Nah Lho…Istri Sukses, Suami Malah Stres

Kesuksesan karir Yeyen (36), nama samaran,
yang mempunyai dobel job sebagai pegawai pemerintahan dan pengusaha
butik, tak sesukses kisah asmaranya bersama suami, sebut saja Jarot (37). Rumah
tangganya kandas akibat Yeyen terlalu fokus dengan bisnisnya hingga
menelantarkan suami yang berujung perceraian karena dianggap egois.

Ditemui Radar Banten di butiknya, Kecamatan Petir, paras Yeyen lumayan cantik padu dengan gamis cokelat berbahan katun yang dikenakannya siang itu. Pokoknya aduhai deh. Yeyen terlihat sedang sibuk mengepak pakaian di butiknya sambil bercerita panjang lebar tentang masa lalu rumah tangganya. Yeyen mengaku dari muda sudah terbiasa hidup mandiri dan aktif bergelut di dunia bisnis. Mulai dari berjualan makanan, sepatu, hingga kosmetik. Pokoknya sudah tidak lagi merepotkan orangtua. “Saya dulunya orang susah. Kalau enggak kerja keras, bisa-bisa terus-terusan melarat,” cetusnya. Luar biasa Mbak Yeyen nih.

Perceraian Yeyen dengan suaminya terjadi lima tahun silam. Ngakunya sih sudah move on dan melupakan kenangan bersama Jarot, tetapi Yeyen kerap merasa kesepian dan jenuh dengan kesibukannya yang padat tiap hari. Yeyen tidak menyangkal selama berumah tangga sering menelantarkan suami. Kesibukannya bekerja sebagai pegawai pemerintahan dari pagi hingga sore, dilanjutkan mengurus bisnisnya hingga larut malam. “Saya ngelakuin itu (sibuk kerja-red) buat anak dan suami juga,” kilahnya membela diri. Iya Mbak betul, tapi kan kebahagiaan tidak diukur materi.

Diceritakan Yeyen, perjumpaannya dengan Jarot di sebuah kafe di wilayah Cilegon saat Yeyen sedang kumpul bareng teman-temannya. Yeyen yang statusnya masih jomblo merasa terasingkan oleh teman-temannya yang masing-masing sudah mempunyai pasangan. Untung ada Jarot yang saat itu kebetulan kenal dengan temannya Yeyen dan ikut gabung kumpul di kafe. Jarot pun dikenalkan kepada Yeyen. Setelah berkenalan, keduanya saling bercerita panjang lebar hingga terjadi keakraban. Ujung-ujungnya mereka saling curhat membagikan pengalaman pahitnya pernah dikhianati kekasih. Situasi itu pun membuat satu sama lain nyaman. “Ya dia (Jarot-red) orangnya asyik, ngobrolnya juga enggak ngebosenin gitu,” kenang Yeyen. Biasa awal-awal tuh Mbak.

Maklum Yeyen betah dekat Jarot. Wajah Jarot cukup rupawan dan macho dengan sedikit brewok di dagunya. Tampilan Jarot juga menjanjikan saat itu mengenakan celana jeans dan kemeja. “Dia kelihatannya dewasa banget,” puji Yeyen. Iyalah masa anak-anak Mbak.

Sejak itu, hubungan mereka berlanjut. Tiga bulan berselang, keduanya makin dekat dan menunjukkan sikap simpati dan saling perhatian satu sama lain. Diawali dengan status teman tapi mesra alias TTM, akhirnya mereka resmi pacaran. Saat pacaran, Meski Jarot belum bekerja alias pengangguran, lain dengan Yeyen yang sudah bekerja sebagai staf honorer di kantor pemerintahan. Kendati begitu tak menyurutkan niat Yeyen untuk menjadi pendamping hidup Jarot. Beruntung Jarot anak dari keluarga berada. “Dia punya simpanan hasil warisan gitu dari almarhum bapaknya,” terang Yeyen. Yaelah, kok ngandelin warisan.

Singkat cerita, tiga bulan menjalani masa pacaran, Yeyen dan Jarot sepakat menuju pelaminan. Resepsi pernikahannya berlangsung meriah. Mengawali rumah tangga, sementara keduanya tinggal di rumah keluarga Jarot. “Saya nikah saja modal sendiri, enggak minta ke orangtua, apalagi saudara,” bangganya. Iya sih.

Setahun kemudian, Yeyen dan Jarot dikaruniai anak pertama dan membawa berkah bagi karir Yeyen. Ketika anaknya memasuki usia balita, Yeyen lolos tes PNS. Kondisi itu membuat ekonomi rumah tangganya semakin berjaya. Yeyen pun mulai merubah penampilan membeli banyak pakaian baru dan perhiasan yang membuatnya semakin terlihat cantik dan menggoda. “Kalau saya udah dandan, Kang Jarot bawaanya pengen begituan aja tiap malam,” akunya. Gempor dong Mbak.

Kenikmatan yang Yeyen dapatkan dari suaminya melupakan status Jarot yang seorang pengangguran. Terlebih, bisnis pakaiannya juga terus meningkat. “Alhamdulillah, sebulan saya bisa dapat Rp5 juta dari hasil jualan pakaian,” ucapnya. Wah bukan lumayan lagi itu.

Dua tahun usia pernikahan, tabungan Yeyen hasil dari berjualan pakaian mampu membangun rumah. Namun, derajat semakin tinggi membuat Yeyen lupa diri. Yeyen yang terlalu sibuk menjalani karir dan bisnisnya membuatnya lupa akan kewajiban sebagai seorang istri, yakni melayani suami. Merasa ditelantarkan oleh istri, Jarot mulai cuek dan uring-uringan. Awalnya Yeyen mengabaikan sikap suaminya itu. Namun, lama-lama sikap Jarot semakin hari semakin menjadi. Merasa tidak dihargai istri, Jarot jadi sering marah-marah terhadap Yeyen hingga tak jarang di rumahnya terjadi pertengkaran hebat. Kondisi itu justru malah semakin membuat Yeyen tak betah di rumah. Setiap waktu libur, Yeyen jadi lebih memilih menyibukkan diri dengan usahanya atau pergi jalan-jalan yang membuat rumah tangga mereka semakin merenggang dan tidak lagi harmonis. “Saya sih waktu itu bersikap bodo amat. Toh saya enggak salah,” kelitnya. Enggak ada yang salah kok Mbak, yang salah keadaan saja.

Jarot yang merasa minder dan tidak dihargai lagi oleh istri karena statusnya yang pengangguran akhirnya memilih pergi dan pulang ke rumah orangtuanya. Lebih dari sepekan keduanya pisah ranjang tanpa penjelasan. Keretakan pada rumah tangga mereka tercium keluarga masing-masing. Yeyen malah semakin ogah-ogahan. “Ya habis saya kesel, dia pergi ninggalin anak sendiri di rumah. Kan saya sibuk kerja, kayak enggak punya tanggung jawab jadi suami,” tukasnya. Lah, yang harusnya jaga anak kan istri Mbak, bukan suami.            

Sampai akhirnya, Jarot datang menemui Yeyen dengan membawa surat cerai sambil memaki-maki istrinya itu, Yeyen yang tak terima terpojokkan balik membalas menghina Jarot hingga rumah tangga mereka berakhir dengan perceraian. “Ngapain dipertahanin suami yang enggak ada tanggung jawabnya yang harusnya menafkahi istri. Mending pisah aja,” tandasnya. Ya Mbak lebih tahulah mana yang terbaik buat Mbak. Saat ini Yeyen masih sendiri dan sibuk mengurus bisnisnya. Yassalam. (Haidaroh/RBG)