Nelayan di Binuangeun Kembali Melaut

Perahu nelayan baru pulang melaut di Binuangeun, Desa Muara, Kecamatan Wanasalam, Rabu (14/8). Foto Pemdes Muara for Radar Banten

LEBAK – Gelombang tinggi di pesisir pantai di Lebak selatan beberapa waktu lalu sempat membuat nelayan di Binuangeun libur melaut. Namun, gelombang laut tersebut kini kembali normal, sehingga dimanfaatkan para nelayan untuk mencari ikan memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Nurman, Ketua Paguyuban Nelayan Binuangeun menyatakan, lebih dari seminggu sebagian nelayan Binuangeun memilih untuk libur melaut. Kata dia, peringatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang ketinggian gelombang laut membuat para nelayan memilih tinggal di rumah. Oleh karena khawatir, gelombang tinggi dapat mengakibatkan kecelakaan laut yang berpotensi menghilangkan nyawa para nelayan.

“Sudah tiga hari para nelayan di Binuangeun dan daerah lain di Lebak selatan kembali turun melaut,” kata Nurman kepada Radar Banten, Rabu (14/8).

Dia mengaku, hasil tangkapan ikan nelayan Binuangeun cukup memuaskan. Jenis ikan yang ditangkap, di antaranya ikan tongkol, layur, kakap, udang, cumi, dan ikan kembung. Sebagian besar hasil tangkapan dijual di tempat pelelangan ikan (TPI), sedangkan sebagian lagi dibawa ke rumah untuk makan.“Alhamdulillah, hasil tangkapan ikan lumayan memuaskan,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPI Binuangeun Agustaman membenarkan, nelayan di Binuangeun dan wilayah Lebak selatan sudah melaut sejak beberapa hari lalu.

Sebelumnya, kata dia, para nelayan tidak melaut karena ada guncangan bencana gempa bumi yang disusul adanya gelombang tinggi di perairan Banten Selatan sesuai informasi dari BMKG.

“Hasil tangkapan ikan sudah kembali normal. Dalam sehari, nelayan Binuangeun bisa mendapatkan hasil tangkapan lebih dari sepuluh ton,” jelasnya.

Agustaman berharap, para nelayan yang sedang melaut tetap hati-hati dan waspada. Apalagi, beberapa waktu lalu sempat nelayan Binuangeun yang terseret ombak hingga pantai di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung akibat mesin kapal mati.

“Sebelum berangkat melaut, saya imbau kepada para nelayan untuk memeriksa mesin dan peralatan keselamatan lainnya. Tujuannya, tentu saja demi keamanan nelayan ketika beraktivitas di laut,” katanya. (tur/zis)