Obati Cemburu Kok dengan Selingkuh? (Bag 1)

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Benarkah cemburu itu bumbu cinta? Mungkin ada benarnya, tapi rasa cemburu juga merupakan sumber masalah terbesar pada kasus-kasus perceraian. Bagaimana pun juga, cemburu merupakan emosi yang merujuk pada pikiran negatif. Terlebih perasaan tersebut merupakan campuran dari rasa marah, sedih, sekaligus ketakutan akan kehilangan pasangan.

Bahkan perbedaan cemburu dengan iri hati itu lumayan beda-beda tipis. Seperti yang terjadi dengan pasangan Bokri (32) dan Raiso (28), keduanya nama samaran. Gara-gara Raiso yang sering bergaul dengan banyak pria, Bokri akhirnya cemburu. Gara-gara cemburu, Bokri cari pelampiasan dengan cara berselingkuh. “Saya cemburu dengan Raiso, kok dia bisa sebebas itu bergaul dengan teman-teman lelaki. Akhirnya saya iri, bukan dia saja yang bisa begitu. Makanya saya selingkuh,” begitu pengakuan Bokri.

Karyawan salah satu perusahaan swasta di Cilegon ini sering panas hati setiap kali melihat keakraban Raiso dengan teman-temannya. Bagaimana tidak, ketika ada yang tepuk bokong Raiso malah tertawa, bahkan tidak jarang ada yang memeluk erat saat bertemu di jalan.

Walah, gimana enggak panas hati suami kalau cara bergaul istri seperti itu? Itu sih namanya pergaulan bebas, jelas saja suka bikin gondok hati. Namun pada kasus ini, Bokri sempat memaksakan diri untuk mengerti dunia Raiso. Maklum, Raiso itu kerja di sebuah tempat hiburan. “Karena kerjanya di tempat hiburan, ya bergaulnya seperti itu, bebas dan bikin gondok,” ujarnya.

Bokri memang pantas untuk curhat securhat-curhatnya. Sebab pengalaman berumah tangga dengan Raiso selama hampir tujuh tahun cukup menyakitkan. Ia menceritakan jika Raiso sejak pertama ia kenal memang wanita nakal. Dia sering ganti-ganti pacar, bahkan selingkuh sudah menjadi standar pergaulan hidupnya. “Punya pacar ini, tapi masih tidur dengan si itu. Ya kayak-kayak gitu lah,” terangnya.

Bokri sebenarnya salah satu selingkuhan Raiso. Ia tidak keberatan menyandang gelar sebagai selingkuhan Raiso, karena menurutnya menyenangkan. “Namanya juga masih muda, ada perempuan bisa diajak ke kamar ya mau-mau aja. Mau disebut selingkuhan juga masa bodoh. Itu yang saya pikirkan waktu itu,” tuturnya.

Bokri menyangka dirinya pintar, padahal Raiso menilai Bokri polos dan mudah dipengaruhi. Tidak jarang Raiso memperalat Bokri untuk berbuat sesuatu, misalnya minta antar jemput atau meminjam sejumlah uang. “Kalau dia minta tolong, ya saya kasih tolong. Toh gimana-gimana dia kan ada hubungan sesuatu dengan saya. Meskipun saat itu hubungan kami tidak terlalu jelas,” terangnya.

Pada suatu waktu, Raiso tersandung batu. Entah karena perbuatan siapa, Raiso telat datang bulan selama beberapa pekan. Ow ow ow, Raiso kebingungan mencari ayah dari jabang bayi. Gimana enggak bingung, pacaranya kan banyak sekali.

Dalam posisi terjepit, Raiso menekan tombol panik. Dia langsung membabi buta untuk mencari lelaki yang mau bertanggung jawab. Dari semua lelaki yang Raiso datangi, tidak ada satu pun yang merasa bertanggung jawab. Akhirnya Raiso memelas kepada Bokri untuk mau dinikahi. “Raiso datang kepada saya, dia memohon agar saya mau menikah dengannya. Setidaknya sampai si bayi lahir. Raiso enggak mau dia melahirkan tanpa suami,” tuturnya.

Berbeda dengan pacar-pacar Raiso, Bokri si selingkuhan mau menerima pinangan Raiso. Dalam benak Bokri, ia telah menjadi pahlawan untuk Raiso. “Kasihan juga kalau didiamkan. Makanya saya mau menikahinya,” terangnya.

Namun Bokri tidak begitu saja menerima pinangan Raiso. Dia meminta sejumlah syarat, salah satunya agar Raiso meninggalkan dunia gelap malam alias dugem. “Saya minta syarat, Raiso menerima,” tuturnya. Bersambung…