Ngamuk! Masakan Istri Tak Senikmat Masakan Tetangga

Soal rasa memang tak pernah bohong, ucapan pada iklan salah satu produk makanan itu cukup mewakili kisah rumah tangga Jono (34) dan Tuti (34) keduanya nama samaran. Jono yang tak suka masakan Tuti, memilih sering berkunjung ke rumah tetangga untuk menumpang makan. Tuti pun murka dan mengusir Jono. Waduh.

                Beruntung, peristiwa yang terjadi dua bulan lalu itu tak sampai mengakhiri bahtera rumah tangga keduanya yang sudah berjalan lima tahun. Demi menjaga hubungan tetap harmonis, Jono mengaku, sering berpura-pura memuji masakan istrinya. “Ya mau gimana lagi, nikmatin ajalah,” kata Jono.

                Jono mengaku, alasannya masih mempertahankan rumah tangga dengan Tuti karena istrinya termasuk wanita cantik. Berpostur tinggi dan semok, Jono sangat menyayangi istrinya. Selain itu, Jono juga tak mau hidup menggelandang. Soalnya rumah yang ia tempati sekarang adalah rumah Tuti. “Warisan orangtua, kalau rumah orangtua saya mah sudah penuh sama keponakan,” katanya.

                Ditemui Radar Banten di Desa Bojongmenteng, Kecamatan Tunjungteja, Jono yang berprofesi sebagai tukang sayur keliling sibuk melayani ibu-ibu pembeli. Ternyata selain jago jualan, Jono juga jago menggosip. Termasuk menceritakan kisah rumah tangganya. Wadaw.

                Padahal, Jono memiliki postur tubuh gemuk dan wajah sangar. Tapi, ya mungkin karena tuntutan profesi, ia pun berusaha membuat nyaman ibu-ibu dengan gaya bicaranya yang cepat dan sedikit melambai. “Keseharian juga memang begini sih saya mah,” guyonnya sambil ketawa.

                Perjumpaannya dengan Tuti bermula saat Jono berjualan celana jeans keliling ke kampung-kampung. Suatu hari Tuti membeli celana kepada Jono, tetapi karena ukurannya tidak pas, Tuti yang sudah memiliki nomor telepon Jono meminta datang lagi.

                Pada pertemuan kedua itulah, kedekatan mereka mulai intens. Sikap Jono yang ceria dan ramah, membuat Tuti nyaman. Dua bulan kemudian Jono dan Tuti pun jadian. Jono warga asli Cibaliung, Pandeglang, pun membawa keluarganya melamar Tuti. Seminggu kemudian mereka menikah.

                Mengawali rumah tangga, Jono dan Tuti tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. Waktu itu Jono masih merasa nyaman karena masakan ibu mertua sangat lezat. Nafsu makan Jono yang tinggi pun terakomodir dengan baik. Tak pernah kekurangan beras dan lauk, Jono bahagia.

                Tak lama kemudian nenek Tuti yang tinggal di kampung lain meninggal dunia.  Jono dan Tuti diminta menempati rumah bekas almarhum nenek yang sengaja diwariskan untuk Tuti. “Alhamdulillah punya rumah tanpa susah payah cari duit,” kata Jono.

                Tapi, di tengah kebahagiaan punya rumah sendiri, Jono mulai merasa tak nyaman karena masakan istri tak senikmat masakan mertua. Jono pun kebingungan bagaimana cara menegur istrinya kalau masakannya tak enak. “Rasanya aneh, hambar, mau ditegur juga takut marah,” keluhnya.

                 Beruntungnya, belum lama tinggal di rumah baru, sang istri melahirkan. Keluarganya pun sering mengirim makanan. Namun, itu tak berlangsung lama. Saat anaknya mulai berusia enam bulan, Tuti kembali memasak untuk suami dan anaknya. Namun, suatu hari, tetangganya mengirim makanan dan Jono menyukainya. “Waktu itu tetangga lagi ada acara selametan gitu, masakannya enak,” katanya.

                Seiring berjalannya waktu, Jono merasa tak tahan dengan kondisi rumah tangga yang tak ada perubahan. Karena penghasilan dari berjualan celana tak mecukupi kebutuhan sehari-hari, akhirnya Jono beralih profesi berjualan sayuran. “Alhamdulillah lebih lancar jualan sayuran, setiap hari diborong ibu-ibu,” katanya.

                Ibarat pepatah sambil menyelam minum air, Jono sering memberi sisa sayur jualannya kepada tetangga untuk dimasak. Lalu setiap habis magrib, Jono akan pura-pura bertamu padahal numpang makan. “Masakan istri tetap saya makan, tapi sedikit. Puas-puasnya mah ya makan di rumah tetangga” akunya.

                Setahun lebih Jono melakukan strategi makan enak tanpa diketahui Tuti. Namun, rahasia itu ketahuan juga. Tuti curiga dengan kebiasaan suaminya yang bertamu setiap bakda magrib ke tetangga. Tuti diam-diam mengintip dari pintu belakang menyaksikan Jono makan lahap. “Besoknya dia langsung lemparin pakaian saya keluar dan minta saya tinggal sama tetangga,” katanya.

                Beruntung keributan itu bisa diredam orangtua Tuti yang datang melerai. Kini Jono tak mau lagi mempermasalahkan masakan istri di rumah. Baginya, memiliki istri secantik Tuti pun sudah bersyukur. Rumah tangga mereka pun kembali harmonis. “Ya tapi kalau lagi ada kesempatan mah saya makan di warteg,” katanya.

                Oalah. Ya sudahlah, yang penting sudah baikan dan semoga harmonis selamanya. Amin. (mg06/zee/ags)