Nyambi Jadi Pengedar Narkoba, Pemandu Lagu Dibekuk Polisi

MENUNDUK: Anik Setyowati, pemandu lagu sekaligus bandar besar sabu-sabu, yang diringkus Petugas Satnarkoba Polresta Mojokerto bersama 12 pengedar lainnya selama April lalu. (Farisma/Radar Mojokerto/JPG)

TINGKAT peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Kota Mojokerto semakin tak bisa ditoleransi. Betapa tidak, 12 pengedar sukses dibekuk petugas Satnarkoba Polres Kota Mojokerto selama sebulan terakhir di tiga kecamatan berbeda. Mereka terbagi menjadi empat jaringan pengedar sabu-sabu (SS) yang selama ini menyuplai para konsumen dalam jumlah besar.

Tak tanggung-tanggung, dari penangkapan itu, petugas berhasil mengumpulkan total 40 gram SS. Mereka pun dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Empat jaringan itu adalah Mustafa, 44, tukang parkir yang tinggal di Kranggan, Kota Mojokerto. Pada 6 April lalu, dia tertangkap basah petugas saat digerebek di rumahnya dan ditemukan 0,25 gram SS. Penangkapan itu sekaligus membawa rekannya Suiwan, warga Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, yang saat itu datang ke rumah Mustafa untuk membeli SS.

Lalu, jaringan kedua adalah bandar besar Anik Setyowati, 34, warga Gedeg, Kabupaten Mojokerto, yang diringkus petugas saat akan bertransaksi di Jalan Wachid Hasyim pada 24 April lalu. Tak tanggung-tanggung, perempuan yang bekerja sebagai pemandu lagu tersebut kedapatan membawa 15,5 gram SS yang hendak dibeli tiga pengedar di bawahnya.

Penangkapan tersebut sekaligus membuka celah terhadap tersangka lain. Yakni, Dendi Desan, 19, dan Ali Busro, 42, warga Sumobito, Jombang, yang berhasil diringkus di rumah kos di Jalan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon.

Selang beberapa jam dari penangkapan Anik, petugas menemukan Fajar Eko Susanto, bandar SS yang biasa menyuplai para penghuni kos di sekitar wilayah kota. Warga Balongrawe Baru, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, itu dicokok petugas saat akan bertransaksi di rumah kos yang tak jauh dari kediamannya. Dari tangan tersangka, petugas berhasil menyita 12,24 gram SS siap edar.

Jaringan terakhir adalah Nur Ahmad, 30, warga Desa/Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, yang tertangkap petugas polsek di rumah kontrakan yang tak jauh dari kediamannya. Dari tangan tersangka, petugas menemukan 0,94 gram SS sekaligus mengungkap satu pengedar lain. Yakni, Heri, 35, warga Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, yang membawa 1,88 gram SS.

Kapolres Kota Mojokerto AKBP Puji Hendro Wibowo menyatakan, dari hasil pemeriksaan sementara, empat jaringan pengedar SS tersebut tergolong sebagai jaringan dan bandar besar untuk kelas Kota Mojokerto. Mereka ditengarai masuk ke jaringan pengedar antarkota/kabupaten sebagai pemasok SS untuk diperjualbelikan.

’’Masih kami dalami terus, baik jaringan di atasnya maupun di bawahnya. Yang jelas, kami ingin ciptakan service city atau pelayanan masyarakat sesuai dengan tupoksi. Yaitu, menindak kejahatan narkoba,’’ terangnya.

Puji berjanji terus mengusut dan mengurai tuntas jaringan peredaran narkoba apa pun jenisnya. Sebab, bukan tidak mungkin, ada jaringan pengedar lain yang masih saling terkait sesuai dengan sepak terjang masing-masing.

Pihaknya juga tak akan tebang pilih dalam memberikan sanksi hukum terhadap tersangka. ’’Biasanya, SS dijual Rp 600 ribu dan mereka mendapat untung Rp 300 ribu. Luar kota biasanya disuplai dari Pasuruan, Jombang, dan Sidoarjo,’’ tambah Kasatnarkoba Polresta Mojokerto AKP Hendro Soesanto.

Atas perbuatannya, tersangka kini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. Saat ini, petugas terus mengembangkan bandar besar di balik penyuplai Anik yang mengaku mendapatkan barang haram tersebut dari seseorang di Pasuruan. (far/abi/c21/end)