Nyaris Udahan, Untung Dapat Warisan

Kehidupan rumah tangga Roni (37), nama samaran, bagai sayur tanpa garam dengan istrinya, sebut saja Wati (35). Karena mencari nafkah dengan menjadi pegawai toko perabotan milik orangtua istri, Roni menjadi bahan ejekan saudara-saudara istri. Untung Roni dapat warisan sehingga rumah tangganya yang nyaris kandas dapat rujuk kembali. Penasaran dengan kelanjutan ceritanya, kita simak, yuk!

Kejadian itu terjadi sekira lima tahun lalu. Kini, Roni justru menjadi pemilik toko perabotan itu, hasil penjualan tanah warisan orangtua. Keduanya kini hidup bahagia dan sejahtera.

“Ya malulah disangkanya parasit karena hidup dari warisan keluarga istri. Makanya, lebih baik pergi daripada enggak punya harga diri,” ucapnya. Berapa sih harga diri!

Roni kini menjalani profesi sebagai pedagang di Pasar Cilegon meneruskan usaha orangtua istri. Sejak toko diwariskan ke istrinya dan dikelola oleh Roni, mereka dianggap penyebab masalah di keluarga istri. “Kalau gitu terus (disalahkan-red), saya enggak kuatlah,” keluhnya. Sabar, Bang.

Padahal, Roni terbilang loyal terhadap keluarga istri dari sejak menikah. Ia sering membantu keluarga istri dalam segala urusan. Namun, selama lima tahun berumah tangga, jasanya tak pernah dianggap.Tentu saja semua itu karena persoalan warisan. Beberapa kali Roni dilecehkan saudara-saudara Wati karena hidupnya masih menumpang. Namun, apa daya, Roni mencoba bertahan karena memang tidak mempunyai uang dan pekerjaan saat itu.

Ditemui Radar Banten di Pasar Cilegon, Roni curhat panjang lebar tentang kegelisahannya dulu berumah tangga yang diselingi campur tangan keluarga istri. Roni mengaku terlahir dari keluarga cukup berada. Namun, ia hanya lulusan sekolah dasar (SD) karena dulunya malas sekolah. Ia pun menyesali tingkahnya dulu yang membuatnya kesulitan mencari pekerjaan menjelang dewasa.

“Saya menyesal dulu enggak mau sekolah. Padahal orangtua saya dulunya kaya,” akunya bangga. Kayak apa tuh?

Roni berperawakan kurus tinggi, dagunya berjanggut. Sepintas wajahnya terlihat sangar, tetapi aslinya orang yang ramah. Siapa sangka jika Roni termasuk tipe suami takut istri. Kebetulan sifat istrinya kan galak. Maklum, Wati anak bontot dari empat bersaudara. Kakaknya laki-laki semua. Wati terbiasa membentak dan mengamuk ketika sedang emosi. Namun, ada kelebihan Wati di balik itu. Roni sangat menyayangi Wati karena wajahnya yang cantik, selain penampilannya yang modis.

“Pas punya anak aja badannya (merujuk ke Wati-red) melebar. Tapi, saya tetap bersyukur,” ucapnya. Yang penting masih caem, Bang.

Berdasarkan cerita Roni, Wati yang sekarang lain dengan Wati yang dulu dikenalnya ketika masih muda. Mereka dipertemukan melalui peran teman. Awal-awal bertemu, sikap Wati baik dan perhatian. Selain cantik, tubuhnya juga ideal. Maka, tak heran Roni tergila-gila pada pandangan pertama dibuatnya. Lantaran itu, Roni ngebet ingin meminang Wati untuk dijadikannya pendamping hidup.

Tiga bulan pasca perkenalan, Roni nekat melamar Wati meski masih berstatus pengangguran. Mereka menikah dengan gelaran pesta cukup meriah. Sayangnya, kemeriahan pesta sebagian besar biaya keluarga Wati. Kebetulan Wati berasal dari keluarga berada. “Ya sempat dipermasalahkan juga soal mahar pernikahan. Untungnya enggak sampai gagal menikah,” ujarnya. Minta berapa sih maharnya?

Mengawali rumah tangga, Roni banyak menghabiskan waktu di rumah karena belum punya pekerjaan. Melihat kondisi itu, kakak Wati yang sudah mapan sering menyindir rumah tangga Roni dan Wati. Beruntung Roni selalu dibela Wati. Mungkin karena masih hangat-hangatnya. Namanya juga pasangan baru. Karena pembelaan Wati, Roni mulai masa bodoh dan tak ambil pusing pada omongan kakak iparnya dan hanya fokus terhadap Wati.

“Awal-awal dia (Wati-red) manja banget, apalagi pas di ranjang, gitu lah. Paham kali,” gurau Roni. Iya sih, Bang.

Setahun berumah tangga, Roni dan Wati dikaruniai anak. Saat itu, kebetulan Ibu Wati yang menjaga toko di pasar mulai sakit-sakitan. Ibu mertua pun meminta Roni menggantikannya menjaga toko. Namun, amanah ibunya itu justru membuat geram semua saudara Wati yang menginginkan toko dijual dan hasilnya dibagi-bagi.

“Makanya, mereka benci ke saya karena dipercaya mertua,” kesalnya.

Sejak itu, keributan antar keluarga Wati dan keluarga kakak-kakaknya tak terelakkan. Selama bertahun-tahun Roni menjadi bahan rundungan saudara-saudara Wati. Sampai akhirnya, Roni meninggalkan tokonya karena tak kuat menahan emosi. Roni pun pulang ke rumah orangtuanya dan mengadukan masalah tersebut.   Bahkan, Roni sempat pisah ranjang dengan Wati gara-gara masalah itu selama satu tahun. Untungnya Wati langsung meminta maaf atas perlakuan saudaranya dan rujuk kembali. Orangtua Roni yang tidak terima anaknya dilecehkan, langsung menjual tanahnya dan uangnya diwariskan kepada Roni untuk membeli toko yang dikelola mertuanya. “Saya beli Rp100 juta tuh toko. Uangnya dibagi-bagi saudara istri,” katanya.

Setelah kejadian itu, Roni mengajak Wati pindah rumah, tinggal bersama keluarganya. Hubungannya dengan keluarga istri sampai saat ini merenggang. Namun, mahligai rumah tangga dengan Wati tetap terjaga. “Kalau sudah jadi punya sendiri kan enak. Mau hidup susah bagaimana pun, enggak ada yang nyinyir,” tukasnya. Benar tuh. Untung ada warisan ya, Bang! Selamat deh. (mg06/zai/ira)