Najib Percantik Istrinya Setelah Melihat Istri Orang Berdandan Menor

0
172

        Mengenang masa lalu membuat lelaki bertubuh tinggi dengan peci haji itu senyum-senyum sendiri. Di teras rumah yang berada di salah satu kompleks di Kota Serang, Najib (65) nama samaran awalnya malu-malu berkisah tentang masa muda. Apalagi, ketika diminta menceritakan pengalaman indah bersama sang istri tercinta, sebut saja Odah (61), Najib tertawa dan lekas menenangkan diri menjaga wibawa.

“Sudah tua begini memang suka lucu kalau mengingat masa lalu, masa-masa lagi susah dan banyak hal buruk yang saya lakukan,” terang Najib kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Najib, ia sebenarnya tidak terlahir dari keluarga berada. Dari ayah petani dan ibu tak bekerja, Najib tumbuh sebagai anak kampung yang senang bermain dan membantu orangtua. Namun, nasib baik menghampiri keluarga Najib. Sang kakek yang yang saat itu meninggal dunia, menyerahkan sebagian besar warisan pada ayah Najib.

Perlahan perekonomian pun meningkat. Meski begitu, cobaan hidup nyatanya tak luput begitu saja. Bagai memegang bara api, setelah mendapat warisan dari almarhum kakek, Najib dan keluarga merasa tak aman menjalani hidup. Ditandai dengan mulai berubahnya sikap orang-orang yang dahulu mengabaikan menjadi sangat peduli, sampai ada beberapa warga datang meminjam uang.

Lantaran belum mempunyai pengalaman hidup sebagai orang kaya, ditempa berbagai permasalahan ini dan itu, sawah dan kebun pun terancam tak bisa digarap sempurna. Parahnya, apa yang ditakutkan menjadi kenyataan. Suatu hari, mungkin sedang tertimpa sial, rumah mereka dibobol maling. Aih-aih, serius, Kang?

“Ya, waktu sekitar jam tiga malam, semuanya lagi pada tidur. Ya, mungkin bukan rezekinya, beberapa gram emas dan uang ludes digondol maling,” terang Najib.

Sejak saat itu, ayah dan ibu Najib semakin berhati-hati dalam menyimpan uang. Dengan kehidupan yang bergelimang harta, tak membuat Najib lupa pada pola kehidupan semula. Tetap bekerja keras membantu menggarap sawah dan kebun, Najib menjadi anak kebanggaan keluarga.

Tak terasa, hingga usia beranjak dewasa, lantaran tak meneruskan sekolah, Najib memutuskan mengakhiri masa lajang dengan menikahi gadis pujaan hati. Wanita itu tak lain ialah Odah, anak rekan sang ayah. Seolah memang sudah jodohnya, pernikahan mereka berjalan lancar tanpa hambatan.

Menggelar pesta meriah dengan hiburan kasidah mengalun sepanjang malam, Odah dan Najib tampak seperti raja dan ratu. Mengundang tamu dari berbagai kalangan, hari itu menjadi bersejarah bagi kedua mempelai. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.

Odah termasuk dalam kriteria wanita cantik jelita. Sewaktu muda, ia banyak diincar pria di kampungnya. Wajar saja, selain cantik, Odah juga memiliki bentuk tubuh menggoda. Dengan kulit putih dan senyum manisnya, dijamin bakal bikin pria klepek-klepek.

Di awal pernikahan, baik Najib maupun Odah saling menjaga perasaan. Bersikap lembut lengkap dengan sopan santun dalam berperilaku, keduanya berlomba mendapat hati mertua. Hingga dua bulan kemudian, merasa ingin hidup mandiri, Najib membeli rumah di desa sebelah.

Setahun kemudian, lahirlah anak pertama. Membuat hubungan semakin mesra. Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi dan kehidupan pun semakin maju. Bergaul dengan tetangga dan ibu-ibu arisan, Odah mulai menunjukkan sikap yang cenderung terbawa pergaulan. Waduh, maksudnya bagaimana, Kang?

“Ya, waktu itu karena keseringan main sama ibu-ibu kompleks, dia mulai minta dibelikan make-up, baju baru, tas, sepatu, wah pokoknya mah pengin yang modis-modis,” curhat Najib. Widih, sudah kayak gadis remaja saja nih Teh Odah.

“Nah itu dia, Kang. Padahal, mah dia itu bukan tipe perempuan yang suka belanja. Pokoknya sederhana, lembut, dan alami ala-ala gadis kampung,” kata Najib.

Saat itu lantaran memiliki prinsip menjaga dan mendidik istri agar tidak terbawa arus modernisasi, Najib mengacuhkan permintaan Odah yang ingin dibelikan barang-barang mewah. Jangankan tas dan sepatu, beli make-up saja Najib melarang.

Apa mau dikata, yang namanya wanita pasti tak akan bisa terima. Mengamuk, menangis, sampai ngambek tak mau bicara selama berminggu-minggu, Odah tak pernah berhenti menuntut keinginannya. Namun, ibarat berbicara pada tembok, rengekan Odah tak pernah didengar.

Hingga suatu malam, ketika diajak kondangan ke salah satu hajatan teman, Odah menolak pergi. Ia memilih menonton televisi sambil bersantai. Apalah daya, Najib pun pergi seorang diri. Mengendarai kendaraan pribadi menembus malam di jalan perkampungan, saat itu ia merasa kesepian.

Hingga tibalah di tempat hajatan. Disambut hangat penuh hormat, sang tuan rumah menanyakan ke mana Odah sang istri tercinta. Najib pun menjawab sekenanya. Ia lekas menuju meja makan dan segera melahap hidangan. Duduk di sudut areal tamu undangan, Najib semakin merasa asing dengan hilir mudiknya pasangan suami istri. Bahkan, katanya, saat itu ia berharap tidak ada orang yang mengenalinya karena datang sendiri.

“Ya, mungkin saat itulah saya dapat hidayah. Melihat istri orang lain dengan pakaian bagus, bedak menor dan tas-tas mewah, mereka terlihat mesra. Wah, pokoknya waktu itu saya langsung merasa berdosa ke istri,” tutur Najib.

Keesokan harinya, Najib lekas mengajak sang istri ke pusat perbelanjaan terdekat. Membebaskan Odah membeli barang-barang kesukaan membuat kemesraan itu muncul bak sinar mentari di pagi hari. Odah yang sebelumnya banyak diam, menjadi ceria dan tampak senang luar biasa.

Sambil menggandeng tangan suami yang dipenuhi barang belanjaan, Odan dan Najib berjalan penuh kemesraan. Seolah ingin menunjukkan pada semua orang kalau mereka pasangan yang paling bahagia sedunia. Sejak saat itu Najib pun sadar, apa yang diinginkan istri bukan semata kesenangan pribadi, tapi juga berdampak pada suami.

“Wah, pokoknya sekarang mah, apa yang dia pengin, pasti saya belikan. Buat apa banyak uang kalau bukan untuk istri, yang penting selalu diarahkan agar tidak berlebihan dan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Najib bangga.

Cie… semoga mesra selalu dan bahagia ya Kang Najib dan Teh Odah! (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)