencegahan gangguan lebih dini.

DI DEPAN deretan layar monitor, Muhammad Subekti tampak serius menjelaskan pengoperasian simulasi reaktor nuklir digital di Kompleks Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Serpong, Tangerang Selatan, Senin (19/11). Tamunya saat itu adalah rombongan dari Tsing Hua University, Tiongkok.

Mereka datang jauh-jauh dari Tiongkok untuk melihat fasilitas nuklir milik Batan. Ada juga penjajakan kerja sama. Setelah sekitar 30 menit, diskusi yang terlihat gayeng itu selesai. Semuanya keluar dari ruangan yang menempel dengan lobi gedung ’80’ Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) Batan itu.

Sejurus kemudian, Bekti–nama panggilan Muhammad Subekti–mengajak ke ruang kerjanya di lantai dua. Ruangan itu tidak begitu luas. Di sudut dekat pintu sudah bergerombol mahasiswa magang duduk mengitari meja besar. Di tengahnya ada sejumlah perangkat pemantauan reaktor nuklir dan beberapa komputer.

“Beginilah keseharian kami,” kata Bekti sambil membuka laptopnya. Dia kemudian menunjukkan aplikasi pemantauan reaktor nuklir secara online karyanya. Untuk pengoperasiannya, laptop milik Bekti harus tersambung dengan jaringan wifi khusus. Butuh beberapa waktu untuk menyambungkannya.

Setelah aplikasi beroperasi, pria kelahiran Madiun, 18 Juli 1973, itu menjelaskan kegunaannya. Tampilan aplikasi Simor masih terlihat kaku. Ada beberapa panel parameter atau indikator. Dilengkapi gambar tabung reaktor dengan slang saluran yang menjulur ke beberapa titik.

Bekti mengatakan, sejumlah grafis indikator menunjukkan beberapa kondisi pada sebuah reaktor nuklir. Mulai kondisi temperatur, tekanan, posisi batang kendali, hingga radiasi yang dipancarkan. Berdasar informasi dari kondisi aspek-aspek tersebut, aplikasi Simor bisa menunjukkan apakah sebuah reaktor nuklir sedang sehat atau tidak.

Aplikasi Simor mendapatkan data kondisi tersebut dari fasilitas reaktor nuklir. Data tersebut dikirimkan secara nirkabel dengan menggunakan fasilitas internet. “Untuk sementara, jangkauannya 300 meter,” kata dia.

Karena menggunakan fasilitas internet, sebenarnya tidak ada kendala jarak. Kondisi reaktor nuklir Batan di Serpong bisa saja dipantau dari Amerika Serikat. Namun, faktor keamanan data menjadi pertimbangan utama dalam pengoperasian Simor. Keamanan pengiriman data fasilitas nuklir yang menggunakan internet harus dipastikan. Jangan sampai di tengah jalan datanya diretas. Kemudian oleh si peretas dijadikan pintu masuk untuk mengoperasikan fasilitas nuklir seenaknya. Dengan tujuan merusak. Contoh, kasus peretasan fasilitas nuklir pernah dialami Iran pada 2014. Di tahun yang sama, reaktor nuklir Korea Selatan juga sempat diretas.

Bahkan, untuk internal Batan sendiri, implementasi peranti lunak Simor harus melalui diskusi berbulan-bulan. Inti diskusinya, Bekti harus bisa menjamin keamanan data fasilitas nuklir. Data operasional reaktor yang dikirim dari gedung Reaktor Serbaguna GA Siwabessy (RSG-GAS) harus bisa dijamin keamanannya meski pengiriman data dari gedung reaktor ke gedung PTKRN hanya berjarak 100-an meter.

Akhirnya, setelah mendapat persetujuan, aplikasi Simor diterapkan. Data operasional reaktor nuklir di gedung RSG-GAS dikirim ke komputer Bekti. Kemudian secara otomatis diolah oleh Simor. Data tersebut meliputi temperatur, tekanan, posisi batang kendali, dan pancaran radiasi.

Sebelum menerima data tersebut, aplikasi yang dibuat Bekti sudah dibekali dengan kecerdasan buatan. Namanya adalah Auto-Associative Neural Networks (AAN). Kecerdasan buatan itu dikembangkan sendiri oleh Bekti. Dengan bekal kecerdasan buatan tersebut, Simor bisa menyimpulkan apakah pengoperasian reaktor nuklir bermasalah atau normal.
Untuk urusan suhu, misalnya, aplikasi tersebut akan menganalisis temperatur yang berjalan normal atau tidak. Misalnya, ada di kisaran 21 derajat Celsius sampai 51 derajat Celsius. Kemudian ada perubahan daya sekitar 25 persen, tetapi temperaturnya naik secara signifikan. Nah, pada kondisi itu indikator yang menunjukkan anomali akan berkedip-kedip. Secara otomatis juga Simor akan menganalisis penyebabnya apakah pada perangkat pompa atau peranti lain. Jadi, hebatnya Simor karya Bekti tersebut tidak hanya mengetahui ada kondisi tidak normal secara dini, tetapi juga mampu menganalisis potensi penyebabnya.

Dengan demikian, petugas atau operator reaktor nuklir bisa mendapatkan peringatan dini dengan cepat. Selain itu, memperoleh hasil analisis titik kerusakan dengan cepat. Dengan demikian, bisa secepatnya dilakukan penanganan atau perbaikan.

Suami Atin Liswandani itu mengatakan, informasi peringatan dini merupakan unsur penting dalam fasilitas reaktor nuklir. Dia mencontohkan, kerusakan fasilitas reaktor nuklir di Three Mile Island (TMI), Amerika Serikat, pada 28 Maret 1979.

Bekti menceritakan, kecelakaan nuklir di TMI tersebut diawali adanya anomali. Namun, anomali tersebut tidak diketahui sejak awal. Kemudian fasilitas reaktor nuklir kolaps. “Terjadi pelelehan di reaktor,” ungkapnya.

Dengan Simor, operator nuklir bisa mengetahui gejala tidak normal jauh sebelum terjadi kerusakan parah. Dengan demikian, mereka memiliki waktu yang cukup untuk melakukan perbaikan.

Ayahanda M Naufal dan M Rifqi tersebut menjelaskan, fasilitas reaktor nuklir memang dijaga dan diawasi secara manual oleh manusia. Diawasi terus selama beroperasi. Nah, dalam pengawasan itu, ada faktor manusia yang mungkin merasa jenuh atau bosan. Sebab, yang dilihat hanya indikator-indikator di layar. Atau jika masih menggunakan pemantauan manual, banyak panel yang harus dipelototi terus.

“Saya pernah merasakan. Operator reaktor nuklir selama 24 jam tentu ada masa kelelahan,” tuturnya.

Padahal, jam kerja menggunakan model sif atau bergantian.
Bekti mengatakan, gagasan membuat aplikasi pengawasan reaktor nuklir muncul sejak kuliah di Kyushu University, Jepang. Dia menempuh studi doktor di kampus tersebut pada kurun 2004-2007. Kemudian pada 2010 dia mendapat dana riset dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA/International Atomic Energy Agency).

Selanjutnya, eksperimen pemantauan reaktor nuklir mulai memanfaatkan kecerdasan buatan. Lantas, pada periode 2017 hingga 2018, Bekti menyelesaikan detail aplikasi tersebut. Dia juga memperbaiki tampilan aplikasi. “(Tampilan aplikasi-red) saya desain sendiri meski belum bagus,” katanya lantas tersenyum.

Pria yang menjabat kepala bidang teknologi keselamatan nuklir itu menuturkan, aplikasi pemantau reaktor nuklir karyanya juga bisa digunakan untuk kepentingan pendidikan jarak jauh. Soalnya, dia sudah memiliki basis data aktivitas reaktor nuklir. Jadi, bisa digunakan sebagai simulasi bagaimana memantau operasional fasilitas nuklir.

Simor juga membantu ketika fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) kecil atau riset daya eksperimental (RDE) milik Batan di Serpong nanti sudah jadi. Nantinya fasilitas PLTN mini tersebut bakal dilengkapi dengan sistem pemantauan reaktor nuklir secara online.

Saat ini dokumen detail desain RDE Batan sudah jadi dan diserahkan ke Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Diharapkan, pada 2021 izin konstruksi pembangunan fasilitas RDE sudah keluar. (M HILMI SETIAWAN)