Musim Kemarau, Sepuluh Desa Krisis Air Bersih

0
241 views

SERANG  – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang menerima laporan adanya sepuluh desa dari enam kecamatan di Kabupaten Serang yang mengalami krisis air bersih. Data berdasarkan permohonan bantuan air bersih per Juli kemarin.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Serang Nana Sukmana Kusuma mengatakan, pihaknya saat ini sedang sibuk melakukan asesmen ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. “Ada sepuluh desa di enam kecamatan yang minta bantuan pengiriman air bersih ke kami,” ungkap Nana kepada Radar Banten melalui sambungan telepon seluler, Kamis (1/8).

Menurut Nana, wilayah yang kekeringan akibat musim kemarau panjang, selain dampak dari penutupan jaringan Irigasi Pamarayan, serta penghentian pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Kesepuluh desa itu di antaranya Desa Domas, Kecamatan Pontang; Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa; dan Desa Lebak, Kecamatan Ciomas. Selengkapnya lihat grafis. “Hampir setiap tahun beberapa wilayah mengalami krisis air bersih akibat kekeringan,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya akan siap siaga 24 jam untuk melayani warga yang melaporkan wilayah kekeringan. “Kita akan segera memproses pengiriman air bersih,” tegasnya.

Pantauan Radar Banten di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, kemarin siang, tampak belasan warga mengantre pembelian air bersih yang dijual pihak swasta menggunakan truk tangki. Air dijual seharga Rp4.000 per jeriken. Kemudian, saluran irigasi di sekitar wilayah Lontar juga kekeringan.

Bayang Tirta, warga Desa Kebuyutan, Kecamatan Tirtayasa yang mengeluhkan wilayahnya krisis air bersih. Menurutnya, krisis air bersih akibat musim kemarau. Ia bahkan mengaku sudah tidak mandi selama tiga hari. “Air irigasi juga kosong, air sumur di rumah juga kering. Badan sudah bau banget, mau mandi enggak ada air,” keluhnya.

Senada disampaikan anggota Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Sujung, Kecamatan Tirtayasa, Muhit yang menyatakan sudah satu bulan wilayahnya krisis air bersih. Lantaran itu, warganya terpaksa membeli air ke pihak swasta yang setiap hari keliling kampung dengan truk tangki. “Banyak juga warga yang mengendapkan air kotor selama seminggu, baru digunakan buat masak. Nyari air susahnya minta ampun,” tukasnya. (mg06/zai/ags)