Nelayan Lampung Jadi Korban Sayembara Rp750 Juta

0
7.434 views
Ciliang (kanan) dan Andar (kiri) bersama kuasa hukumnya, Dedi Sembowo menyampaikan keterangan pers di Cilegon, Rabu (5/2).

CILEGON – Ciliang dan Andar nelayan asal Bengkunat, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, menjadi korban sayembera senilai Rp750 juta. Sayembara itu dijanjikan bagi warga yang berhasil menemukan jasad warga negara asing (WNA) Tiongkok dan Singapura yang tenggelam di Pulau Sangiang, pada November 2019.

Dari tiga korban tenggelam, yaitu Tan Xuz dan Tian Yu warga Tiongkok serta Wan Bzang warga Singapura, keduanya berhasil menemukan jasad Wan Bzang pada 11 November 2019. Namun hingga saat ini, hadiah sayembara sebesar Rp750 juta seperti yang dijanjikan keluarga Wan Bzang belum diterima oleh kedua nelayan.

Apesnya, kini keduanya dituding telah menerima uang sayembara tersebut oleh sejumlah nelayan Bengkunat lain yang membantu proses evakuasi korban. Ciliang dan Andar pun berupaya mencari cara untuk membuktikan kepada rekannya sesama nelayan jika mereka belum menerima uang tersebut. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Demi keselamatan, mereka mengungsi ke Tangerang.

Ciliang menceritakan, keapesannya berawal saat ia bersama Andar menemukan mayat terapung di perairan Bengkunat pada 11 November 2019. Saat itu ia tidak tahu jika mayat itu merupakan salah satu WNA yang tenggelam di Pulau Sangiang.

Merasa tak sanggup mengevakuasi mayat berdua, ia pun mengabarkan penemuan itu ke nelayan lain. Akhirnya, sekira 15 nelayan pun ikut mengevakuasi mayat yang masih berbalut pakaian selam.

Setelah dilaporkan ke pihak polisi, barulah terungkap jika mayat itu diduga kuat merupakan salah satu WNA yang tenggelam di Pulau Sangiang. Sebagai orang yang menjadi pihak yang menemukan mayat pertama kali, nama Ciliang dan Andar pun langsung tersebar luas melalui pemberitaan sejumlah media baik daring, cetak, maupun televisi.

Hal itu rupanya yang membuat belasan nelayan lain curiga jika Ciliang dan Andar telah menerima uang sayembara tanpa membagi uang tersebut ke rekan sesama nelayan yang ikut mengevakuasi korban.“Dengan adanya berita itu kami dianggap sudah dapat duit, mereka menanyakan langsung ke saya, sudah saya jelaskan tapi tidak percaya, mereka terus nanya,” ujar Ciliang, Rabu (5/2).

Karena terus ditanya, Ciliang merasa malu sekaligus kesal kepada masyarakat yang menudingnya telah menerima uang sayembara. Dia pun bersama Andar memutuskan untuk tinggal sementara di kediaman kerabatnya di Cipondoh, Tangerang. “Sudah dua minggu enggak pulang, kami malu, kesal, khawatir khilaf ribut dengan teman,” tutur Ciliang.

Untuk mencari kebenaran sayembara sekaligus mencari bukti ia belum menerima uang sayembara, Ciliang dan Andar mengaku sudah mendatangi Basarnas Banten untuk meminta petunjuk. Sayangnya Basarnas tidak bisa memberikan solusi.

Ia pun pernah menghubungi keluarga korban melalui kontak yang terdapat pada selembaran sayembara, tetapi tidak membuahkan hasil. “Nyambung, tapi ngomongnya bahasa Tionghoa, habis itu enggak bisa dihubungi lagi,” tuturnya.

Kini ia meminta tolong kepada Dedi Sembowo, pengacara dari JL Thamrin Law Firm agar bisa menyelesaikan masalah tersebut. Ciliang dan Andar berharap, jika sayembara itu benar, keluarga korban memberikan hadiah sesuai dengan yang dijanjikan. Jika sayembara itu hanya sekadar iming-iming, ia meminta kepada keluarga korban untuk menjelaskan hal itu kepada nelayan di Bengkunat.

Dalam kesempatan yang sama, Dedi Sembowo menuturkan, sayembara itu telah merugikan Ciliang dan Andar. Nama baiknya telah tercoreng hingga mereka harus meninggalkan keluarga. Untuk itu, ia mengaku akan melayangkan somasi kepada kedutaan dan jika terbukti melanggar hukum akan diadukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (bam/ibm/ags)