Niatnya Sosialita, Malah Bikin Malu Suami

Parjo (48), nama samaran, mempunyai istri, sebut saja Monik (41), gemar bersosialita. Namun, sifat narsis istri ternyata tidak biasa. Yakni, sering meng-upload foto-foto suami di media sosial dengan fose memalukan. Kondisi itu membuat rumah tangga mereka nyaris berantakan karena suami tidak terima menjadi bahan ejekan dan tertawaan semua orang. Oalah.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Kibin, Parjo siang itu sedang duduk di masjid. Tak banyak bicara, saya langsung mengajak Parjo berbincang soal pengalaman rumah tangganya. Parjo pun sempat menggeleng-gelengkan kepala mengingat ulah istrinya. Baik Parjo maupun Monik sama-sama berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Parjo asli Jawa, sementara Monik berasal dari Pandeglang. Perjumpaannya dengan Monik bermula ketika Parjo mengantar majikannya ke sebuah mal.

Saat membawa barang-barang belanjaan milik majikanlah, Parjo melihat kantong belanjaan Monik terjatuh. Parjo pun membantu mengambil kantong belanjaan yang terjatuh dan menyerahkannya kepada Monik. Dari situ, mereka berkenalan. Merasa saling ada ketertarikan, keduanya bertukar nomor telepon. “Waktu itu dia masih malu-malu gitu,” kenangnya. Maklum baru kenal.

Keesokan harinya, Parjo yang merasa punya rasa terhadap Monik mencoba menghubunginya. Meski SMS tak pernah dibalas dan telepon tak pernah diangkat, Parjo tak menyerah begitu saja. Sampai akhirnya mereka bertemu untuk kali kedua di mal. Parjo pun menegur Monik. “Setelah saya tegur, besoknya dia mulai balas SMS saya terus,” akunya. Masa sih.

Sejak itu, keduanya semakin intens menjalin komunikasi. Parjo pun mulai berani mengajak bertemu dan mentraktir makan. Setelah merasa ada kecocokan, enam bulan kemudian mereka pun jadian. “Pas jadian, dia minta langsung dinikahin. Kan saya pusing,” tukasnya. Lah, gimana sih Mas, bukannya suka, eh malah pusing.

Soalnya, tabungan Parjo waktu itu belum cukup untuk menggelar pesta pernikahan. Sampai akhirnya sedikit demi sedikit Parjo menyisihkan uang gajinya untuk ditabung. Tiga tahun berjalan setelah dirasa uang tabungannya cukup, Parjo pun melamar Monik. Sebulan kemudian mereka menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri. Setahun kemudian mereka dikaruniai anak. Mulanya rumah tangga mereka berjalan lancar. Parjo masih bekerja sebagai pembantu, sementara Monik memilih berhenti bekerja dan fokus mengurus anak. Kehidupan sederhana dijalani keduanya. “Untung dia perempuan yang mau diajak susah,” pujinya. Yang susah tuh istri yang mau diajak senang Mas.

Tiga tahun kemudian, Parjo pun mengikuti jejak istrinya berhenti bekerja sebagai pembantu dan beralih profesi menjadi penjual buah-buahan. Namun, tak lama usahanya bangkrut. Tapi, Parjo tidak menyerah, ia kembali mengeluarkan modal membuka usaha fotokopi di kawasan Cikande. Usahanya maju. Tak puas dengan usaha yang dijalankannya, Parjo membuka cabang usaha baru berjualan sembako. “Alhamdulillah semua lancar, sekarang saya punya sepuluh karyawan,” akunya. Wih sombong.

Ekonomi Parjo pun meningkat. Kondisi itu membuat Parjo dan istrinya cukup dihormati warga lingkungan sekitar. Monik pun mulai berubah menjadi wanita sosialita mengikuti perkembangan zaman dan pergaulan. Namun, sejak itu pula prahara mulai datang. Monik mulai kesetanan bersosialita, upload sana upload sini dan mulai lupa mengurus suami dan anaknya. Tangan Monik tak pernah lepas dari ponsel untuk bernarsis ria. Semua momen yang menurut dia menarik dan lucu, dia unggah ke medsos. Semakin hari, perilaku negatif Monik semakin tak terbendung. Semua momen diabadikan. Termasuk foto-foto suaminya yang sedang berfose tidak selayaknya. Monik semakin hari semakin aneh. Seperti foto Parjo sedang melepas kaos karena kegerahan setelah menjaga toko seharian. Kemudian foto Parjo sedang tertidur pulas di kursi toko. Bahkan, Parjo sedang menghitung uang hasil jualannya tak luput dari postingan Monik. Perilaku itu membuat Parjo geram karena dinilai sudah mengumbar-umbar aib. Parjo semakin emosi ketika menyadari banyak pelanggannya yang senyum-senyum tak karuan. Ketika Parjo menegurnya, pelanggan itu malah semakin tertawa geli. Parjo pun bingung. Sampai akhirnya salah satu pelanggannya memperlihatkan foto-fotonya yang tidka selayaknya diunggah di akun Facebook milik Monik.

“Pantesan orang-orang pada ketawa. Foto saya lagi telanjang dada dan cuma pakai kolor nyebar ke mana-mana,” kesalnya. Waduh gawat.

Tak hanya itu, usai postingan Parjo sedang menghitung uang tersebar di medsos, malamnya Parjo disindir tetangga karena dianggap tukang pamer. Awalnya Parjo tak sadar yang terjadi, sampai saudaranya mengingatkan tentang unggahan Monik yang memicu emosi Parjo. Keesokan harinya, Parjo menegur Monik dan memakinya habis-habisan. Bahkan ponsel Monik juga disita. Bukannya menyadari kesalahan, Monik malah kabur pulang ke rumah orangtua dan menulis status yang mengundang pertanyaan banyak orang. “Postingan Monik di medsos membuat orang nyangka kita udah cerai. Masa dia nulis, kalau begini caranya, lebih baik cerai saja,” keluh Parjo menyampaikan postingan yang di-upload Monik.

Sontak Parjo langsung mendatangi Monik dan menemui keluarganya untuk musyawarah. “Setelah musyawarah, Monik mengaku salah dan minta maaf. Ia janji enggak akan ngulangi kesalahannya,” tandasnya. Pasca kejadian itu, rumah tangga mereka kembali harmonis. (mg06/zai/ags)