Nonton Cilegon United Vs PSS Sleman, Edi Pakai Anggaran Dinas

Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi saat menjadi saksi kasus suap rekomendasi amdal pembangunan Mall Transmart pada sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, di Pengadilan Tipikor Serang, Kota Serang, Rabu (7/3).

SERANG – Pertandingan antara Cilegon United (CU) vs PSS Sleman di Jogjakarta pada 20 September 2017 dihadiri rombongan pejabat Pemkot Cilegon. Biaya akomodasi menonton pertandingan tersebut diakui Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi memakai anggaran perjalanan dinas.

“Satu rombongan (menonton-red), ada Kadis Perkim, mantan Kacab bjb (Bank Jabar Banten-red). Akomodasi dan transportasi tidak dari kantong CU,” kata Edi Ariadi di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (7/3).

Edi Ariadi hadir sebagai saksi untuk ketiga terdakwa suap rekomendasi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pembangunan Mall Transmart. Ketiga terdakwa, yaitu Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi, mantan kepala Dinas Penamanan Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon Akhmad Dita Prawira, dan Hendri. “Nonton CU vs PSS Sleman sebagai penonton saja. Saya secara kedinasan, ada undangan, saya akan melihat ke sana. Saya akan berkunjung ke Sleman dengan anggaran perjalanan dinas,” ungkap Edi di hadapan majelis hakim yang diketuai Efiyanto.

Edi mengaku, tidak termasuk dalam struktur kepengurusan CU, kendati disebut sebagai Presiden CU. Sehingga, soal dana sponsorship sebesar Rp1,5 miliar dari PT  Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) dan PT Brantas Abipraya (AB), Edi tidak mengetahuinya. “Saya tahu itu setelah kejadian. Ketika perjalanan ke Sleman, tidak tahu sponsorship,” kata Edi.

Kedatangan rombongan Pemkot Cilegon ke Sleman, Jogjakarta, sebagai bentuk dukungan Pemkot Cilegon kepada CU. Selain itu, Edi mengaku, mengimbau kepada dinas di Pemkot Cilegon untuk memberikan sumbangan demi kemajuan CU. “Itu hanya (pemberian uang dari dinas-red) partisipasi sebagai penonton saja sesuai nilai karcis. Karena memang Pemda diminta membesarkan CU,” kata Edi dalam sidang yang dihadiri tim penuntut umum KPK yang diketuai Haerudin.

Terkait pembangunan Mall Transmart Cilegon, Edi mengaku, tiga kali ikut dalam pertemuan dengan PT KIEC. Pertama, pada April 2016. Dalam pertemuan itu, dipaparkan kerja sama antara PT KIEC dan PT TRI untuk pembangunan mal.

Pertemuan kedua berlangsung pada Juli 2017. Dalam pertemuan itu, PT KIEC memaparkan pembangunan gedung Mall Transmart dan undangan groundbreaking. “Paparan dari KIEC, yang hadir OPD banyak, Perkim, Ibu Sekda, Dinas Tenagakerja,” jelas Edi.

Pertemuan ketiga pada September 2017 di ruang kerja Iman Ariyadi. Pertemuan itu dihadiri oleh Dirut PT KIEC Tubagus Dony Sugihmukti, Manager Project PT BA Bayu Dwinanto Utomo, Akhmad Dita Prawira. “Kaitannya ingin segera membangun Transmart,” kata Edi.

Selain Edi, KPK juga menghadirkan enam saksi lain. Di antaranya, GM Keuangan PT KIEC Siti Nafisa, Manajer CU sekaligus Direktur PT Cilegon Putra Mandala (CPM) Yudhi Apriyanto, Pengurus PSSI Yunus Nusi, Sales Officer PT CPM Charlie Irawan, karyawan PT CPM As’ari, dan Sales PT Yokogawa Wahyu Ida Utama.

Sementara, Siti Nafisa menerangkan permohonan sponsorship CU telah sesuai prosedur yang ada di PT KIEC. Dana sponsorship sebesar Rp700 juta itu diambil dari pos anggaran marketing PT KIEC. “Timbal baliknya, logo akan dipasang di lengan dan billboard. Untuk pencairan dana, disposisi saja dari direktur HRD dan keuangan (PT KIEC-red),” kata Siti.

Saksi lain, Yudhi Apriyanto mengaku, pada 19 September 2017 CU menerima dana sponsorship dari PT KIEC sebesar Rp700 juta dan dari PT Sugar Utama Jaya (SUJ) sebesar Rp20 juta. Dana itu diterima di rekening milik CU.

“Total Rp722 juta di dalam rekening. Hari yang sama oleh As’ari dan Wahyu Ida diambil Rp720 juta. Serahkan ke bendahara yang mengatur untuk kebutuhan. Diambil Haryono ke Sleman Rp350 juta. Sisanya di-keep (simpan-red) ke rekening PT CPM,” jelas Yudi.

Dana Rp350 juta itu digunakan membeli tiket pesawat, bonus, dan akomodasi pemain. Sisanya, Rp75 juta diberikan kepada Yunus Nusi dari PSSI sebagai jasa konsultan. “Rp20 juta ada di saya,” ucap Yudhi.

Diakui Yudhi, penarikan uang tunai seluruhnya dari rekening CU dan dipindahkan ke PT CPM untuk memudahkan penarikan. “Kalau rekening ke BJB, sulit sekali untuk diambil. Karena kebutuhannya kan day to day,” jelas Yudhi.

Dikatakannya, selama ini ia tidak pernah melaporkan kondisi keuangan CU kepada Iman Ariyadi sebagai pembina. Termasuk, uang yang ditransfer dari rekening CU ke rekening PT CPM. (Merwanda/RBG)