Nasib Trotoar yang Beralih Fungsi

SERANG – Trotoar banyak yang beralih fungsi dan digunakan sebagian masyarakat untuk kegiatan yang tidak sebagaimana mestinya. Berdasarkan Pasal 131 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, disebutkan bahwa fasilitas trotoar merupakan hak pejalan kaki.

Pantauan Radar Banten, umumnya trotoar di kabupaten kota sudah lama beralih fungsi menjadi tempat kegiatan berdagang bagi sebagian masyarakat. Trotoar-trotoar yang seharusnya difungsikan sebagai sarana bagi pejalan kaki itu juga banyak digunakan sebagai tempat memarkirkan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Begitu pun dengan pedagang yang melakukan aktivitasnya di trotoar. Mereka dengan bebas menjual aneka barang setiap waktu. Para pejalan kaki pun harus mengalah dengan keberadaan para pedagang di trotoar. Padahal, berjualan di atas trotoar mengancam keselamatan mereka.

Belum lama ini, di media sosial digegerkan dengan penggunaan fasilitas trotoar untuk parkir dan berdagang. Padahal, pemerintah daerah secara tegas telah memasang informasi bahwa trotoar beserta sarana fasilitasnya diperuntukkan bagi para pejalan kaki.

Wakil Ketua DPRD Banten Ali Zamroni menyayangkan alih fungsi trotoar yang dipergunakan sebagian masyarakat untuk kegiatan berdagang dan lahan parkir kendaraan. Seharusnya, kata dia, sarana tersebut bisa dinikmati oleh para pejalan kaki sesuai dengan fungsinya dari awal. Kata dia, masalah trotoar ini terjadi hampir di seluruh wilayah di Provinsi Banten.

“Tentu kami menyayangkan, tapi serbasalah memang. Di satu sisi yang menggunakan itu masyarakat kecil, tapi di sisi lain melanggar undang-undang ataupun perda,” katanya kepada Radar Banten, Minggu (11/3).

Politikus Partai Gerindra ini menekankan kepada pemerintah daerah agar bisa memberikan pemahaman bagi masyarakat bahwa trotoar dibangun untuk difungsikan bagi pejalan kaki. Secara tegas, ia meminta jangan sampai trotoar dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

“Ini kan sesuatu yang lazim, di mana-mana terjadi. Apalagi kalau trotoar itu strategis berada di keramaian, gampang itu cari lahan rebutan untuk pedagang. Nanti kalau mereka ditertibkan, malah ngomong kami sudah bayar, Pak,” tegasnya.

Ia berharap agar pemerintah daerah bisa duduk bersama dengan masyarakat untuk memberikan pemahaman bahwa trotoar tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi dan parkir.

Ia meminta kepada pemerintah daerah agar memelihara dan mempercantik tampilan trotoar agar bisa dinikmati secara nyaman oleh masyarakat yang berlalu lalang di trotoar. “Misalnya, ditanami tanaman. Intinya diperindahlah. Kalau dimanfaatkan kan orang juga pasti tahu. Tapi kalau tidak dirawat, ya akan disalahgunakan lagi oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Serang Hidayat mengaku sudah berulang kali memberikan imbauan kepada masyarakat agar trotoar bisa digunakan sebagaimana fungsinya. Namun, kata dia, imbauan itu sering kali diabaikan oleh masyarakat.

“Kami sudah sering memperingatkan masyarakat untuk menjaga ketertiban. Tapi, ya itu tadi, harus melalui kesadaran masyarakat. Kami tidak bisa berbuat apa-apa kalau masyarakat tidak punya kesadaran sendiri,” kata Hidayat kepada Radar Banten, Minggu (11/3).

Kendati demikian, pihaknya sudah berulang kali melakukan koordinasi dengan Satpol PP, Dinas Perhubungan, maupun kepolisian untuk menertibkan para pedagang maupun aktivitas parkir liar di atas sarana trotoar. “Kalau penindakan, ranahnya ada di Satpol PP,” ujarnya.

Ia berharap kepada masyarakat agar bisa bijak dalam menggunakan trotoar yang sudah dibangun pemerintah. “Karena mungkin masih banyak masyarakat yang belum mengetahui fungsi trotoar itu seperti apa, jadi kita terus melakukan sosialisasi ke masyarakat agar trotoar digunakan sebagaimana mestinya,” ucapnya.

Wakil Walikota Serang Sulhi menegaskan, pembangunan trotoar oleh pemerintah diperuntukkan secara langsung bagi kebutuhan masyarakat yang sering bepergian dengan berjalan kaki. Ia mengingatkan masyarakat agar bisa menggunakan sarana tersebut sesuai dengan fungsinya.

“Trotoar itu fungsinya untuk pejalan kaki supaya aman dari kecelakaan lalu lintas. Kalau trotoarnya dipenuhi pedagang, pejalan kakinya nanti ke mana?” ujarnya, Jumat (9/3).

Ia berharap, masyarakat bisa mengembalikan fungsi fasilitas trotoar sebagai tempat bagi pejalan kaki. “Jadi, demi keselamatan dan ketertiban, saya harapkan pedagang yang berjualan di pinggir jalan hendaknya menempatkan diri di tempat yang sudah disediakan bukan di trotoar,” harapnya. (Rifat/RBG)