CILEGON – Hasan Saidan, orangtua MF (9), pelajar yang jadi korban kekerasan oknum guru agama berinisial M, menyesalkan pernyataan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Cilegon Muhtar Gojali. Hasan mengaku, hingga kini dirinya dan keluarga tidak akan mencabut laporan terkait dengan tindak kekerasan yang telah dialami oleh puteranya itu. “Memang saya sudah bertemu dengan oknum guru dan kepala sekolahnya, yang mendatangi rumah saya pada malam hari setelah saya melapor ke polisi. Tapi saya katakan, secara pribadi dan keluarga, kami sudah memaafkan yang bersangkutan. Tapi untuk proses hukum tetap akan berjalan, tidak ada rencana kami mencabut laporan perkara itu,” ujarnya kepada radarbanten.com melalui sambungan telpon, Jumat (27/2/2015).

Ia menambahkan, kendati sudah mengajukan permintaan maaf kepada keluarganya, namun dirinya menduga langkah silaturahmi yang dilakukan oknum guru itu syarat dengan kepentingan. “Bisa saja dia (oknum guru-red) meminta maaf itu karena merasa sudah terjepit, dan berharap dapat meringankan tuntutan hukum. Tapi laporan itu kan jelas bukan delik aduan, tapi pelanggaran undang-undang. Jadi, gak mungkin kami cabut,” jelasnya.

Pelaporan oknum guru yang dilayangkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Cilegon itu, lantaran diduga telah melanggar Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Dindik Kota Cilegon Muhtar Gojali mengatakan, jalur musyawarah telah ditempuh antara Hasan Saidan dan oknum guru yang membuahkan kesepakatan untuk mencabut laporan tersebut. Belakangan, pernyataan itu segera dibantah oleh Hasan. Diketahui, tindak kekerasan pencubitan yang dilakukan oknum guru itu berawal dari MF yang mengaku lantaran lamban dalam pengerjaan tugas penulisan ejaan arab. (Devi Krisna)