Mungkin karena masih labil dan belum puas menikmati pengembaraan cinta, pasangan muda Jojon (36) dan Wati (34), keduanya nama samaran, diterjang gelombang besar problematika rumah tangga. Sama-sama tak bisa mengontrol diri, mereka saling meninggikan emosi. Aih-aih.

Entah karena bosan atau mungkin tak lagi cinta, keberadaan sang buah hati tak mampu menjadi benteng bagi Wati menahan godaan saat status sebagai istri orang. Berjalan dua tahun usia pernikahan, bukannya semakin kuat malah jadi penuh karat.

“Saya enggak nyangka bisa mengalami hal rumit ini sama dia. Ini benar-benar bikin saya drop, enggak kuat, Kang. Kejadiannya tuh pas saya usia 25 dan Jojon 27 tahun,” curhat Wati kepada Radar Banten.

Padahal, seperti diceritakan Wati, hubungan asmara dengan Jojon sudah terjalin sejak SMP. Mereka bertemu ketika masih sama-sama bau kencur. Belum mengerti arti cinta sesungguhnya, bahkan pacaran pun masih dalam tahap senang-senang saja. Hebatnya, waktu itu mereka mampu bertahan tiga tahun lamanya. Di tengah godaan teman wanita yang jauh lebih cantik dan lelaki tampan, baik Jojon maupun Wati mampu mempertahankan hubungan. Kisah asmara mereka menyita banyak perhatian.

Namun, yang namanya cinta, Terkadang mereka saling bertengkar dan marah satu sama lain. Tapi, ibarat magnet yang saling tarik menarik, Jojon seolah tak rela Wati menghilang begitu saja. Setelah lulus SMA, ya mungkin sama-sama khilaf, Wati tak ingin menceritakan detail bagaimana peristiwa itu terjadi. Yang jelas, ia dan Jojon sudah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Astaga.

“Waktu itu saya benar-benar menyesal. Sudah bikin kecewa orangtua dan keluarga. Untungnya keluarga mau menemani dan menguatkan saya, terus dia datang tiba-tiba dan langsung melamar. Ya, meski persiapan seadanya, tapi alhamdulillah bisa terlaksana,” tuturnya.

Meski terkesan memaksakan, acara lamaran malam itu berjalan tanpa ada kendala. Setidaknya, ketakutan Wati akan kehilangan sang kekasih tercinta bisa teratasi karena sudah ada ikatan. Tak lama berselang, hanya dalam waktu seminggu mereka menuju jenjang pernikahan.

Dengan pesta sederhana, hanya mengundang tetangga dan orang terdekat, hari bahagia itu menjadi hari bersejarah bagi Jojon dan Wati. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan usia yang sebenarnya terbilang muda, mereka siap membangun bahtera rumah tangga.

Di awal pernikahan, Jojon menjadi suami yang baik dan perhatian, baik kepada istri maupun mertua. Setiap gajian, pasti membawa makanan. Biasalah, hitung-hitung cari perhatian dan beradaptasi dengan lingkungan. Perlakuan serupa tak jauh berbeda dilakukan Wati kepada keluarga suami.

Senang mengirimi makanan ke rumah mertua, Wati juga mencoba beradaptasi agar mendapat kesan baik di mata keluarga. Hasilnya, baik Jojon maupun Wati sama-sama disayang mertua. Rumah tangga mereka berjalan sempurna, pokoknya, mereka hidup bahagia.

Memasuki tahun pertama, lahirlah bayi lelaki lucu kebanggaan pasangan muda itu. Hubungan dengan kedua keluarga pun semakin harmonis. Namun, terkadang kebahagiaan memang tak selaras dengan keabadian. Sejak punya anak, Jojon mengajak Wati tinggal di rumahnya bersama keluarga. Sebagai istri, Wati pun menurut. Menginjak tahun kedua pernikahan, sikap Jojon tak lagi harmonis saat awal berumah tangga. Lah, kok begitu Teh?

“Saya juga merasa aneh. Bukan cuma suami, tapi sikap keluarga dia juga beda. Setiap hari kayak dipojokin gitu,” curhatnya.

Tak ada lagi tegur sapa, tak ada obrolan hangat menjelang senja. Keberadaan Wati bagai patung yang tak bernyawa. Pokoknya, apa yang ia lakukan tak pernah dipandang baik keluarga. Sampai suatu ketika, selayaknya rumah tangga pada umunya, Wati bertanya baik-baik pada sang suami.

Dibawanya Jojon ke kamar dan berbicara empat mata. Tapi, apesnya, bukannya mendapat jawaban yang jelas, Wati justru dimarahi habis-habisan tanpa alasan. Bodohnya, waktu itu ia mengira kalau apa yang terjadi pada Jojon hanya efek kelelahan sepulang bekerja.

Sampai suatu hari, mungkin tak tahan dengan sikap sang suami, Wati dengan sikap tegasnya kembali meminta kejelasan. Lagi-lagi, sang suami membentak, keributan pun terjadi. Seolah tak peduli pada keberadaan orangtua, Wati berani adu mulut sambil berteriak. Ya ampun.

“Ya sudah kayak begitu mah saya enggak mikir malu-malu lagi. Dia seolah sudah enggak mengharapkan saya lagi,” tukasnya emosi.

Tak disangka, di puncak tingkat amarahnya, Wati mengatakan sesuatu yang ditakuti setiap pasangan. Perceraian. Saat itu juga, ia berhasil membungkam mulut sang suami. Wati keluar rumah, pulang mencari ibunya dan memeluk erat sambil menangis histeris.

Parahnya, seolah tak ingin ikut campur pada masalah anaknya, ayah dan keluarga Jojon cenderung diam dan tak peduli. Mungkin lantaran malu, ditambah perasaan yang tak dapat dikendalikan, Jojon pun pergi entah ke mana. Sejak saat itu, hubungan keduanya jauh dari kata mesra.

Sampai seminggu kemudian, tak disangka, Wati serius mengurus perceraian. Melewati proses persidangan yang cukup menguras tenaga, waktu, dan biaya. Mereka berpisah untuk selama-lamanya. Ya ampun, sabar ya, Teh!

“Sabar banget, Kang. Kesalnya tuh, pas saya minta cerai juga respons dia biasa saja. Kayaknya dia memang sudah ingin pisah,” tukas Wati.

Berjalan setahun setelah perceraian, perlahan Wati mulai bisa melupakan sosok Jojon yang sudah melukainya. Semua kenangan itu ia buang jauh jauh dalam pikiran. Meski begitu, pada akhirnya, perih itu masih terasa ketika terdengar kabar Jojon akan menikah dengan teman semasa SMA, yang tak lain ialah teman Wati juga. Astaga, kok bisa sih, Teh?

“Saya juga awalnya enggak menyangka, tapi kata orang-orang sih, bapaknya dia memang sudah merencanakan kalau anaknya bakal dinikahkan sama taman saya itu,” terang Wati menutup perbincangan.

Ya ampun, semoga Teh Wati diberi jodoh yang lebih baik dan hidup bahagia. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)