Musim Peralihan, Wilayah Banten Waspadai Angin Puting Beliung

SERANG – Angin puting beliung di wilayah Banten masih berpotensi terjadi sepanjang pergantian musim. Terlebih Banten masih masuk wilayah titik temu embusan angin dari Benua Australia dan China Selatan.

Pada pertengahan November lalu, angin puting beliung pernah menyapu Kota Serang. Dampaknya, sejumlah pohon tumbang, baliho rubuh, bahkan terparah belasan kantor dinas di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) rusak.

Terbaru, angin puting beliung pun merusak ratusan rumah di lima desa di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/12). Ratusan rumah tersebut porak-poranda akibat terjangan puting beliung yang berlangsung selama lima menit.

Menurut Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Serang Rofikah, atas fenomena angin puting beliung yang terjadi di beberapa wilayah Banten, kejadian serupa masih memungkinkan terjadi. “Selama pergantian musim, potensi cuaca ekstrem seperti hujan besar disertai angin masih memungkinkan terjadi di hampir semua wilayah Banten,” katanya kepada Radar Banten, Jumat (13/12).

Peralihan musim, ucap Rofikoh, biasanya ditandai hujan dengan intensitas lebat disertai angin kencang dan petir. “Itu yang menyebabkan kemarin terjadi puting beliung sehingga beberapa bangunan, baliho, dan pohon tumbang di wilayah Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), itu memasuki transisi dan peralihan musim,” katanya.

Selain peralihan musim, Rofikoh menyebut, wilayah Banten menjadi daerah yang dilintasi pertemuan angin dari Benua Australia dan Laut China Selatan. “Jadi, adanya daerah pertemuan angin dari Benua Australia dan Laut China Selatan. Melewati wilayah Banten itu yang mengakibatkan cuaca ekstrem,” jelasnya.

Ia memperkirakan cuaca ekstrem di Banten akan terjadi selama peralihan musim. Rofikoh mengimbau masyarakat harus terus mengakses info dari BMKG melalui aplikasi Android.

Selain itu, daerah yang diantisipasi secara umum di wilayah Banten hampir sama semuanya, mempunyai potensi cuaca ekstrem. “Waspada untuk masyarakat di wilayah Banten, tidak terkhusus di wilayah tertentu. Semua wilayah ada potensi baik di pegunungan maupun dataran,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang Nana Sukmana Kusuma mengatakan, hampir semua kecamatan di Kabupaten Serang berpotensi terjadi angin kencang. Bencana angin kencang tidak bisa diprediksi sebelumnya.

Nana mengatakan, pihaknya sudah mengimbau kepada masyarakat untuk tetap siaga terjadinya angin kencang. Untuk meminimalisasi dampak bencana, ia mengimbau warga untuk menebang pohon besar yang ada di sekitar permukiman. “Kalau tidak ditebang khawatir roboh menimpa permukiman,” katanya.

Di samping itu, pihaknya juga mengaku tetap siaga 24 jam jika terjadi bencana. Pihaknya juga mengaku terus melakukan komunikasi dengan seluruh instansi untuk penanganan lebih cepat. “Kita siaga 24 jam, kita juga mengimbau kepada masyarakat kalau ada bencana segera laporkan ke kami,” ucapnya.

Pasca bencana puting beliung Kamis (12/12), warga di wilayah Kecamatan Mauk yang terdampak mulai berbenah. Warga dibantu dengan petugas dari berbagai instansi dan relawan mulai kerja bakti membersihkan reruntuhan pohon dan rumah yang porak-poranda akibat puting beliung dan hujan deras.

Penjabat Kepala Desa Tegal Kunir Lor Nina Herlina mengatakan, warga sudah mulai kerja bakti sejak pagi sekira pukul 07.00 WIB. Dibantu petugas mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, polisi, hingga relawan. “Sebagian warga sudah berbenah. Membersihkan reruntuhan rumah dan kerja bakti membersihkan pepohonan yang tumbang karena diterjang puting beliung. Semua gotong royong pascamusibah ini,” katanya kepada Radar Banten, Jumat (13/12).

Pantauan di Desa Tegal Kunir Lor, warga terutama ibu-ibu yang rumahnya terdampak rusak ringan dan berat mulai sibuk menyapu debu-debu di dalam rumah akibat reruntuhan. Sementara warga yang rumahnya rata, juga sibuk mencari harta-benda yang masih bisa diselamatkan, dibantu para relawan dan petugas setempat.

Di sela-sela aktivitas tersebut, berbagai bantuan berdatangan. Terutama dari Pemerintah Kabupaten Tangerang. Mulai dari air minum kemasan, air bersih untuk masak, nasi bungkus, mi siap saji, hingga bantuan medis dari tim Puskesmas Mauk dan juga PMI Kabupaten Tangerang.

Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Anom Abdul Aziz mengatakan, warganya juga sudah mulai membersihkan reruntuhan kecil-kecil, sekadarnya. “Karena masyarakat yang kena puting beliung menunggu dananya buat rapi-rapi. Mudah-mudahan Senin sudah ada,” katanya.

Aziz menuturkan, banyak warganya yang terdampak berharap bantuan dana dari Pemkab Tangerang segera cair agar bisa segera merapikan rumahnya. Total ada sekira 83 rumah terdampak rusak ringan dan berat. “Sementara ini paling bantuan logistik makanan. Sedangkan yang dibutuhkan masyarakat adalah uang, buat merapikan rumah,” tuturya.

Di tempat yang sama, Camat Mauk Arif Rahman menuturkan, bantuan sudah mulai berdatangan. Baik logistik maupun terapi trauma healing. “Selain itu, ada juga petugas dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) datang memberikan bantuan berupa trauma healing kepada beberapa warga yang masih syok dan trauma atas musibah tersebut,” katanya.

Untuk listrik, tambah Arif, saat ini sudah mulai menyala. Sebelumnya, Kamis (12/12) malam, listrik padam lantaran banyak tiang listrik roboh diterjang angin. Sehingga, kabel-kabelnya menjuntai ke tanah.

“Sebetulnya sejak Kamis malam listrik sudah bisa nyala, tetapi kami minta dipadamkan demi keamanan lantaran masih banyak kabel listrik yang menjuntai ke tanah dan dikhawatirkan berbahaya bagi warga terutama anak-anak. Tetapi, saat ini sudah terang lagi,” ungkap Arif bercerita.

Soal bantuan, Arif menjelaskan, semua warga yang terdampak akan mendapatkan bantuan stimulan dari Pemerintah Kabupaten Tangerang. Untuk kerusakan ringan akan mendapatkan Rp1 juta, kerusakan berat Rp2 juta, dan kerusakan total Rp3 juta.

“Sedangkan untuk pembangunan rumah kembali, masih dalam tahap pendataan oleh Dinas Perumahan, Permukiman dan Pemakaman (DPPP) Kabupaten Tangerang. Dari ratusan rumah yang terdampak, memang ada beberapa rumah yang sudah terdaftar bantuan gerakan bersama rakyat atasi kawasan padat, kumuh dan miskin serta bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KPU-PR),” pungkasnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Kosrudin mengatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya penanggulangan bencana puting beliung tersebut. Mulai dari menerjunkan personel hingga berbagai bantuan kebutuhan bagi warga terdampak di Kecamatan Mauk.

“Kami dari hari kejadian sudah turun langsung dan berada di sekitar desa-desa yang terdampak bencana puting beliung. Hingga sekarang (Jumat-red) kami stand by di lokasi kejadian,” katanya kepada Radar Banten, Jumat (13/12).

Kosrudin menerangkan, musibah puting beliung terjadi akibat dari adanya pergantian cuaca dari musim kemarau ke musim penghujan. “Jadi, angin kencang seperti itu bertemunya angin gunung dan angin laut. Bisa dibilang angin Bogor bertemu dengan angin Tanjung Kait. Angin Tanjung Kait padat, menyerang angin yang ada di Bogor yang renggang. Yang padat dikejar dengan yang renggang jadilah angin puting beliung,” tuturnya.

Menurutnya, wilayah yang rawan berada pada lintasan angin tersebut, yakni sekitar Teluknaga, Pasarkemis, hingga ke Legok. Ia mengimbau agar warga di Kabupaten Tangerang selalu waspada. Jangan berlindung di bawah pohon.

“Dulu pernah terjadi juga di Kuta Bumi, Kecamatan Pasarkemis, beberapa waktu lalu juga terjadi di Kecamatan Jambe dan sekarang terjadi di Kecamatan Mauk. Jarang tuh terjadi di Jayanti dan Gading. Biasanya angin puting beliung itu disertai hujan deras,” ungkapnya. (ken-jek-mg04/air/ira)