Nih Manfaat Ubi Ungu yang Luar Biasa

0
2.383 views

MALANG – Ubi jalar warna ungu ternyata punya khasiat mencegah terjadinya penyakit jantung koroner. Makanan yang dianggap sebagian masyarakat sebagai makanan kelas dua itu sudah diujikan.

Hasilnya sukses. Penelitinya, Dr dr Meddy Setiawan akan mengenalkan telo ungu sebagai pencegah kanker di Toronto, Kanada, 18-1 September mendatang.

FAJRUS SHIDDIQ

Temuan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membawa nama telo ungu ke dunia medis internasional, khususnya jantung. Meski telo sebenarnya sudah banyak diteliti para profesor dalam dan luar negeri.

Hanya saja, untuk penemuan terkait hubungan telo ungu dengan jantung koroner, baru dirinya yang sukses. Dan mendapatkan paten.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Malang di kantor Tata Usaha Fakultas Kedokteran UMM, Senin (24/7), Meddy baru saja selesai menguji skripsi mahasiswanya.

Dia kemudian menceritakan bagaimana dirinya bisa diundang ke Toronto, Canada dua bulan mendatang dalam gelaran Annual Conference on Heart Diseases. Dia mengalahkan ribuan pendaftar dari berbagai Negara. ”Hasil penelitian ini berdasar disertasi saya yang akan segera dipatenkan,” ujarnya.

Dokter kelahiran Blitar 21 Mei 1968 tersebut awalnya merasa heran dengan warga Papua. Meski dalam sehari-hari mereka mengkonsumi lemak yang tinggi, seperti makan daging babi, namun angka penyakit jantung terbilang rendah.

Dari situ kemudian pada tahun 2014 hingga tahun 2015 dirinya melakukan penelitian.

Namun, subjeknya jelas bukan warga Papua secara umum. Hanya saja saat dia tahu bahwa warga di sana juga mengkonsumsi ubi jalar atau telo sebagai makanan utama, dirinya langsung berpikir bahwa telo berkhasiat mencegah terjadinya penyakit jantung koroner. Dosen FK UMM tersebut langsung melakukan percobaan.

”Setelah saya teliti sejumlah ubi jalar, telo ungu Gunung Kawi ternyata mengandung anthocyanim ascorbic dan betaglukan yang tinggi,” kata Dokter RS UMM itu.

Dia menyiapkan laboratorium untuk melakukan penelitian. Meddy menggunakan tikus sebagai alat percobaannya.

Dalam percobaan tersebut, tikus-tikus putih diberinya makanan yang tinggi lemak, seperti daging kambing, putih telur dan lainnya. Itu dilakukan setiap hari selama 12 minggu atau tepat tiga bulan.

Namun, selain memberinya makanan berlemak, Meddy juga memberikan ekstrak telo ungu di lambungnya dengan pipet.

Untuk menjadikan telo ungu menjadi serbuk atau ekstrak, Meddy mengolahnya tanpa rebusan. Awalnya, telo ungu dihaluskan sehingga menjadi serbuk. Setelah itu dijadikan cairan dari hasil serbuk tersebut yang kemudian menjadi ekstrak telo ungu.

”Setelah saya matikan dan membedah tikus itu, hasilnya tidak ditemukan plak eterosklerotik dan tidak terbentuk foam cell pada jaringan sub-endotel pembuluh darah,” jelasnya. Itu berarti, kadar indikasi penyakit jantung koroner yang diasumsi akibat makanan berlemak tidak ada.

Penelitian yang dilakukannya selama setahun tersebut kemudian dinilainya berhasil. Kini, dia membuat ekstrak telo ungu yang dikonsumsi pasiennya.

Namun, kata Meddy, sifat dari ekstrak tersebut utamanya untuk melakukan pencegahan. ”Dari penelitian ini nantinya saya kira telo ungu akan naik secara nilai ekonomis. Dan melakukan pencegahan jantung koroner tidak perlu mahal,” kata Dokter RS Bhayangkara Hastabrata Batu itu.

Nah, dari penelitian tersebut kemudian Meddy berhasil memikat pihak peneliti kedokteran dunia di London untuk mengundangnya menjadi pembicara atas penelitiannya.

Kata Meddy, proses yang dilakukannya untuk mendapatkan undangan tersebut harus bersaing dengan ribuan orang dari seluruh dunia. Karena penilaian dilakukan lewat website Heatdiseases.

”Saya upload abstrak penelitian ini, dan kemudian terpanggil dengan undangan di email,” tuturnya senang.

Dokter RS Etty Asharto Batu itu memang bukan satu-satunya di Indonesia. Di Malang, dia akan berangkat bersama pakar jantung Prof Janggan dari RSSA Kota Malang.

Dia akan mempresentasikan naskahnya yang berjudul Atherosclerosis prevention mechanism through purple sweet potato (ipomoea batatas) consumption: roles of intracellular HSP 70, extracellular HSP 70, lipoprotein associated phospholipase A2 (Lp-PLA2), high sensivity C-Reactive protein (hs-CRP) toward foam cell. ”saya coba kenalkan telo ungu gunung Kawi di Kanada,” pungkasnya. **