Obsesi Tukang Tambal Ban Mendapatkan Janda Muda Berujung Derita

Istilah dunia hanya kenikmatan sementara tampaknya sangat diresapi Dadi (29), bukan nama sebenarnya. Bagaimana tidak, terlahir dari keluarga tak punya, ia kerja keras banting tulang untuk mengubah nasib. Sang ayah yang hanya tukang tambal ban tak mampu membiayai sekolahnya.Terpaksa, Dadi meneruskan profesi orangtua.

Derita terasa semakin menyiksa ketika Dadi jatuh hati kepada wanita yang tak biasa. Entah ada kelainan atau memang takdir, ia sangat menginginkan bisa menikah dengan janda muda beranak satu, sebut saja Ayu (31). Ya meski usia tak jauh berbeda, masa sih perjaka mau sama janda?

“Saya enggak peduli sama yang namanya janda atau perawan, Kang. Kalau sudah cinta mah kan susah,” kata Dadi kepada Radar Banten.

Parahnya, seolah tak ingin dibilang wanita bodoh, Ayu sang janda justru mengabaikan sosok Dadi. Berkali-kali didekati, ia selalu menghindar dan malah mengumbar kata-kata cacian. Anehnya, mungkin ini yang dinamakan cinta itu buta, Dadi tetap saja mengejarnya.

Aih, memang dia ngomong apa, Kang?

“Saya anggap semua caciannya sebagai motivasi, Kang. Dibilang lelaki miskin, orang susah, pengangguran, semua bisa saya terima,” curhatnya.

Seperti diceritakan Dadi, Ayu adalah kakak kelasnya sewaktu SD. Ketika masuk SMP, ia tak bisa lagi setiap hari bertemu dengan wanita pujaan hatinya itu. Hanya bisa memandangi sepulang sekolah dari kejauhan, Dadi semakin tak kuat menahan perasaan.

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa Ayu sudah lulus SMA. Sementara, Dadi masih bekerja sebagai tukang tambal ban yang mengagumi sang wanita secara diam-diam. Hingga di suatu siang, bagai didatangi bidadari dari kayangan, Dadi menyambut Ayu yang tengah kesusahan mendorong motornya.

“Kang, tolong ditambal ya, bannya bocor,” kata Ayu waktu itu.

Tanpa basa-basi, Dadi langsung mengerjakan sepenuh hati. Setelah selesai, ia menolak menerima bayaran, tetapi Ayu tetap memaksa untuk membayar, terjadilah percakapan. Ayu mengucapkan terima kasih dengan senyum manisnya, sedangkan Dadi melayang bahagia. Cie…

Namun, harapan hanya tinggal kenangan, dua minggu setelah pertemuan itu Dadi mendapati undangan di meja makan. Matanya terbelalak, napasnya tiba-tiba terasa berat, detik itu juga ia serasa ingin pergi dari rumahnya sejauh mungkin. Di undangan pernikahan itu, tertulis nama sang pujaan hati yang akan dipinang oleh seorang lelaki.

“Padahal, saya sudah niat ingin datang ke rumahnya, eh ternyata keburu ditinggal nikah,” kata Dadi lemas.

Sakit hati yang mendalam sempat membuatnya tak lagi bersemangat menjalani hari. Bahkan, saat pesta pernikahan pun ia tak datang. Hingga orangtua dan saudara datang menasihati, barulah Dadi mau beraktivitas seperti biasa lagi.

Setahun kemudian terdengar kabar Ayu melahirkan anak pertama. Anehnya, Dadi masih tak bisa melupakan sang wanita dengan mudah. Seperti terkena guna-guna, bayang wajah Ayu selalu datang setiap malam. Tersiksa akan keadaan, ia sering menghabiskan waktu hanyut dalam lamunan.

Hingga berita menggemparkan itu datang. Entah karena sebab apa, Ayu bercerai dengan suaminya, ia menjadi janda muda. Pucuk dicinta ulam tiba, Dadi menganggap semua ini adalah anugerah. Kembali bersemangat mengejar cinta sang janda, Dadi mulai strategi mendekatinya.

Namun apalah daya, bukannya mendapat cinta, Dadi malah dihina. Profesinya yang hanya tukang tambal ban membuat Ayu malu kalau harus membangun rumah tangga. Berharap sang janda akan menerima, Dadi kembali menderita.

Tak mau terus hidup susah, ia mencoba peruntungan dengan memulai usaha lebih besar. Meminjam uang kepada bank swasta, ia nekat memulai bisnis rental mobil. Membeli mobil-mobil bekas yang masih bagus, ia terlihat seperti orang kaya.

Beruntungnya, bisnis yang digeluti sempat menuai hasil. Meraup pendapatan yang lumayan dalam sebulan, Dadi mampu membangun ekonomi keluarga. Sang adik disekolahkan, orangtua dibelikan rumah, ia terus fokus bekerja membangun usaha. Hidupnya kini berubah.

Beuh, Kang. Pokoknya waktu itu saya lagi jaya-jayanya. Orang-orang kampung pada panggil saya bos,” ungkap Dadi bangga.

Hingga di suatu sore, hujan turun deras membasahi salah satu daerah di Kota Serang. Kebetulan ia melintasi pasar dan melihat Ayu yang sedang menunggu mobil angkutan. Tanpa ragu ia membuka pintu mobil dan menawarkan sang wanita ikut bersama. Jadilah keduanya menjalin percakapan.

Pertemuan sore itu menjadi awal dari pertemuan selanjutnya, Dadi dan Ayu semakin dekat. Hingga ia menyatakan rasa, Ayu pun menerima, keduanya menjalin asmara. Sering jalan berdua, mereka terlihat mesra.

Hem… ini sih namanya cinta karena harta, kok Kang Dadi mau saja?

“Waktu itu semangat hidup saya ya dia, enggak peduli orang ngomong apa, semua yang saya lakuin ya tujuannya buat dapetin dia,” kata Yadi.

Tak mau menunggu lama, Dadi dan Ayu siap melangkah menuju jenjang pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan pesta pernikahan yang digelar meriah, mereka bersiap mengarungi bahtera rumah tangga.

Namun, musibah datang tak terduga. Terlalu larut akan rasa bahagia mendapatkan sang janda, Dadi lengah dalam menjalankan bisnisnya. Tak sadar akan niat jahat seorang pelanggan, semua mobil sewaan yang jadi sumber penghasilan ludes dibawa kabur. Waduh.

“Semua KTP dan persyaratan yang dikasih palsu, perjanjian seminggu balik, ini sebulan lebih enggak datang lagi, ya sudah deh, hilang mobil saya,” tukas Dadi emosi.

Tak lagi punya penghasilan, Dadi terlilit utang. Banyak orang yang datang ke rumah mulai dari berbicara baik-baik sampai ada yang mengancam, semua menjadi beban. Parahnya, seolah tak mau ikut campur dalam permasalahan, sang istri yang baru beberapa bulan menjalin rumah tangga malah meminta perceraian.

Jadilah keduanya berpisah untuk selama-lamanya. Aih-aih, kasihan amat sih Kang. Ini sih namanya sudah jatuh tertimpa janda. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)