Ngakunya Perjaka, Ternyata Sudah Punya Anak Dua

0
824 views

Ibarat membeli kucing dalam karung, Siti (35) nama samaran mengalami peristiwa memilukan. Dibawakan lelaki tampan pilihan sang ayah, sebut saja Jawir (38), Siti jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat mau menikah, Siti malah dilabrak istri Jawir yang membawa dua anaknya. Oalah.

Ditemui Radat Banten di Kecamatan Waringinkurung, Siti tampak cantik mengenakan kain batik dan kerudung serasi berwarna kuning. Sambil berteduh menunggu hujan reda, Siti pun asik menceritakan pengalaman masa lalunya.

Siti mengaku, tak pernah bisa melupakan peristiwa yang terjadi tujuh tahun lalu itu. Bukan hanya sakit hati dan kecewa, Siti juga malu karena dituduh wanita perebut suami orang. Padahal ia tak tahu apa-apa. Namun hikmahnya, sejak itu, sang ayah tak pernah lagi ikut campur soal pilihan jodoh Siti.

“Ya Bapak dulu tuh suka pilih-pilih, lelaki yang jadi suami saya harus sesuai sama kemauan dia,” curhat Siti.

Semua bermula saat Siti menjalin hubungan dengan lelaki satu kampung anak tukang warung nasi. Sang lelaki yang tak lain teman SMA Siti itu, berhasil membuat Siti jatuh cinta karena kesederhanaan. Berpenampilan apa adanya dan bersikap baik, Siti merasa nyaman dan bahagia. Meski banyak yang bilang kalau Siti tak pantas dengannya, tapi ia tak peduli dan menikmati masa indah itu.

Maklumlah, selain cantik, Siti juga anak orang berada. Ayahnya punya banyak sawah dan usaha ternak sapi. Katanya, keluarga Siti dari zaman dulu memang sudah kaya hasil bisnis penjualan kerbau kepada penjajah Belanda. “Ya, dulu kakek jual kerbau dan dibayar pake emas,” katanya.

Singkat cerita, setelah lulus SMA, Siti tak melanjutkan pendidikan karena ingin buka bisnis makanan. Sempat beberapa kali membuka usaha, tapi gagal dan akhirnya sia-sia. Karena itu, sang ayah meminta Siti segera menikah. Akhirnya Siti pun mengenalkan sang lelaki anak warung nasi itu pada ayahnya.

Sang ayah tak setuju. Terjadilah percekcokan, Siti diminta mengakhiri hubungan dengan sang lelaki. Meski sempat menolak dan tetap pacaran, Siti akhirnya tak bisa berkutik saat ayahnya mencarikan jodoh untuknya. “Saya sempet mau kabur dari rumah, tapi malah ketahuan dan dikunci di kamar,” curhat Siti.

Seminggu kemudian, datanglah sang lelaki pilihan ayahnya dari Jakarta tak lain ialah Jawir. Siti diminta berdandan tampil cantik memesona. Saat bertemu di ruang tengah rumahnya, Siti langsung jatuh cinta. Wajar saja, Jawir memiliki kulit putih bersih dengan pakaian rapi seperti orang kantoran, membuat siapa pun wanita yang melihat akan klepek-klepek. “Dia tampan kayak artis gitu mukanya,” kata Siti.

Sejak itu, Siti tak pernah lagi berhubungan dengan kekasih lamanya. Siti malah banyak menghabiskan waktu dengan Jawir. Jalan-jalan ke Jakarta dan keliling Serang, Siti mulai merasa nyaman. Wah, ini sih namanya datang baru lupa yang lama. “Ya kan namanya juga masih muda, suka labil dikit mah enggak apa-apa,” kilah Siti.

Kedekatan Siti dan Jawir pun mulai diketahui banyak orang. Termasuk sang mantan pacar anak tukang warung nasi. Hebatnya, sang mantan seolah menerima kenyataan dan mampu bersikap dewasa. “Ya ada sih rasa enggak enak ke dia, tapi mau gimana lagi,” kata Siti.

Enam bulan kemudian Siti dilamar. Dengan cincin emas lima belas gram, Siti bersiap menjadi pengantin baru. Saat itu persiapan pesta pernikahan mulai dilakukan keluarga. Mulai dari merenovasi rumah, meminta bantuan ibu-ibu memasak, sampai pembuatan undangan, semua tinggal menunggu hari pernikahan. “Saya udah bayangin bakal hidup bahagia sama Kang Jawir,” khayal Siti.

Undangan pernikahan Siti dan Jawir disebar. Karena ada beberapa teman Siti yang tinggal di Jakarta, ia menitipkan undangan itu kepada Jawir dan dimasukkan ke dalam tas. Semula semua tak ada kendala, hingga seminggu menjelang tanggal pernikahan, Siti mendapat telepon dari wanita yang tak ia kenal. “Dia langsung caci-maki saya,” kata Siti.

Keesokan harinya, sang wanita penelepon datang ke rumah Siti dan membawa dua anak yang masih balita. Sambil terus mencaci-maki, sang wanita juga berusaha menjambak kerudung Siti. Beruntung masih ada sang ayah yang melindungi. Saat itulah Siti tahu kalau wanita itu tak lain suami Jawir. Astaga.

Siti tak kuasa menahan tangis. Ia pun menyalahkan sang ayah yang menjodohkannya dengan Jawir. Namun sang ayah juga tak bisa bertindak, kata Siti, ayahnya pernah menanyakan status Jawir, Jawir menjawab masih perjaka. “Perjaka dari hongkong, dia sudah punya anak dua,” tukas Siti emosi.

Akhirnya Siti didampingi keluarga pun meminta maaf pada istri Jawir. Meski begitu, amarah sang wanita belum juga reda. Setelah didatangkan ketua RT dan beberapa sesepuh kampung, masalah pun selesai. Siti tak jadi menikah dan menanggung malu. Akibatnya, sebulan lebih ia tak keluar rumah. “Kalau bukan karena dorongan semangat dari keluarga dan teman, mungkin saya sudah bunuh diri,” ungkapnya.

Setahun kemudian, Siti menikah dengan lelaki pilihan hatinya. Sampai saat ini Siti hidup bahagia dengan tiga anak yang mulai tumbuh remaja. (mg06/zee)