Niat Bantu Janda, Istri Salah Sangka

Boim (36), bukan nama sebenarnya, sering menjadi korban sindiran istrinya, sebut saja Ani (36). Hal itu lantaran sifat dermawan Boim ditujukan kepada orang yang kurang tepat di mata istri. Beruntung Ani sifatnya dewasa sehingga memaklumi semua tingkah Boim yang dianggap menyimpang.

Pernikahan Boim dan Ani berlangsung tujuh tahun. Keduanya saling melengkapi. Sifat Boim yang cenderung manut selaras dengan Ani yang mempunyai sikap tegas dan dewasa. Selama berumah tangga, Ani yang selalu menentukan keputusan. Boim termasuk pria yang ramah dan sederhana. Beruntung Boim berasal dari keluarga berada. Ayahnya mantan kepala desa yang mempunyai banyak sawah dan kebun. Saat ini Boim menjalani pekerjaan sebagai staf di kantor desa.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Baros, Boim siang itu sedang menongkrong di luar pasar menunggu istrinya belanja. Kita pun berbincang-bincang dan Boim pun menceritakan seputar rumah tangganya. Dilihat dari gaya bicara dan sikapnya, Boim termasuk orang yang polos. Perjumpaannya dengan Ani saat mereka mengikuti acara kerja bakti. Boim saat itu terlihat kelelahan setelah membersihkan halaman masjid dibawakan kopi oleh Ani yang juga ikut ambil bagian dari kegiatan sebagai seksi konsumsi. Pandangan pertam begitu menggoda, Boim langsung kepincut oleh sosok Ani.

“Ani orangnya cantik, bodi ideal, kulitnya juga putih. Makanya saya suka,” akunya. Dasar buaya.

Keesokan harinya, Boim mencari tahu soal Ani. Dengan modal tampang pas-pasan dengan badan kurus kering, Boim pun mulai meneror Ani dengan pesan singkat dan telepon tanpa identitas. “Dulu sering kirim sms perhatian gitu,” akunya. Terus terus?

Suatu hari teror Boim diketahui Ani. Untungnya Ani tak langsung marah, malah balik balas sms Boim. Merasa ada kecocokan, keduanya semakin intens menjalin komunikasi. Sampai akhirnya mereka sepakat untuk menjalin hubungan. Setelah memiliki modal yang cukup untuk melamar Ani, setahun pacaran Boim pun langsung melamar Ani. Pas menikah, Boim mengaku banyak hal yang diajarin istrinya. Termasuk menjalin hubungan intim. “Saya banyak diajarin sama istri kalau urusan ranjang,” guraunya.

Setahun berumah tangga, Boim dikaruniai anak. Kehadiran si buah hati ternyata membawa hikmah. Boim menjadi rajin ibadah dari sebelumnya salat saja belang-belang. Boim juga jadi suka mengikuti acara pengajian dari sebelumnya gemar karokean. Boim termasuk jamaah yang rajin dan paling semangat setiap acara pengajian. Setiap ada kegiatan keagamaan, Boim selalu duduk paling depan mendengarkan ceramah. Pengakuannya sih begitu. Namun, sepertinya banyak yang belum dipahami Boim dari isi pengajian. “Waktu itu saya cuman niat bantuan janda, itu aja,” akunya. Iya tapi kalau janda muda sih lain cerita Kang.

Boim memang orangnya peduli terhadap sesama, apalagi warga kurang mampu. Tapi cara dia berbaik hati kali ini lain. Memang benar yang diperhatikan statusnya janda, terus anak yatim. Tapi janda yang diperhatikan Boim masih segar bagaikan kol yang baru dipetik di kebun pagi-pagi. Tubuhnya juga aduhai, wajahnya rupawan sehingga niat baiknya terhadap janda itu membuat istri berang. Suatu hari, Boim mengantar perempuan berstatus janda, sebut saja Ojah (30), bersama anaknya belanja ke pasar dan sekolah. Maksud hati Baim ingin membantu, tidak lebih. Sayangnya, sikapnya itu justru membuat istri murka hingga menyuruhnya untuk menikah lagi. Oalah. “Enggak ngerti waktu itu kenapa istri malah nyuruh nikah lagi pas saya bantuin janda?,” tanyanya. Pikir aja sendiri.

Namun sindiran istri malah dianggap serius oleh Boim hingga diceritakan kembali pernyataan istrinya kepada ustad yang memimpin acara pengajian. Sontak, curahan hati Boim pun menjadi bahan tertawaan warga yang ikut pengajian. “Waktu itu kan kata ustad, kita harus bersikap baik ke janda dan anak yatim. Ya saya mah niatnya ibadah,” kelitnya. Tapi kan bukan janda yang seksi dan bohai juga kali.

Boim mengakui, jika selama berumah tangga dengan Ani, kerap memperhatikan Ojah yang kesulitan ekonomi. Sejak suaminya meninggal, Ojah hanya berprofesi sebagai penjual gorengan dan cemilan di pasar. Penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak. Maka adari itu, Boim semakin intens datang ke rumah Ojah sebelum berangkat ke kantor pagi-pagi. Hampir setiap hari, Boim rutin mengantar Ojah dan anaknya ke pasar dan sekolah. Tentu saja, rutinitas yang dijalani Boim itu mengundang kecurigaan tetangga dan orang-orang disekitarnya hingga melaporkan hal itu kepada istrinya. “pas istri tahu, ya ributlah. Ani ngamuk-ngamuk. Saya justru bingung,” kelitnya. Bingung apa pura-pura bego Kang!

Sikap yang ditunjukan Boim membuat hati Ani lelah hingga menyindirnya untuk pergi dan menikahi janda yang sering diantarnya itu. Pernyataan Ani pun diceritakan lagi oleh Boim kepada ustad yang memimpin pengajian. Sontak, pertanyaan Baim menjadi bahan tertawaan jamaah. Sampai akhirnya, Pak ustad mendatangi Ani dan meluruskan persoalan yang kurang dipahami oleh suaminya. “Pas dijelaskan Pak Ustad, saya baru ngeuh (sadar-red) kalau saya salah, maaf, namanya juga khilaf,” akunya. Khilaf sih sama janda muda.

Setelah dijelaskan oleh ustad, keduanya menyadari kesalahan masing-masing dan sepakat untuk tidak lagi salah paham dan saling memaafkan. “Alhamdulillha, sekarang saya dan istri rukun sampai sekarang,” ucapnya. Syukur deh Kang. (mg06/zai)