SERANG – Nelayan tradisional di Karangantu mengeluhkan adanya aktivitas nelayan dari luar daerah yang menggunakan alat tangkap berupa sondong. Alat penangkapan yang terbuat dari bambu berukuran 12 meter dan menggunakan besi tersebut, mampu mengeruk seluruh biota laut yang ada di pinggiran pantai Karangantu.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kota Serang Idin Samsudin mengatakan, kondisi ini menjadi keluhan sebagian besar nelayan di Karangantu. “Penggunaan sondong bisa mengancam kehidupan biota laut yang ada di pinggiran laut Karangantu. Tidak dilarang juga sih, tapi penggunaannya sudah mengkhawatirkan. Penghasilan tangkapan udang nelayan sering berkurang. Apalagi alat itu bisa merusak terumbu karang juga,” ujar Idin kepada wartawan via telpon seluler, Senin (26/1/2015).

Idin menyebutkan, nelayan yang menggunakan alat tersebut mayoritas berasal dari Lampung dan mereka mampu menghasilkan tangkapan udang hingga kwintalan. Bahkan kini, jumlahnya semakin banyak, dimana rata-rata nelayan sondong yang melaut di area perairan Karangantu mencapai sekitar 10 nelayan setiap harinya. Belum lagi, aktivitas mereka juga kerapkali merusak jaring rajungan milik nelayan setempat. “Sekarang makin banyak. Setiap hari kira-kira ada 10 nelayan yang beroperasi. Dengan alat itu, hasil tangkapan mereka lebih banyak, bisa kwintalan,” jelas Idin.

Idin menambahkan, Ironisnya, aktivitas itu terkesan dibiarkan oleh petugas maupun pemerintah setempat. Padahal kegiatan penangkapan itu sudah berlangsung sejak 6 bulan lalu. “Aktivitas itu seolah dibiarkan oleh Pol Airud dan pemerintah daerah. Padahal mereka sudah mulai melaut diperairan Karangantu dari setengah tahun lalu,” katanya.

Dikatakan Idin, pihaknya bersama para nelayan sempat mendatangi nelayan-nelayan sondong itu agar mereka segera meninggalkan perairan Karangantu. Namun hal itu hanya bertahan sesaat. Karena beberapa hari kemudian, mereka kembali lagi. Keluhan ini pun telah disampaikan ke Satuan Polisi Air Karangantu, namun hingga kini belum ada tanggapan. “Kita sudah pernah menyampaikan baru ke Pol Airud, belum ke dinas. Tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Kita khawatir nanti kalau warga sudah emosi, malah bertindak anarkis buat usir mereka,” jelasnya. (Fauzan Dardiri)