Nurul Anwar di depan lukisannya.

MELUKIS sudah digemari Nurul Anwar sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar (SD). Kegemarannya itu membuat Lingkungan Ramanuji Baru, Kota Cilegon, menjadi lebih indah dengan aneka gambar warna-warni.

Meski matahari terik di atas langit, Nurul Anwar tetap terus menggoyangkan kampasnya menjadi sebuah lekukan dan lekukan lain sehingga membentuk satu karya lukis yang indah. Karya itu dibuat oleh Nurul di tembok-tembok rumah warga di RT 04 RW 09,  Lingkungan Ramanuju Baru, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon.

Bermacam-macam tema yang dilukis laki-laki yang akrab disapa Mas Nur itu. Antara lain, hewan, tumbuh-tumbuhan, pemandangan alam, sayap burung, dan kupu-kupu yang dikhususkan untuk swafoto. Aneka tema lainnya menyesuaikan keinginan si pemilik rumah.

Keberagaman gambar serta warna itu membuat permukiman yang dihuni 89 kepala keluarga (KK) itu sedap dipandang dan istagrammable alias cocok untuk swafoto.  Berkat goresan tangannya itu, membuat lingkungan Ramanuju Baru  dikenal masyarakat luas dan menjadi destinasi wisata baru di Banten.

Mas Nur mengaku senang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk memperindah lingkungan dengan karya seninya itu. Mas Nur merasa mendapatkan keberuntungan yang luar biasa karena selain bisa menyalurkan hobi, pria kelahiran 7 Februari 1975 itu mendapatkan upah dari pemilik rumah.

“Karena saya juga warga sini jadi tidak mahal. Kalau berapanya, tanya saja ya ke Pak RT, saya tidak enak,” tutur Mas Nur, Jumat (6/4).

Terkait kemampuan melukisnya, Mas Nur mengaku sudah bisa sejak kecil. Pria berperawakan kurus itu menduga kemampuannya merupakan warisan dari kakek buyutnya. Mas Nur bercerita, kakek buyutnya merupakan seorang pelukis. Kemampuan itu kemudian turun ke kakeknya dan sejumlah saudaranya.  Namun, tidak semua saudaranya menekuni seni. Hanya ia saja yang sampai saat ini masih melukis, baik pesanan orang lain maupun untuk dirinya sendiri.

Bapak satu itu mengaku, tidak berhenti melukis sejak lulus sekolah tingkat menengah pertama di daerah asalnya di Desa Leweng Bata, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Berebes, Jawa Tengah.

Bahkan saat ia memutuskan untuk merantau bersama ayahnya ke Bandung pada 1985, ia tetap melukis. Meski Mas Nur berjualan mi ayam, tetapi hobi melukis terus dijalani. Bahkan, uang yang dia dapatkan dari berjualan digunakan untuk membeli buku gambar dan keperluan lukis.

Awalnya, melukis digelutinya di atas kertas menggunakan pensil. Objek yang digambar adalah wajah-wajah seseorang hingga menghasilkan sebuah sketsa yang sangat mirip dengan aslinya. Selain wajah manusia, hal apa pun ia lukis, bergantung pada inspirasi dan suasa hatinya pada saat itu.

Pada tahun 1995,  ia memutuskan merantau ke Kota Cilegon, ikut dengan pamannya. Berjualan mi ayam masih digeluti saat itu. Namun, sama seperti di Bandung, melukis juga tidak ditinggalkan. Bahkan di Kota Baja, ia mulai menjadikan bakatnya itu sebagai salah satu sumber penghasilan.

“Tahun 1997 di Cilegon ada rumah makan yang minta dibuatkan tulisan, saya juga kan suka menulis, terus bikin reklame rumah makan,” tuturnya.

Karena melukis dinilainya belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, berjualan mi ayam tetap dilanjutkan. Mas Nur libur berjualan jika ada orderan untuk melukis. Hal itu terus dilakukan hingga 2013, saat ia tinggal di kampung halaman sang istri, yaitu di Lubuklinggau.

Dua tahun di Lubuklinggau, tahun 2016, Mas Nur memutuskan kembali ke Kota Cilegon. Niat awal untuk berjualan mi ayam, tetapi niat itu tidak berlangsung lama karena ia memutuskan mendedikasikan hidupnya di dunia lukis.           “Karena melukis di tembok sudah saya jalani sejak 2008, jadi sekarang saya sudah tidak kaget lagi kalau ada yang minta lukis di tembok,” tuturnya.

Selama ini, paling banyak orderan melukis di tembok berasal dari sekolah TK. TK di Warnasari yang pertama kali meminta untuk dilukis. “Saya sempat melukis di studio, awalnya dari melukis di TK itu, ada tukang lukis studio mengajak kerja sama,” tuturnya.

Disinggung terkait tarif jasanya untuk melukis di rumah maupun di bangunan-bangunan lain, suami Evi Mayana itu mengaku, tidak mematok tarif mahal. Dengan sistem harian, per hari untuk tetangga, Mas Nur mematok harga Rp130 ribu, sedangkan orang lain bisa Rp200 ribu, bergantung pada tingkat kesulitan lukisan.

Sistem lain, yaitu dengan mekanisme borongan. Harga yang dia patok bisa mencapai Rp6 juta. “Tergantung ukuran dan kerumitannya. Kalau pengerjaan, paling lama setengah bulan,” katanya.

Terkait melukis di lingkungannya, hal itu sudah dilakukan selama dua bulan lebih. Ada sekira 103 rumah yang dilukisnya. “Namanya juga hobi, dikerjakan sendiri juga senang-senang saja,” tuturnya.

Mas Nur berharap, Kampung Lukis Ramanuju Baru bisa lebih dikenal lagi oleh masyarakat umum dan banyak orang yang menggunakan jasanya. Mas Nur menilai, yang dilakukannya itu sebagai ajang promosi kemampuan.

Nana Usmana, warga di lingkungan itu menilai sosok Mas Nur sebagai sosok yang apa adanya, periang, dan humoris. Selain itu, Mas Nur merupakan sosok yang serba bisa. Kemampuan lain yang dikuasai oleh Mas Nur menurut Nana adalah di bidang las, memasak, dan bangunan.

“Saya kenal sejak tahun 2010, kebetulan waktu itu dia pelukis di tempat kerja saya untuk melukis studio. Nyambung dengan saya, saya juga seni tapi di fotografi,” tuturnya.

Kesamaannya itu membuat Nana dan Mas Nur sering berbagi dalam beberapa hal. Khususnya berkaitan dengan seni. Pria asal Kampung Ciwangi, Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang itu mengaku, senang dengan apa yang telah dibuat oleh teman kerjanya di salah satu studio foto di Kota Cilegon itu. Karena, saat ini, lingkungan tempat tinggalnya terlihat indah dan bersih. Selain itu, makin dikenal oleh banyak orang. Nana berharap, kawan yang sudah bersamanya sejak tahun 2010 itu bisa dikenal oleh publik dan banyak orang yang menggunakan jasanya untuk memperindah rumah dan lingkungannya.

Ketua RT 04 Sarjoko menilai, Mas Nur merupakan sosok baik dan bisa diajak kompromi dan bermusyawarah.  Kampung Lukis merupakan ide dirinya. Awalnya, Sarjoko ingin membuat lingkungan menjadi hijau, tetapi atas saran sang istri, Sarjoko memutuskan untuk membuat Kampung Lukis dengan menggunakan bakat Mas Nur.

“Istri saya diceritain Pak Nana kalau dia itu pintar lukis, terus saya samperin ke rumahnya dan diajak ngobrol. Pertama rumah saya yang dilukis,” tuturnya.

Menurutnya, ide itu tidak langsung diterima masyarakat, tapi setelah melihat cotoh rumahnya dan sejumlah rumah warga, warga lain pun mau.

Untuk melukis lingkungan, Mas Nur dibayar Rp150 per hari. Uang untuk membayar dan membeli cat merupakan hasil dari iuran warga. “Saya berharap lingkungan ini bisa jadi contoh bagi lingkungan lain dan untuk dia bisa lebih terkenal lagi,” tuturnya. (BAYU MULYANA)