Operasional Pusat Perbelanjaan Diperketat

Salah satu pusat perbelanjaan di Kota Cilegon yang akan menerapkan new normal, Senin (1/6).

CILEGON – Seiring dengan rencana pemberlakuan New Normal, operasional pusat perbelanjaan di Kota Cilegon diperketat oleh Pemkot Cilegon. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperind) Kota Cilegon pun memanggil manajemen sejumlah pusat perbelanjaan seperti CCM, Ramayana, Citymall, Giant, dan Edi Toserba untuk menyosialisasikan aturan main yang baru terkait aktivitas di dalam mall tersebut.

Kepala Disperind Kota Cilegon Abadiah menjelaskan, selama penerapan New Normal, batas maksimal pengunjung pusat perbelanjaan adalah 50 persen dari kapasitas gedung. Setiap manajemen harus membuat mekanisme untuk memastikan pengunjung yang berada di dalam gedung pusat perbelanjaan tidak lebih dari 50 persen kapasitas.

Ia mencontohkan, manajemen membuat sistem antrean atau tiketing bagi yang akan masuk ke dalam pusat perbelanjaan. “Misalnya, kalau kapasitasnya hanya 500 orang, pengelola membuat nomor antrean sampai 250. Jika antrean itu telah habis, maka yang di luar gedung tidak boleh masuk,” ujarnya.

Kemudian, pengelola harus melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala terhadap fasilitas publik di dalam gedung, misalnya eskalator. Selanjutnya, pengunjung wajib menggunakan masker. Bagi yang tak menggunakan dilarang masuk ke dalam gedung pusat perbelanjaan.

“Pengelola juga harus menyiapkan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer. Kemudian fasilitas hiburan untuk anak-anak belum dibolehkan,” ujar Abadiah.

Menghadapi New Normal, Senin (1/6) lalu, Pemkot Cilegon bersama unsur kepolisian dan TNI menggelar apel gabungan operasi pendisiplinan pelaksanaan protokol kesehatan di depan kantor Walikota Cilegon.

Apel disebut oleh Walikota Cilegon Edi Ariadi sebagai bentuk kesiapan Kota Cilegon dalam menghadapi new normal seperti yang diarahkan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Dalam sambutannya, Walikota Cilegon Edi Ariadi menjelaskan, Presiden meminta kepada pemerintah daerah untuk menyosialisasikan serta memberikan pemahanan kepada masyarakat tentang adaptasi perubahan pola hidup baru atau new normal.

New normal yang dimaksud adalah beraktifitas keseharian dengan disiplin menjaga protokol kesehatan. “Pertama menjaga jarak 1,5 meter, menggunakan masker, rutin mengukur suhu tubuh, menyiapkan fasilitas cuci tangan atau hand sanitizer, mengurangi 50 persen pengunjung di fasilitas publik, bagi perusahaan untuk melakukan disinfektan dan menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kerja,” papar Edi.

Pelaksanaan new normal untuk pertama difokuskan di tempat publik seperti pasar serta pusat perbelanjaan yang ada di Kota Cilegon. Kemudian, Pemkot Cilegon pun akan membagikan 2.500 masker kepada masyarakat.

Anggaran yang berasal dari refocusing APBD Kota Cilegon pun akan digunakan untuk mendorong penerapan kebiasaan baru tersebut. “Saya ingin seminggu sekali melakukan evaluasi, sudah berubah enggak,” tutur Edi.

Menurut Edi, semua elemen di Kota Cilegon harus berubah, harus mulai beradaptasi dengan protokol new normal, meskipun belum menyeluruh.

Penanganan Covid-19 menurut Edi akan suskes jika dilakukan secara bersama baik oleh pemerintah, penegak hukum, dan masyarakat. Ia berharap kerja sama baik dengan seluruh pihak sehingga bisa saling bahu membahu menyikapi bencana non alam tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Kapolres Cilegon AKBP Yudhis Wibisana menjelaskan, pelaksanaan kebijakan New Normal tidak sekadar seremonial. Menurutnya harus ada perubahan.

“Saya harap tidak sekadar launching, masuk ke media, besok tidak ada perubahan. Dilaunching atau tidak dilaunching harus ada perubahaan, harus ada action dari masing-masing stakeholder sesuai tugas masing-masing,” ujar Yudhis.

Ia melanjutkan, sasaran pelaksanaan New Normal sesuai yang diarahkan oleh Walikota Cilegon adalah di pasar dan mall di Kota Cilegon.

Di pasar, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Cilegon telah menetapkan protokol jual beli, misalnya tidak ada kontak langsung antaran pedagang dan pembeli.

Setelah apel tersebut, pelaksanaan protokol tersebut harus ditegakkan dan terus menerus.  “Apabila ada pasar yang bukan peruntukannya tolong ditertibkan oleh Dishub dan Satpol PP, dibantu TNI dan polisi, itu sebagai gebrakan awal,” ujarnya.

Sedangkan di pusat perbelanjaan, menurutnya, yang menjadi sasaran adalah di Cilegon Central Mall (CCM), Ramayana, dan City Mall.

Pelaksanaan penerapan serta pengawasan New Normal ini dilakukan secara preventif, edukatif, dan humanis. Kata Yudhis, jika ada sanksi bagi masyarakat yang tidak melakukan protokol kesehatan, sanksinya yang tidak melanggar hak asasi manusia. “Kejadian di Amerika Serikat diharapkan menjadi pelajaran terbaik bagi kita untuk memperlakukan masyarakat,” tuturnya. (bam)