Kalau saja Tomo (49), bukan nama sebenarnya, tidak mengulur waktu menuruti kemauan selingkuhan, mungkin rumah tangga yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya tidak akan sirna. Menganggap ancaman sang wanita hanya bualan belaka, ia santai saja seolah tak punya dosa.

Padahal sang istri tercinta, sebut saja Odah (45), sering mewanti-wanti kalau ia sangat tidak senang diselingkuhi. Bahkan, setiap kali mereka duduk berdua sambil menikmati indahnya pemandangan kebun belakang rumah, Odah sering mengancam akan meninggalkan kalau sampai terjadi selingkuhan.

“Kalau masalah hidup susah bahkan enggak makan sekalipun, saya masih bisa terima. Tapi kalau sudah sampai berani main wanita, wah, lebih baik cerai saja,” begitu kata Odah kepada Radar Banten.

Odah bercerita, rumah tangganya bersama Tomo awalnya baik-baik saja. Mereka keluarga yang sempurna, lengkap dengan kehadiran tiga buah hati tercinta. Dua anak lelaki dan satu perempuan. Pokoknya, ia merasa manusia paling berbahagia di dunia.

Tomo lelaki baik, berpendidikan, dan berasal dari keluarga berada. Orangtuanya memiliki banyak usaha kontrakan di Kota Serang. Seolah menapaki jejak sang ayah, lelaki berperawakan tinggi kurus dengan kulit hitam nan tampan itu memiliki berbagai usaha, baik kontrakan maupun percetakan. Wih, hebat juga nih Kang Tomo.

Meski hidupnya bergelimang harta, tak membuat Tomo malas bekerja. Hal itu berkat didikan sang ayah yang sejak kecil selalu mengajarkannya berusaha. Anak kedua dari empat bersaudara itu menjadi salah satu anak kebanggaan orangtua. Wih, atuh beruntung dong Teh Odah dapat Kang Tomo?

“Ya awalnya sih saya juga merasa beruntung Kang, zaman sekarang siapa sih wanita yang enggak mau sama lelaki kaya. Tapi, ah, memang manusia mah enggak ada yang sempurna,” tukasnya.

Berbeda dengan Tomo, Odah berasal dari keluarga tak punya. Ayah dan ibunya hanya pedagang biasa di depan rumah. Meski begitu, ia bukanlah wanita biasa. Kecantikannya mampu menghipnotis lelaki pada pandang pertama. Wajah manis ala-ala gadis melayu, lengkap dengan hitam bola mata nan menggoda, membuat Odah banyak dikejar pria.

Meski sekolahnya hanya sampai SMA, dengan penampilan menarik dan sikap yang baik, membuat Odah tak kesulitan dalam mencari pekerjaan. Mulai dari pegawai di perusahaan swasta, sampai menjadi karyawan di toko waralaba, semua pernah ia rasakan.

Sampai akhirnya pertemuan membawa Odah pada takdir akan masa depan. Melalui peran seorang teman, ia dikenalkan dengan Tomo, lelaki yang waktu itu sedang dirundung pilu ditinggal sang kekasih. Berawal dari tegur sapa di media sosial, keduanya dekat seolah tak ada jarak.

Seiring berjalannya waktu, Tomo pun memberanikan diri menyampaikan isi hati. Tak disangka, Odah pun memiliki rasa yang sama. Dengan segenap kata cinta, mereka pun bersatu dalam asmara yang bagi keduanya seperti surga. Tak menunggu waktu lama, tiga bulan menjalani masa pacaran, Tomo langsung membuat keluarga berkunjung ke rumah Odah.

Singkat cerita, hari bahagia itu pun tiba. Mengikat janji sehidup semati, Tomo dan Odah resmi menjadi sepasang suami istri. Menggelar pesta pernikahan mewah, keduanya menyambut tamu undangan dari berbagai kalangan. Odah nan cantik bersanding dengan Tomo yang gagah, mereka pasangan serasi.

Di awal pernikahan, baik Odah maupun Tomo saling menjaga perasaan. Bersikap malu-malu tapi mau, mereka berusaha menunjukkan keharmonisan di hadapan orangtua dan seluruh keluarga. Tomo yang baik dan perhatian membuat Odah semakin hanyut dalam kebahagiaan.

Lima belas tahun kemudian, mereka dikaruniai tiga anak yang mulai beranjak remaja. Dengan segala problematika rumah tangga, baik Odah atau Tomo mampu menghadapi semua bersama. Namun apalah daya, meski hidup tercukupi, masih saja ada masalah yang datang menerjang.

Siang itu terdengar suara orang mengetuk pintu. Odah yang sedang  berusaha menenangkan sang buah hati yang menangis sambil menyusui, meminta anak kedua yang lelaki membuka pintu. Sekian detik kemudian, datanglah sang anak sambil mengatakan ada yang mencari ayahnya.

Rasa penasaran Odah semakin besar setelah sang anak berkata bahwa yang mencari ayahnya ada seorang wanita. Tak peduli pada tangis sang bayi yang semakin kencang, Odah menggendongnya menuju pintu depan. Ditemuilah seorang wanita dengan pakaian seksi. Waduh.

Seolah tak menghargai Odah sang pemilik rumah, tamu wanita itu bersikap ketus saat ditanya. Apalah daya, Odah pun mulai terpancing emosi. Bagai terserang petir di siang hari, sudah sang buah hati menangis tak henti-henti, ditambah tamu wanita tak jelas mencari sang suami. Aih-aih, memang dia ketus bagaimana sih Teh?

“Masa pas saya tanya ada perlu apa, dia jawab bukan urusan kamu. Kan konyol,” ungkapnya.

Odah pun membawa anaknya masuk kamar, ia kembali menemui sang tamu wanita yang saat itu tanpa disuruh sudah duduk di ruang tamu. Terjadilah adu mulut yang kemudian menciptakan kejelasan atas masalah yang terjadi. Bagai jatuh ke lubang sumur terdalam, Odah tak bisa menahan air mata ketika sang tamu wanita mengaku sebagai selingkuhan Tomo yang belum diberi jatah uang bulanan. Astaga.

“Waktu itu langsung saya usir dia, enggak peduli teriakannya bikin tetangga pada kumpul di depan rumah,” curhat Odah.

Hingga malam datang, ketika sang suami baru pulang bekerja, keributan tak dapat lagi dicegah. Odah mengamuk meluapkan emosinya. Meski awalnya sempat mengelak, ketika terus menerus didesak, Tomo pun mengakui perselingkuhannya. Apalah daya, keduanya pun berpisah untuk selamanya.

Duh, sabar ya Teh Odah. Lain kali kalau sudah punya suami lagi dan ada tamu wanita, lebih baik jangan dibukakan pintu, hehe. Semangat! (daru-zetizen/zee/ira/RBG)