Ngebut, Pemotor Tewas di Jalur Tengkorak

Sebuah kendaraan sport roda dua nopol B 4624 NCZ terlibat kecelakaan dengan kendaraan roda empat nopol A 1018 VQ, di Jalan Raya Serang-Cilegon KM 7, Kampung Pelamunan, Desa Pelamunan, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Rabu (25/7).

SERANG – Jalan Raya Serang-Cilegon kembali menelan korban jiwa. Rabu (25/7), Bagus Eka Atmaja (24), tewas setelah motor sport miliknya terlibat kecelakaan maut di jalan yang dikenal sebagai jalur tengkorak.

Kecelakaan maut itu terjadi sekira pukul 07.10 WIB. Sebelumnya, korban yang mengendarai motor Honda CBR 250 nopol B 4624 NCZ melaju kencang dari arah Serang menuju Cilegon. Saat melintasi Kampung Pelamunan, Kelurahan Pelamunan, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, korban berusaha menyalip sebuah mobil yang berada di depannya.

Dari arah berlawanan melaju sebuah mobil Toyota Agya nopol A 1018 VQ yang dikemudikan Munawar Tahir (52). Kemunculan mobil Munawar memaksa korban memacu motornya lebih kencang lagi. Lantaran jalan bergelombang membuat motor oleng ke kanan jalan. “Dari arah Serang. Dia (korban-red) kencang banget. Ngambil jalur saya (berlawanan-red) mau nyalip mobil. Oleng, nabrak pinggir depan sebelah kanan mobil saya,” kata Munawar ditemui di lokasi kejadian.

Benturan dua kendaraan tersebut menyebabkan korban terpental dari motor. Tubuh korban langsung membentur aspal jalan. Lelaki asal Desa Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang itu tewas di lokasi kejadian. “Si motor kencang banget terus oleng, kalau saya udah minggir. Bapak ini (Munawar-red) mungkin enggak lihat,” kata saksi mata Nur Aulia.

Polisi langsug mendatangi lokasi kejadian. Jasad korban dievakuasi ke Rumah Sakit (RS) dr Dradjat Prawiranegara, Kota Serang. “Kendaraan sudah diamankan di Mapolres Serang Kota,” kata Kanit Lakalantas Polres Serang Kota Inspektur Polisi Dua (Ipda) Ade Komarudin.

Ade Komarudin mengatakan, lokasi kecelakaan masih berada di jalur tengkorak. Selama enam bulan terakhir, tercatat ada 16 kasus lakalantas di sepanjang jalur Kramatwatu-Cilegon. “Itu daerah black spot artinya rawan laka. Terhitung sejak Januari 2018 sudah ada 16 kejadian,” kata Ade.

Belasan kasus lakalantas itu didominasi oleh roda dua. Lakalantas itu mengakibatkan puluhan orang tewas dan luka-luka. “Sepuluh orang meninggal dunia, tiga orang luka berat, dan 10 orang luka ringan,” kata Ade.

Menurut Ade, belasan kasus lakalantas itu dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor jalan, cuaca, manusia, dan kendaraan. “Paling utama itu karena human error dan kondisi jalan. Human error itu, misalnya, memaksa untuk menyalip padahal jarak pandang pendek. Ditambah jalan bergelombang. Seperti dalam kasus kecelakaan ini,” beber Ade. (Merwanda/RBG)